Bagikan:

JAKARTA - Inggit Garnasih adalah wanita dengan jasa besar bagi kemerdekaan Indonesia. Semasa hidupnya, Inggit tak cuma berstatus sebagai istri Soekarno, tapi juga tulang punggung keluarga. Segala daya upaya dilakukan Inggit, termasuk berjualan, dari bedak, jamu hingga rokok. Inggit jadi pendukung utama Soekarno dalam sekolah dan banyak aktivitas politik. Lewat sumbangsihnya Inggit dikenal dengan gelar “Ibu Kemerdekaan.”

Pengorbanan Inggit kepada Soekarno dan bangsa itu begitu besar. Inggit yang beberapa tahun lebih tua dari Bung Karno laksana ditakdirkan sebagai pemberi kekuatan kepada Putra sang Fajar ketika menghadapi situasi berat di zaman pergerakan.

Semua itu karena Inggit bukan orang baru di dalam dunia pergerakan. Tercatat, Inggit pernah menjadi anggota Sarekat Islam (SI) Bandung. Sebagai anggota aktif, Inggit bersama suaminya terdahulu (Haji Sanusi), pernah bahu-membahu berjuang mewujudkan cita-cita bangsa merdeka.

Bahkan ketika Inggit memilih Soekarno sebagai pengganti haji sanusi, semangat perjuangan terus diemban oleh Inggit. Termasuk ketika orasi-orasi Bung Karno yang anti kolonialisme mulai mengganggu telinga pemerintah kolonial Belanda.

Dalam rangka menjaga ketentraman, Bung Karno di tahan di Penjara Benceuy (1928), kemudian dilanjutkan ke Penjara Sukamiskin (1930). Inggit tak ingin melewati fase itu cuma untuk menunggu dalam ketidakpastian. Inggit justru bergerak membantu sang suami.

Inggit Garnasih dalam buku "Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih" (2020) yang disusun Deni Rachman

“Untuk mendukung perjuangan sang suami, Bu Inggit melakukan segalanya mulai dari menjual bedak, meramu jamu, bahkan hingga menjadi penjahit kutang. Semua itu dengan ikhlas dijalaninya untuk menafkahi keluarganya. Bu Inggit sudah cukup bangga dengan semangat Bung Karno yang tidak pernah padam mengobarkan semangat juang di dada para pemuda Indonesia pada waktu itu. Sepasang pengantin baru tersebut saling melengkapi,” ujar Abraham Panumbangan dalam buku The Uncensored of Bung Karno (2016).

Di dalam kondisi yang melarat itu Inggit selalu memiliki cara untuk mendukung perjuangan Bung Karno. Setiap ada kesempatan mengunjungi suaminya di Sukamiskin, Inggit selalu menyempatkan diri datang dua kali seminggu.

Sekalipun ekonominya lagi sengsara, Inggit tetap memaksakan diri untuk membesuk sekaligus memberikan Soekarno uang di dalam penjara. Saking kuatnya semangat Inggit, ia rela memaksakan diri berjalan kaki karena tidak memiliki ongkos untuk menyewa kendaraan dari Jalan Jaksa ke Sukamiskin.

Soekarno dan Inggit di Bengkulu (Sumber: ikimedia Commons)

“Tentu suka ada kebutuhan-kebutuhan tertentu pada suamiku yang menyebabkan aku harus mencari akal bagaimana caranya agar keinginan suamiku itu terpenuhi. Kadang-kadang ia meminta sejumlah uang, Mengenai ini aku sudah berpengalaman sewaktu Kusno masih berada di Banceuy, Sekali waktu Kusno meminta uang sampai enam puluh gulden banyaknya,” cerita Inggit Garnasih dikutip Ramadhan K.H. dalam buku Soekarno: Kuantar Ke Gerbang (1988).

“Soekarno berkata: (uang) untuk dibagikan kepada para penjaga. Aku percaya. Bukankah itu satu cara agar sedikitnya yang ditahan bisa mendapat keinginan atau kesenangan terbatas? Supaya para penjaga itu menjadi baik terhadap yang dijaga, itu sekurang-kurangnya,” tambahnya.

Rokok alat perjuangan

Soekarno (Sumber: geheugen.delpher.nl)

Semasa Bung Karno dipenjara, Inggit menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Ia banting tulang mengerahkan kemampuannya untuk menghidupi keluarga, sekaligus membantu Bung Karno di Penjara. Untuk menyambung hidupnya, Inggit mengerjakan banyak hal.

Dalam konteks itu, Inggit bahkan bekerja sama dengan para perajin logam untuk membuat golok dan peralatan besi lainnya di Ciwidey, Bandung Selatan. Keuntungan usahanya itu, dijadikan inggit sebagai modal untuk membeli bahan utama usaha rokok, seperti daun enau (Sunda: kawung) dan tembakau.

Usaha rokok lintingan Inggit dari daun kawung itu laku keras. Setiap bungkus rokok berisi 10 batang. Yang mana, rokok itu diberi merek “Rokok Kawung Ratna Djuami bikinan Ibu Inggit Garnasih.” Rokok itu kemudian menjadi alat perjuangan.

Tiap orang yang bersimpati dengan perjuangan Bung karno akan membeli rokok tersebut. Seiring itu, penyebaran rokok ala Inggit Garnasih turut pula melanggengkan gema perlawanan Bung Karno kepada pemerintah Kolonial diberbagai kawasan.

“Rokok itu ternyata laku keras. Pembelinya yang sekaligus menjadi penyokong perjuangan Bung Karno terdiri dari rakyat kecil. Mereka berpendapat, dengan membeli rokok tersebut berarti ikut membantu rumah tangga ekonomi pemimpinnya yang sedang prihatin. Selain itu, bantuan diterima dari Mr. Sartono, Moh. Thamrin, Sukartono (kakak R.A. Kartini), Tan Tjoei Gien (pemilik toko kain di Jalan Raya Barat), dan Ibu Wardoyo (kakak kandung Bung Karno),” tulis Her Suganda dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno (2010).

Narasi rokok yang dijual Inggit sebagai alat perjuangan itu kemudian makin langgeng dikalangan petani bumiputra. Dengan kesadaran penuh untuk membantu perjuangan, tak jarang beberapa di antara petani membayar rokok melebihi harga yang dijual. Upaya itu disebut kaum tani sebagai bentuk partisipasi pada perjuangan Bung Besar.

“Rokok itu diisap kaum petani dengan kesadaran harus membelinya, sebagai partisipasi pada perjuangan. Dari rokok itupun, Bu Inggit memperoleh penghasilan yang lumayan. Inggit Garnasih berkata: berkat partisipasi seluruh masyarakat. Mereka membeli dengan harga yang lain tanpa berpikir panjang, pokoknya turut memberikan sumbangan bagi berlanjutnya perjuangan bung Karno,” tertulis pada laporan surat kabar Buana Minggu, 18 November 1979 dikutip Deni Rachman dalam buku Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih (2020).

“Bila saya tidak punya uang, mana bisa menjenguk suami, mengiriminya berbagai pesanannya, mengadakan kontak-kontak dengan kawan-kawan seperjuangan yang tersebar hampir di seluruh pelosok Tanah Air,” Tambah Inggit Garnasih.

*Baca Informasi lain soal SOEKARNO atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

BERNAS Lainnya