Bagikan:

YOGYAKARTA – Relasi antara anak yang sudah hidup mandiri dengan orang tua, kerap mereggang karena banyak faktor. Sebuah penelitian psikologis oleh Karen Fingerman pada tahun 2017 mencatat bahwa intensitas komunikasi dan keterlibatan antara orang tua dan anak-anak bergeser secara signifikan sejak abad terakhir. Seiring dengan itu, definisi ‘dewasa’ juga berbeda dengan yang dulu. Karena penanda kedewasaan bukan lagi menyelesaikan pendidikan, menikah, pindah dari rumah keluarga, dan memulai karir.

Keterlibatan, komunikasi, dan kemandirian pada fase usia dewasa, mungkin memiliki efek pada hubungan antara anak dan orang tua. Efeknya bukan hanya diekspresikan dalam kalimat penolakan, ketidaksetujuan, atau pecah pertengkaran. Menurut penulis Daughter Detox: Recovering from an Unloving Mother and Reclaiming You Life, Peg Streep dilansir Psychology Today, Jumat, 8 Juli, mengidentifikasi hal-hal yang membuat hubungan anak dan orang tua jadi renggang atau menegang.

1. Asumsi pertukaran barang atau jasa

Dalam bahasa latin dikenal dengan quid pro quo, di mana terdapat pertukaran barang atau jasa meski hanya terlintas dalam asumsi.

Seperti pengalaman yang dialami Melanie, ia menitipkan bayinya ke ibunya dua hari seminggu untuk menghemat biaya pengasuhan sebesar 40 persen. Tetapi ia menerima komentar tentang cara mengasuh anak dan cara mengelola finansial dari orang tuanya. Ketika menjelaskan bahwa ia terganggu dengan komentar tersebut, sang ibu bersikap defensif. Ini merupakan gambaran quid pro quo.

Jika Anda adalah orang tua yang menawarkan bantuan dan membutuhkan balasan, saran Streep, wajib dijelaskan. Apabila tidak, apapun yang diberikan, entah waktu, uang, dukungan, atau nasihat, berikan tanpa pamrih.

hubungan orang tua dan anak yang telah dewasa
Ilustrasi hubungan orang tua dan anak yang telah dewasa (iStockphoto)

2. Kekecewaan dalam memilih pasangan

Setiap anak yang sudah dewasa dan mandiri, memiliki preferensi dan hak untuk memilih siapa orang yang menjadi pasangannya. Tetapi dalam situasi tertentu, seperti dalam kasus Dave dan Lydia yang diulas oleh Streep, seorang pengacara dengan gelar Ph.D. ini kecewa dan tidak setuju pada pilihan anak bungsunya yang berhubungan romantis dengan pria tak lulus kuliah.

Ketidaksetujuan dari orang tua terhadap pilihan anak-anaknya, bukan tanpa alasan. Tetapi mereka seolah mengatur kebahagiaan pernikahan anak-anak sesuai ukuran mereka. Bahkan mereka membatasi pilihan anak-anaknya untuk mendapatkan pernikahan sukses dengan prasangka-prasangka.

3. Ketidaksepakatan dengan pilihan hidup

Orang tua seringkali mengukur keberhasilan mereka dengan keberhasilan anak-anaknya. Kadang mereka sulit menerima keputusan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Ini bisa memicu kerenggangan hubungan antara anak dan orang tua. Bahkan, satu pihak merasa tersinggung dan terjadi pertengkaran.

4. Kritik terhadap pengasuhan anak

Ketika anak Anda tidak meminta pendapat tentang pola pengasuhan, baiknya tetap menahan diri untuk tidak memberi komentar. Pasalnya, dengan menjadi fleksibel dan enggak kaku lebih bisa menjaga hubungan tetap terjalin dengan baik. Jika belum dimintai pendapat, lebih baik Anda tidak menawarkannya.

5. Membandingkan dengan sanak saudara atau orang lain

Terkadang, orang tua berasumsi salah. Dengan membandingkan dengan saudara kandung atau orang lain, dianggap untuk memotivasi anak. Ini merupakan ide buruk, menurut Streep. Jangan pernah membandingkan anak dewasa Anda dengan siapapun, baik mengenai tindakannya, pilihannya, dan yang lainnya agar tidak memantik sumber ketegangan.

6. Menganggap ketidaksepakatan sebagai ‘tidak sopan’

Setiap budaya dan ras memegang rasa hormat terhadap orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi ketika orang tua menganggap ketidaksepakatan anak sebagai perilaku ‘tidak sopan’, perlu dipertimbangkan kembali. Tidak selalu ketidaksepakatan atau perbedaan pendapat itu tidak sopan. Meski tetap membutuhkan etika dalam menyampaikannya, namun berpikiran terbuka lebih mungkin membuat hubungan anak dewasa dengan orang tuanya lebih hangat terjaga.