Nganter Bandeng Kala Imlek: Tradisi yang Jadi Cermin Eratnya Kaum China dan Betawi
Pasar Ikan di Batavia (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Perayaan Imlek atau tahun baru China adalah peristiwa besar. Di Jakarta, Imlek dirayakan semarak. Imlek kerap dihiasi pertunjukan barongsai, tanjidor, dan gambang kromong. Hal lain yang pantang terlewat oleh masyarakat Betawi-Tionghoa adalah hadirnya olahan ikan bandeng di meja mekan.

Kebiasaan ini langgeng berkat tradisi “Nganter Bandeng” yang dilakukan oleh orang Betawi sedari dulu. Tradisi itu melegitimasi perayaan Imlek takkan lengkap tanpa adanya bandeng.

Bagi etnis China, ikan bandeng yang memunyai banyak duri justru melambangkan rezeki berlimpah/kemakmuran. Hal itu karena dalam bahasa mandarin ikan adalah yu yang berarti rejeki.

Sedangkan pindang bandeng yang disebut dengan Nian Nian You Yu berarti rezeki berlebih setiap tahun. Oleh sebab itu ikan sering muncul sebagai hiasan atau ornamen Imlek, ikon di kartu ucapan, dodol berbentuk ikan, dan hidangan ikan.

“Dalam jamuan makan, hidangan ikan (bandeng) disajikan di akhir jamuan sebagai lambang dan harapan rezeki melimpah di masa mendatang. Semakin besar ukuran ikan, akan semakin besar pula rezeki yang akan diperoleh di masa mendatang,” tulis Akademi Kuliner Indonesia dalam buku Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita (2016).

Berawal dari tradisi Betawi

Meski begitu, kehadiran bandeng dalam tiap perayaan Imlek erat kaitan dengan tradisi masyarakat Betawi sedari dulu. Orang Betawi dalam setiap hari besar sering menjadikan bandeng sebagai hantaran dari calon menantu kepada calon mertuanya.

Bandeng yang dibawa pun bukan dalam bentuk yang sudah diolah. Akan tetapi, masih berbentuk ikan utuh mentah yang segar. Tradisi itu kemudian berkembang ketika terjadi perkawinan budaya yang membuat orang China turut melanggengkan tradisi "nganter".

Abdul Chaer dalam buku Betawi Tempo Doeloe (2015) menjelaskan budaya nganter erat kaitannya dengan budaya betawi. Secara harfiah nganter berarti mengantarkan sesuatu kepada orang lain, seperti kepada tetangga atau orang lain yang patut diberi anteran (mertua, nenek, dan lain-lain).

Tradisi ini langgeng karena terdapat nilai sosial tinggi yang dikandungnya berupa menjalin tali kekeluargaan atau persahabatan. Tak hanya itu. Anteran yang istimewa biasanya dilakukan oleh seorang calon menantu kepada calon mertua.

Disebut istimewa karena lewat tradisi ini calon menantu akan memerlihatkan keseriusan mereka pada anak dari empunya rumah. Tradisi ini kemudian diadopsi oleh orang China, yang pada malam Imlek, para calon menantu membawa bandeng sebagai anteran kepada calon mertua. Semakin besar ukuran ikan bandeng yang dibawa, semakin besar pula keseriusan calon menantu melamar anak empunya rumah.

“Pada malam Imlek, para kongcu (pemuda) yang bertandang ke rumah siucia (gadis) diharuskan membawa ikan bandeng untuk sang mertoku (mertua). Calon mantu yang tidak bawa bandeng dianggap tidak ngehargain mertua dan pernikahan bisa batal. Waktu itu pacaran tidak sebebas sekarang. Gadis banyak yang dipingit, dilarang keluar rumah apalagi nonton Capgome di malam hari. Kala itu tempat penjualan ikan bandeng di Jalan Bandengan, Glodok,” tulis Alwi Shahab dalam buku Saudagar Baghdad dari Betawi (2004).

Pendalaman

Kami menghubungi budayawan Betawi, Masykur Isnan untuk mengetahui makna lebih dalam terkait kehadiran bandeng di meja makan saat Imlek. Menurutnya, Imlek sendiri adalah budaya yang tak lepas dari masyarakat betawi.

Sejatinya budaya China merupakan salah satu budaya yang termasuk dalam akulturasi budaya betawi. Yang mana, unsur China menjadi bagian penting yang membentuk masyarakat Betawi. Masykur menambahkan jikalau orang Betawi sejak dulu begitu menyanjung nilai-nilai kebhinekaan. Kebhinekaan itu terjadi lewat akulturasi budaya. Contoh nganter bandeng.

Tradisi ini lalu diadopsi oleh orang China di Batavia (Jakarta) sebagai perwujudan dari rasa syukur dan semangat berbagi. Bentuk lainnya dari tradisi ini adalah saling menghormati dan menghargai perbedaan.

“Budaya dan masyarakat betawi terbukti sebagai sebuah cerminan keterbukaan dan toleransi, sejatinya, betawi lahir dari akulturasi berbagai budaya, betawi hadir dengan kekayaan dan kearifan lokalnya. oleh karenanya, akan sangat sering pada perayaan budaya lain, contohnya Imlek, masyarakat betawi juga ikut ambil bagian,” cerita Masykur Isnan kepada VOI, Rabu, 10 Februari.

Tambak bandeng (Sumber: Commons Wikimedia)

Untuk itu, kemeriahan Imlek dirasakan bersama-sama, baik oleh orang China dan Betawi. komitmen saling menghormati dan berbagi menjadikan tradisi ini kemudian langgeng. Sekalipun kini bentuk anterannya mulai beragam dengan kehadiran barang-barang yang lebih instan nan praktis, tentu hal itu tak dapat mengganti nilai-nilai dari tradisi nganter bandeng. Misalnya, keramaian warga Jakarta sepekan sebelum Imlek mencari ikan bandeng di pasar-pasar setempat.

“Sepekan menjelang Imlek sampai Imlek tiba, pertigaan Rawa Belong ramai oleh pedagang dan pembeli ikan bandeng. Pembeli yang datang bukan hanya berasal dari kalangan keturunan Cina, tetapi juga warga Rawa Belong Mereka saling mengantar bandeng untuk sanak keluarga terutama untuk mertua atau calon mertua. Kala itu, tradisi Ramadan dan Imlek dirayakan seluruh warga Rawa Belong tanpa memandang agama dan etnis,” ungkap Bachtiar, pemilik Sanggar Si Pitung di Rawa Belong dikutip Windoro Adi dalam buku Batavia, 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010).

Pasar Ikan di Batavia (Sumber: Commons Wikimedia)

 

MEMORI Lainnya