Asa Arab Saudi Jadikan Kanal Air Kuno Firzan Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO
Kanal air kuno Firzan di Arab Saudi. (Twitter/@arabnews)

Bagikan:

JAKARTA - Dengan sejarah sekitar 2000 tahun, Pemerintah Arab Saudi tengah berusaha menambahkan saluran air bawah tanah kuno Firzan, sebagai situs ke tujuh dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

Terletak di barat laut Provinsi Al-Kharj, kanal sumur sepanjang lebih dari 7.000 meter ini digunakan untuk membawa air bawah tanah dari gunung di provinsi tetangga ke daerah pertanian.

"Tidak ada yang tahu persis dari mana nama ‘Firzan’ berasal, karena itu adalah nama yang sangat tua," jelas Dr. Farhan Al-Juaidi seperti mengutip Arab News 10 Agustus.

"Namun gunung terdekat, di mana sumber air berada, juga dikenal dengan nama yang sama," sambung profesor geografi di Universitas King Saud, Arab Saudi ini.

Sistem irigasi telah dikenal selama ribuan tahun dan kanal khusus ini berusia 2.000 tahun, katanya.

"Kanal air purba, yang membentang di area hampir 7 kilometer, dan penemuan lebih dari 5.000 kuburan pagan kuno, yang berasal dari era pra-Islam dan bahkan pra-Kristen, ditemukan di dekat gunung Firzan, memberikan kami bukti kehadiran manusia di kota-kota yang mungkin telah terkubur," paparnya.

Bukti lebih lanjut tentang sejarah daerah tersebut dapat ditemukan dalam beberapa puisi dari era pra-Islam. Al-Juaidi mengatakan, sistem irigasi khusus ini dibuat di bawah tanah, karena mereka yang menggunakannya jelas menyadari air akan menguap jika diangkut di permukaan tanah.

"Sistem irigasi ini adalah salah satu sistem teknik irigasi tradisional terpenting yang pernah dikenal manusia. Dalam sistem itu, air diambil dari mata air atau sumur melalui saluran horizontal bawah tanah untuk mengairi pertanian yang jauh dari sumber air," urai Al-Juaidi.

Lebih jauh ia menerangkan, beberapa sumur air di sepanjang saluran ini juga dapat membantu menyediakan lebih banyak air bagi penduduk dan tanaman mereka, yang mereka andalkan terutama sebagai sumber makanan.

 

firzan canal
Kanal air kuno Firzan memiliki panjang hingga 7 kilometer. (Twitter/@arabnews)

Al-Juaidi, yang menulis buku tentang wilayah tersebut, mengatakan ada rantai 150 lubang dengan kedalaman mulai dari 25 hingga 20 meter.

"Kedalaman lubang-lubang ini berangsur-angsur berkurang dari sumber air sampai ke mulut saluran, yang kedalamannya hampir 50 sentimeter (di mulut saluran). Sumur-sumur di kanal berjarak antara lima hingga enam meter, dengan diameter mulut berkisar antara satu hingga empat meter. Yang membedakan kanal Firzan dengan kanal di Al-Ula atau Al-Asyah adalah lubang di kanal ini lebih dalam, dan kanal itu sendiri bahkan lebih panjang dari kanal air lainnya di kerajaan," ungkapnya.

Al-Juaidi mengatakan dia telah berbicara tentang karakteristik kanal dengan CEO Heritage Authority, Dr. Jasir Al-Herbish.

"Al-Herbish menyatakan minat otoritasnya dalam mengembangkan dan melestarikan situs. Kami sebenarnya berharap situs ini akan terdaftar dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO," tutur Al-Juaidi.

Ditambahkan oleh Yayasan Penelitian dan Arsip Raja Abdulaziz (Darah) telah melakukan studi penting untuk mendokumentasikan situs kanal dan kuburan di ketinggian datar di dekat Gunung Firzan. Dalam dokumentasinya, Darah mencatat koordinat lokasi, ukuran dan survei kadaster tempat tersebut. Itu juga memotret kanal.

"Proyek restorasi saluran air Firzan terakhir adalah pada era Raja Abdul Aziz dan berlanjut hingga 1950-an. Namun, beberapa sumur kini dipenuhi sampah dan limbah. Oleh karena itu, saya menyarankan intervensi segera untuk memulihkan situs dan berupaya mendaftarkannya ke UNESCO," tandas Al-Juaidi.

Untuk diketahui, dalam bukunya Al-Juaidi menulis bagaimana kawasan itu menarik banyak pelancong dan peneliti Barat yang mengunjungi kawasan itu, termasuk Glen Brown, John Philby, Gerald de Gaury dan Daniel van der Meulen.

Berdasarkan pengalaman geologis sebelumnya di Amerika Serikat (AS) dan luar negeri, Brown dipilih pada tahun 1944 untuk menyelidiki persediaan air di gurun Saudi sebagai tanggapan atas permintaan mendiang Raja Abdul Aziz untuk bantuan dari Survei Geografis AS.