Bagikan:

JAKARTA - Hubungan antara maskapai dagang Belanda, VOC dan etnis China tergolong istimewa. Keduanya sama-sama mengharapkan simbiosis mutualisme. Belanda membantu orang China hidup dan bekerja. Sedang orang China membantu Belanda menjalankan roda ekonomi di Batavia (kini: Jakarta).

Namun, kedamaian itu segera diusik Kompeni pada 1740. Pejabat Kompeni mulai kewalahan dengan populasi orang China yang tak memiliki izin. Penangkapan besar-besaran orang China dilanggengkan. Upaya memenjarakan orang China itu jadi kado Imlek terburuk selama hidup di Batavia.

Ulet rajin, pekerja keras, dan tak suka perang. Itulah pandangan Kompeni melihat eksistensi orang China di Nusantara. Keinginan memperkerjakan orang China pun menggebu-gebu. Apalagi pada masa Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen.

Gubernur Jenderal yang pernah menjabat dua periode (1619-1623 dan 1627-1629) itu kerap mengistimewakan etnis China. Ia membuka pintu lebar bagi masuknya orang China ke Batavia. Orang China pun menganggapnya sebagai peluang besar. Sebab, mereka diiming-iming hak istimewa.

Berdagang adalah aktivitas yang dilakukan oleh kebanyakan etnis China di Batavia sejak masa VOC. (Wikimedia Commons)

Kehadiran orang China pun mampu menghidupkan Batavia. Orang China bertindak sebagai penggerak roda ekonomi Batavia. Mereka pun menguasai segala bidang. Dari pertukangan hingga pedagang kelontong.

Sebagai gantinya, Kompeni mendapatkan keuntungan melimpah. Orang China jadi target wajib pajak Batavia. Kompeni menarik pajak dari segala macam laku hidup –berdagang, berjudi, pesta-- orang China. Istimewanya, orang China diberikan kuasa merayakan tahun baru China di muka umum. Lebih lagi, penguasa Belanda aktif pula memberikan mereka hadiah kala Imlek menyapa.

“Warga Tionghoa yang bekerja pada masa pemerintahan gubernur jenderal pertama –di Batavia-- tidak memiliki keluhan. Hal ini menunjukkan bahwa Coen sangat menghargai warganya. Dia tidak pernah memberikan toleransi kepada orang Inggris atau Belanda yang memperlakukan orang Tionghoa secara tidak adil. Coen juga tidak memandang mereka sebagai pajak yang berlebihan,” ungkap Johannes Theodorus Vermeulen dalam buku Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1740 (2010).

Akan tetapi, ‘kemesraan’ antara Kompeni dan etnis China harus berakhir. Semuanya karena VOC tak lagi meraih untung. Pasar gula dunia kala itu sedang goyah. Keadaan juga semakin parah karena Kompeni tak mampu bersaing dengan maskapai dagang Inggris EIC.

Kawasan Pacinan di Batavia. (Wikimedia Commons)

Sederet masalah itu membuat orang China yang bekerja di perkebunan dan pabrik gula banyak yang menganggur. Akibatnya, pengangguran di mana-mana dan mengganggu ketertiban di Batavia. Banyak di antara orang China kedapatan melanggengkan pekerjaan kotor seperti merampok.

Kompeni tak tinggal diam. Semua orang China di Batavia diminta membuat surat izin tinggal – tanpa terkecuali. Barang siapa yang tak memiliki surat izin tinggal akan ditangkap dan dipindahkan ke Sri Lanka atau Afrika.

Saban hari Kompeni melakukan razia. Utama menjelang tahun baru China pada Februari 1740. Orang China jadi begitu semangat merayakan Imlek. Suara petasan dan kembang api tak begitu terdengar. Padahal, pada tahun sebelumnya begitu semarak. Orang China takut ditangkap oleh Belanda jadi penyebabnya.

Kejadian itu menjadi kado Imlek terburuk etnis China di Nusantara. Pun kemudian pengkapan orang China jadi cikal bakal hadirnya peristiwa pembantaian orang China atau yang lazim disebut sebagai Geger Pacinan pada Oktober 1740.

Etnis China di Batavia menguasai banyak sektor usaha, mulai bahan pokok hingga perhotelan. (Wikimedia Commons)

“Kekhawatiran dan ketakutan yang mendalam di kalangan warga etnis Tionghoa Batavia kian menjadi-jadi ketika pada akhir tahun 1739 sampai hari Imlek di bulan Februari 1740, VOC mengadakan penangkapan secara besar-besaran. Pada saat itu telah ada seratus warga etnis Tionghoa yang ditangkap, mulai dari Bekasi hingga Tanjung Priok.”

“Keadaan seperti ini membuat warga etnis Tionghoa di sekitar Batavia menjadi sangat panik, cemas, serta merasa tidak tenang. Hal ini memicu beberapa warga Tionghoa yang saat itu berada di luar benteng kota atau di perkampungan untuk menyusun rencana dan strategi dalam menghadapi kesewenangan VOC,” terang Hembing Wijayakusuma dalam buku Pembantaian Massal 1740: Tragedi Berdarah Angke (2005).