Satgas COVID-19 Pastikan Pemerintah Ikuti Perkembangan Vaksin AstraZeneca Usai Negara Eropa Setop Penggunaan
ILUSTRASI/UNSPLASH

Bagikan:

JAKARTA - Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan Indonesia terus mengikuti isu terkait vaksin AstraZeneca yang belakangan dihentikan penggunaannya oleh sejumlah negara di Eropa.

Penghentian vaksin ini dilakukan oleh Denmark, Norwegia, dan Islandia karena adanya laporan sejumlah penggunanya mengalami penggumpalan darah.

"Pemerintah terus mengikuti perkembangan isu terkait vaksin AstraZeneca ini," kata Wiku dalam konferensi pers yang ditayangkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Jumat, 12 Maret.

Wiku menegaskan pemerintah masih meyakini penggunaan vaksin ini aman sesuai pernyataan European Medicine Agency.

"Vaksin AstraZeneca yang sudah ada di Indonesia aman untuk digunakan sesuai dengan pernyataan European Medicine Agency yang disampaikan kamis kemarin, saat ini tidak ada indikasi bahwa vaksin ini menyebabkan pembekuan darah," ungkapnya.

Selain itu, keyakinan vaksin itu aman juga dinyatakan pemerintah karena penggumpalan atau pembekuan darah bukanlah efek samping dari penggunaan Vaksin AstraZeneca. Alasannya, dari 10 juta dosis vaksin yang telah diberikan di berbagai negara belum ada yang menunjukkan risiko emboli paru maupun trombosis vena dalam golongan usia, jenis kelamin, dan golongan lain.

"Hal ini menunjukkan jumlah kejadian semacam ini lebih rendah pada penerima suntikan vaksin, dibanding masyarakat umum," jelas Wiku.

Lagipula, nantinya, ketika vaksin berjenis AstraZeneca di dalam negeri juga akan dipantau. "Apabila terdapat Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) akan dilakukan penanganan yang sesuai," tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan emergency use authorization (EUA) atau izin darurat untuk vaksin corona AstraZeneca yang dikembangkan Oxford University.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, penerbitan izin tersebut dilakukan setelah melakukan evaluasi vaksin AstraZeneca bekerja sama dengan sejumlah pihak terkait. "Berdasarkan hasil evaluasi BPOM menerbitkan EUA pada 22 Februari 2021 yang lalu terhadap vaksin AstraZeneca," ujar Penny dalam jumpa pers virtual, Selasa, 9 Maret.

Penny menjelaskan, efek samping dari vaksin tersebut masih normal. Mayoritas hanya reaksi lokal dan seismik.

"Hasil evaluasi keamanan secara keseluruhan pemberian dosis 4-12 minggu terkategori aman" katanya.

Penny menambahkan, BPOM juga telah menerima hasil efikasi vaksin tersebut, yakni 62 persen. Sementara batas aman WHO 50 persen.

Diketahui, Indonesia telah menerima 1,1 juta dosis vaksin AstraZeneca pada beberapa waktu lalu. Selain di Indonesia, vaksin ini sudah dipakai di sejumlah negara seperti Inggris, Jerman dan Korea Selatan.