China Marah Kapal Perusak Berpeluru Kendali AS Kembali ke Selat Taiwan
Kapal Amerika Serikat USS (DDG-54) Curtis Wilbur. (Wikimedia Commons U.S. Navy/Mate Airman Dustin Howell)

Bagikan:

JAKARTA - China mengutuk Amerika Serikat (AS) pada Hari Rabu sebagai pencipta risiko keamanan terbesar di kawasan itu, setelah kapal perang AS kembali berlayar melalui jalur air sensitif yang memisahkan Taiwan - China.

Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah kapal perusak peluru kendali kelas Arleigh Burke USS Curtis Wilbur (DDG-54),  melakukan 'transit rutin' di Selat Taiwan pada Selasa 22 Juni kemarin.

"Transit kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," sebut Armada ke-7 Angkatan Laut AS sebagai induk kapal perusak tersebut seperti mengutip Reuters Rabu 23 Juni. 

China bereaksi atas kejadian yang sebelumnya sudah pernah terjadi ini. Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengatakan, pasukan mereka memantau kapal itu sepanjang perjalanannya dan memperingatkannya.

"Pihak AS sengaja memainkan trik lama yang sama dan menciptakan masalah dan mengganggu hal-hal di Selat Taiwan," kritik China.

"Ini sepenuhnya menunjukkan, Amerika Serikat adalah pencipta risiko terbesar bagi keamanan regional dan kami dengan tegas menentang ini," tegas pernyataan tersebut.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan kapal telah berlayar ke arah utara melalui selat dan situasinya seperti biasa. Sebelumnya kapal yang sama transit di selat sebulan yang lalu, mendorong China untuk menuduh Amerika Serikat mengancam perdamaian dan stabilitas.

'Transit' rutin ini dilakukan sekitar seminggu setelah Taiwan mengatakan 28 pesawat Angkatan Udara China, termasuk pesawat tempur dan pembom berkemampuan nuklir, memasuki zona identifikasi pertahanan udara Taiwan (ADIZ). "Serangan' terbesar yang dilaporkan hingga saat ini.

Insiden itu terjadi setelah para pemimpin negara Kelompok Tujuh (G7) mengeluarkan penryataan bersama, 'memarahi' China atas serangkaian masalah dan menggarisbawahi pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

Untuk diketahui, Amerika Serikat, seperti kebanyakan negara, tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taiwan yang demokratis. Tetapi merupakan pendukung internasional terpenting dan penjual senjata utama.

Ketegangan China-Taiwan telah meningkat selama setahun terakhir, dengan Taipei mengeluhkan China berulang kali mengirim angkatan udaranya ke zona pertahanan udara Taiwan.