Bagikan:

JAKARTA – Memori hari ini, 23 tahun yang lalu, 18 Oktober 2000, Zack de la Rocha mengundurkan diri dari band yang membesarkan namanya Rage Against the Machine (RATM). Ketidaksamaan visi jadi salah satu penyebab mundurnya Zack.

Sebelumnya, RATM adalah wahana bermusik bagi Zack de la Rocha (vocal), Tim Commerford (bas), Tom Morello (gitar), dan Brad Wilk (drum). Mereka mampu menyajikan musik yang unik nan berbeda. Lagu-lagu ala RATM pun sarat dengan sikap politik dan perlawanan terhadap tirani.

Narasi musik sebagai alat melawan pemerintah tirani bukan barang baru. Zack dan Morello menyakini benar perkara itu. Morello mulanya mengalami fase kejenuhan dalam bermain musik. Band lamanya dianggap bukan wadah yang tepat.

Gagasan membuat band baru pun muncul. Keinginan itu kian kuat kala ia berjumpa dengan Zack de la Rocha. Kesamaan visi membuat keduanya nyambung dalam berkarya. Musik adalah ajian melawan, pikirnya. Band barunya terbentuk pada 1990.

RATM, namanya. Formasi RATM pun tambah lengkap dengan kehadiran Tim Commerord dan Brad Wilk. Empat anak Los Angeles, Amerika Serikat (AS) itu mulai berkarya bersama-sama. Lagu-lagu yang menyuarakan ketidakadilan mulai tercipta. Dari ketimpangan sosial hingga perlawanan rasisme.

Musisi sekaligus aktivis, Zack de la Rocha. (Wikimedia Commons)

Dukungan pun mengalir. Penggemar RATM bertambah. Semuanya sepakat kala itu bahwa RATM adalah semesta perlawanan. Aksi panggung dari Zack digadang-gadang bukan hanya bentuk hiburan, tapi jadi ajang membakar amarah melawan ketidakadilan.

Narasi itu disempurnakan dengan hadirnya album pertama dengan materi 12 lagu. Judul albumnya sama dengan nama band: Rage Against The Machine. Hasilnya gemilang. Demo yang sampulnya bergambar biksu asal Vietnam, Thich Quang Duck yang membakar diri karena protes kepada pemerintah karena diskriminasi agama di Vietnam, membawa RATM ke arah ketenaran.

Penggemarnya kian bejibun. Sekalipun awalnya RATM menyebarkan lagunya tanpa lebel. Kesuksesan itu membuat RATM dikontrak lebel rakaman di bawah naungan Sony Music. Apalagi, sikap perlawanan RATM bukan melulu di mulut saja. Empat pemuda itu kerap turun dalam agenda demonstrasi dengan ragam tema.

RATM kemudian dikenal luas sebagai melanggengkan hiburan dan aktivisme. Langkah itu diapresiasi banyak pihak. Album musiknya jadi dinanti. Antara lain kala album Evil Empire (1996) dan The Battle of Los Angeles (2000) keluar. Mereka dikenal bak dewanya hip metal.

“Morello dan Wilk bersama-sama pergi menemui Zack di sebuah pertunjukan. Morello mengakui ia benar-benar terpesona dengan penampilan Zack. Ia kemudian merekrut Zack ke dalam bandnya RATM. Suasana latihan pun diisi dengan semangat.”

Rage Against The Machine saat tampil dalam festival musik Big Day Out 2008 di Melbourne, Australia. (Wikimedia Commons)

“Morello makin terpesona kala melihat buku Zack yang berisi puisi dan lirik lagu. Morello merasa menemukan saudara seidiologis. Pun lirik itu tak melulu bercerita tentang Mao (pemimpin besar China) atau Paraguay. Ikatan antara para musisi pun segera terjalin. Bahkan tanpa membutuhkan waktu lama.” terang Joel Maciver dalam buku Know Your Enemy: The Story of Rage Against the Machine (2014).

Kesuksesan kian melambungkan nama RATM. Banyak yang terinspirasi dengan perjuangan RATM lewat lagu. Banyak unjuk rasa di dunia menjadikan lagu RATM bak panduan melawan. Namun, perjalanan RATM didunia musik tak sepenuhnya mulus.

Banyak konflik internal yang terjadi dalam tubuh RATM sendiri. Puncaknya, kala Album keempat, Renegades mau rilis. Keempat personel RATM bak tak memiliki satu visi. Zack, utamanya. Ia mulai merasakan bahwa bermusik di antara rekan-rekannya tak lagi nyaman.

Alhasil, Zack memilih hengkang pada 18 Oktober 2000. Kepergian Zack disayangkan oleh penggemar RATM di seantero dunia. Mereka bak kehilangan pahlawan yang memotivasi. Apalagi, Morello tanpa Zack seakan membiarkan RATM hiatus untuk sementara waktu. Sekalipun kemudian mereka reuni kembali pada 2007.

Cover album pertama Rage Against The Machine yang menampilkan foto aksi bakar diri biksu asal Vietnam, Thich Quang Duck di Saigon pada 10 Juni 1963. (Wikimedia Commons)

“Kemarahan mengiringi kepergian Zack de la Rocha. Dia merasa teman temannya sudah tak mau mendengarnya lagi.Zack ingin agar album Renegades jangan dulu diluncurkan, tapi ternyata band menginginkan hal yang lain, ujar orang dalan band itu. Karena tak ada lagi kata sepakat, vokalis berambut gimbal itu memutuskan keluar: Sorry man, rupanya kita tak lagi sepaham."

“Seketika pula, Oktober 2000, bertepatan dengan peluncuran Renegades, album mereka vang keernpat, Zack menyatakan pergi dari RATM --band yang melambungkan namanya. Mendadak sontak kepedihan tidak saja melanda band dan label, tapi juga yang penting para penggemarnya. Perginya Zack menandakan berakhirmya perjalanan band ini,” ungkap Irfan Budiman dalam tulisannya di Majalah Tempo berjudul Kembalinya Band Kiri Dalam (2007).