Memburuknya Hubungan Megawati-SBY saat Indonesia Gelar Pilpres Pertama dalam Sejarah Hari Ini, 5 Juli 2004
Ilustrasi foto (Sumber: LIPI)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 5 Juli 2004, Indonesia menggelar pemilihan umum (pemilu). Pemilu ini memang bukanlah yang pertama kali diadakan. Namun pemilu hari itu adalah kali pertama rakyat Indonesia dapat memilih presiden dan wakil presiden secara langsung (pilpres).

Bisa dibilang, Pemilu 2004 merupakan tonggak sejarah demokrasi Indonesia pasca Reformasi. Sebelumnya, presiden dan wakil presiden dipilih oleh DPR/MPR dan rakyat Indonesia tidak pernah mendapat kesempatan memilih pemimpinnya langsung.

Selain itu, pada 1999 pemilihan presiden dan wakil presiden dilakukan terpisah. Pilpres 2004 berlangsung dengan pedoman UU 23/2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Pilpres 2004 diselenggarakan dua putaran dan jadi bagian rangkaian Pemilu 2004.

Tahun 2004 merupakan yang tersibuk bagi KPU. Mereka harus menyelenggarakan tiga pemilu, yaitu pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD, pemilu presiden-wakil presiden putaran pertama, dan pemilu presiden-wakil presiden putaran kedua.

Pasangan Pemilu 2004

Mengutip Detik, Pilpres 2004 diikuti lima pasangan. Mereka adalah Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri-Ahmad Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) dan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

SBY-JK unggul di putaran pertama dengan suara 33,58 persen suara atau meraup 36.070.622. Kedua adalah Megawati-Hasyim dengan perolehan suara 28.186.780 atau 26,24 persen. Putaran kedua pemilu harus dilakukan karena tidak ada pasangan yang meraih suara 50 persen.

Daftar pasangan Pemilu 2004 (Sumber: Commons Wikimedia)

Pemilu putaran kedua diselenggarakan pada 20 September 2004 dan diikuti oleh dua pasangan dengan suara teratas. Di putaran kedua, hasilnya SBY-JK menang telak dengan suara 69.266.350 atau 60,62 persen sementara Megawati-Hasyim mendapat suara 44.990.704 atau 39,38 persen. 

Dari sisi Pemilu Legislatif, Partai Demokrat terbilang raih kesuksesan. Sebagai partai baru Demokrat berhasil mendapat 8.455.225 suara atau  7,45 persen dari total 113.462.414 suara sah. Sementara, posisi 1-4 ditempati partai-partai, lama yaitu Golongan Karya, PDI Perjuangan, PKB, dan PPP.

Hubungan mendingin Mega-SBY

Kisah lain dari Pilpres 2004 adalah mendinginnya hubungan Megawati Soekarnoputri dan SBY. Hubungan dingin keduanya mulai terlihat pada akhir 2003, ketika SBY memutuskan maju dalam Pilpres 2004.

Hal itu berarti SBY akan bersaing dengan Megawati. Saat itu SBY masih menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) di bawah kepresidenan Megawati.

Mengutip CNN, Megawati kecewa. Baginya SBY seharusnya mundur dari jabatan Menkopolkam. Suasana makin parah ketika Sekretaris Menkopolkam Sudi Silalahi mengungkapkan keluhan SBY tak diajak rapat kabinet.

Sudi mengungkap perasaan SBY yang merasa dikucilkan Istana. Setelah SBY memenangi pilpres dan jadi presiden terpilih, Ketua DPP PDIP Roy BB Janis mengatakan Megawati telah memberi ucapan selamat formal pada SBY.

Meski demikian, Megawati tidak hadir dalam pelantikan SBY-JK, bahkan ketika Ketua MPR Hidayat Nur Wahid dan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie membujuk Megawati hadir pada 20 Oktober 2004 itu.

Megawati kukuh tak datang. Kubu PDI Perjuangan terus berargumentasi tak ada aturan konstitusional yang mewajibkan presiden sebelumnya menghadiri pelantikan presiden yang baru.

Dinginnya hubungan Megawati-SBY diakui sendiri oleh pihak yang terkait. Pada Juli 2018, SBY gamblang menjelaskan usahanya selama ini dalam memperbaiki hubungan dengan Megawati tak pernah berhasil.

"Hubungan saya dengan Ibu Megawati, saya harus jujur, memang belum pulih. Masih ada jarak," kata SBY di kediamannya kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

"Ikhtiar untuk saya bisa menjalin komunikasi mungkin saya lakukan selama sepuluh tahun," tambah SBY. 

Hubungan keduanya kembali tersorot saat Megawati menghadiri pemakaman istri SBY, Ani Yudhoyono, yang meninggal akibat penyakit kanker darah. Megawati tampak berjabat tangan dengan SBY.

Di hari itu SBY samar-samar mengucapkan terima kasih di tengah desakan para pelayat. Saat itu Megawati hadir di TMP Kalibata ditemani oleh anak-anaknya, Puan Maharani dan Pramono Anung.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya