Bagikan:

JAKARTA - Thomas Stamford Raffles adalah sosok yang berjasa bagi Singapura. Kegeniusannya mampu mengangkat derajat Negeri Singa. Raffles mampu mengubah kawasan yang dulunya didominasi hutan belantara, jadi pelabuhan bebas penuh keuntungan bagi Inggris.

Raffles ingin Singapura dibangun secara masif. Utamanya, urusan kesehatan. Ia membenahi sistem kesehatan Singapura yang belum tersentuh medis barat. Narasi itu kian menegaskan Raffles sebagai peletak dasar sistem kesehatan di Singapura.

Nama Raffles begitu kesohor di kawasan Asia Tenggara. Ia pernah menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (kini: Indonesia) pada era 1811-1816. Gebrakan besar banyak dilakukannya di Nusantara. Utamanya, urusan mengobrak-abrik Kesultanan Yogyakarta.

Boleh jadi eksistensi Raffles di Nusantara berakhir. Namun, bukan berarti Raffles pensiun mengabdi kepada kongsi dagang Inggris, East India Company (EIC). Ia kemudian diangkat jadi Letnan Gubernur Bencoleen (Bengkulu) yang menjabat dari 1818-1824.

Kuasa itu membuat Raffles berpikir keras supaya pemasukan kongsi dagang Inggris bertambah besar di Asia Tenggara. Ajian itu tak mudah. Raffles menyadari benar bahwa Belanda telah mengambil alih banyak pelabuhan strategis di Asia Tenggara.

Suasana Singapura tempo dulu di depan Raffles Hotel. (Wikimedia Commons)

Raffles tak ingin Inggris selamanya mengekor Belanda. Ia pun bersiasat untuk menemukan pelabuhan bebas yang strategis. Raffles pun berinisiatif melanggengkan ekpedisi dan mendarat di Singapura. Pun Singapura jadi wilayah yang diharapkan. Ia menganggap Singapura memiliki lokasi yang strategis. Apalagi dekat dengan Selat Malaka.

Pelabuhan di Singapura dianggap menguntungkan. Singapura memiliki sumber daya alam yang dapat dikelola. Pucuk dicinta ulam tiba. Keinginan itu akhirnya tercapai pada 1819. Raffles kemudian melanggengkan perjanjian kepada penguasa setempat untuk membangun pelabuhan bebas dan pos perdagangan Inggris.

“Singapura berasal dari tanggal 30 Januari 1819, ketika penguasa lokal, Tumenggung Johor, menandatangani sebuah perjanjian dengan Raffles --Agen kongsi dagang Inggris-- yang merencanakan Inggris untuk menyiapkan sebuah pos perdagangan. Pada hari berikutnya, berkemah di tepi Sungai Singapura, Raffles menulis dengan tuhan kepada temannya, Orientalis, William Marsden yang terkenal. Dalam kenikmatan semua kesenangan yang merupakan pijakan di tanah klasik semacam itu yang harus diilhami.”

“Misi penting bagi kongsi dagang Inggris memainkan peran dalam membawa Raffles ke tempat khusus ini. Sebuah tempat yang kependudukannya tak begitu jelas. Raffles pun ingin mengubahnya jadi salah satu pelabuhan tersibuk di Asia Tenggara," terang C.M. Turnbull dalam buku A History of Modern Singapore 1819-2005 (2009).

Benahi Sistem Kesehatan

Keinginan Raffles jadikan Singapura sebagai pelabuhan bebas tak mudah. Raffles ketiban tanggung jawab untuk membenahi Singapura secara masif. Utamanya, perihal kesehatan. Semua karena Singapura hanyalah tempat hidup para nelayan yang daratannya penuh hutan belantara.

Kondisi itu membuat Singapura dikenal bak rumah dari wabah penyakit. Kolera, cacar, dan influenza jadi beberapa penyakit yang menjamur. Penyakit itu dapat mewabah kapan saja dan jadi momok menakutkan bagi orang inggris, termasuk Raffles.

Raffles menganggapnya sebuah kewajaran. Ia pun pada awal kedatangannya ke Singapura turut membawa serta dokter pribadinya, Thomas Prendergast. Dokter itu kemudian diberikan tugas untuk membenahi sistem kesehatan di Singapura, termasuk membangun Rumah Sakit Militer.

Inisiasi memperkenalkan sistem medis barat itu jadi penanda utama pembenahan sistem kesehatan di Singapura. Sekalipun mereka yang awalnya menikmati pengobatan barat hanya berada pada tataran orang Eropa dan serdadu Inggris. Sedang mereka kaum bumiputra setempat hanya mengandalkan pengobatan yang didominasi oleh dukun.

Pemandangan Singapura di masa lampau, ketika rumah-rumah panggung sederhana masih berdiri di sepanjang Sungai Singapura. (Holidify)

Hasilnya dirasakan di masa yang akan datang. Raffles kemudian dianggap seisi Singapura bak pahlawan. Namanya diabadikan dibanyak tempat. Dari nama hotel hingga jalan. Semua itu karena jasa Raffles yang besar. Utamanya, sebagai peletak dasar sistem kesehatan modern (barat) di Singapura. 

“Dalam rombongan Raffles pada tahun 1819 terdapat satu detasemen pasukan Eropa dan India serta dokter pendamping mereka, Thomas Prendergast. Secara umum, kedatangan Raffles yang membawa Prendergast menandakan pengobatan barat pertama kalinya menyentuh Singapura.”

“Sesuai dengan visi Raffles, Singapura berkembang pesat. Perawatan medis Barat pada dekade awal berdirinya Singapura dikelola oleh para dokter di rumah sakit militer. Penduduk lokal dan pendatang justru mencari pengobatan dari dukun tradisional mereka. Prendergast, sebagai dokter militer, ditugaskan di Rumah Sakit Umum pertama. Ini adalah pendahulu dari Rumah Sakit Umum Singapura yang sekarang (tetapi pada waktu itu tidak lebih dari sebuah gudang) yang didirikan di dekat persimpangan Jalan Bras Basah dan Jalan Stamford pada tahun 1821,” tertulis dalam buku Caring For Our People: 50 Year of Healthcare in Singapore (2015).