Soekarno Saksikan Homoseksual di Sukamiskin
Bung Karno (Sumber: geheugen.delpher.nl)

Bagikan:

JAKARTA - Penjara adalah bagian hidup Soekarno. Bung Karno selalu membuat Belanda kerepotan hingga dirinya kerap dicap tokoh radikal. Memenjarakan Soekarno jadi langkah yang kerap diambil Belanda. Salah satu pengalaman paling menarik bagi Bung Karno adalah di Sukamiskin, Bandung. Di sana Bung Karno jadi saksi praktik homoseksual.

Sejak menimba ilmu di Bandung, Bung karno tak henti mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda. Dalam tiap rapat umum dan kesempatan berbicara di mimbar, Bung Karno menebar propaganda.

Belanda melihat itu sebagai ancaman. Bung Karno dipaksa menghuni sel Penjara Benceuy sejak 1928, hingga akhirnya Putra Sang Fajar diadili di persidangan landraad Bandung pada 1930. Tak disangka, persidangan itu justru laksana mimbar untuk meningkatkan popularitas Bung Karno di mata rakyat Indonesia.

“Di atas panggung, ‘Bima’ (Soekarno) membuat panas kuping pemerintah Hindia Belanda dengan agitasinya, dengan teriakan ‘Indonesia’-nya, dan dengan lagu Indonesia Raya yang diperdengarkan mengawali rapat-rapat akbarnya,” tertulis dalam laporan Majalah Tempo berjudul Sukarno: Seorang Bima, Seorang Hamlet (2001).

Soekarno (Sumber: geheugen.delpher.nl)

"Sukarno ditangkap 1928. Namun, persidangannya menjadi pentas lain yang tak kalah dramatisnya. Dia tampil dengan pidato pembelaan yang gemilang, ‘Indonesia Menggugat’ yang dibacakannya selama dua hari berturut turut," tambahnya.

Pleidoi tersebut ditulis Bung Karno di Penjara Banceuy, Bandung, yang berukuran kurang lebih 2x1,5 meter. Seperti Hatta di Den Haag pada 1928, pleidoi Bung Karno di Pengadilan Bandung itu jadi manifesto politik yang ia tujukan, terutama pada pendengar di luar sidang.

Dalam pleidoi itu Bung Karno menelanjangi pemerintah kolonial Belanda. Salah satu kalimat yang paling diingat Bung Karno dalam pleidoinya adalah: Bahwasanya, matahari bukan terbit karena ayam jantan berkokok, tetapi ayam jantan berkokok karena matahari terbit.

Kehidupan di Penjara Sukamiskin

Sekalipun pleidoi Bung Karno sedemikian menggugah, Belanda tetap pada posisi awal membendung langkah Bung karno. Belanda kemudian menghukumnya secara keras. Soekarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara, yang kemudian diringankan jadi satu tahun.

Meski Bung Karno mengatakan diperlakukan dengan baik di penjara Sukamiskin, sesungguhnya banyak pula pengalaman tak menyenangkan yang didapat. Kala itu Bung Karno dijebloskan di kamar TA-01 (Timur Atas) lantai satu yang berukuran 2 x 2,5 meter.

Tempat tidur Bung Karno berupa dipan besi yang bisa dilipat. Tepat di bawahnya terdapat kloset. Jika jendelanya dibuka, maka kamar tersebut akan dihangatkan oleh sinar matahari pagi. Sel itu ditempati Bung Karno karena Belanda khawatir Bung Karno bersosialisasi dengan tahanan politik lainnya.

Soekarno (Sumber: geheugen.delpher.nl)

“Untuk menjatuhkan morilnya, Belanda memerlakukan Bung Karno seperti narapidana lainnya yang melakukan tindakan kriminal. Bung Karno diwajibkan kerja kasar yang dirasakan sangat memberatkan. Bersama narapidana lainnya, ia memotong puluhan rim kertas, menimbun lalu mengangkutnya. Karena tidak biasa kerja kasar, pada malam hari ia merasakan tenaganya sudah habis terkuras,” ungkap Her Suganda dalam buku Wisata Parijs van Java (2011).

Kekejaman yang paling tak menyenangkan dan mengganggu pikiran Bung Karno di penjara adalah pengasingan. Pengasingan, kata Bung Karno dapat mengguncang dan membelokkan kehidupan orang. Beragam kejadian pernah ditemui Bung Karno di penjara.

Salah satunya, menyaksikan banyak tahanan yang gila karena syahwat. Ada yang melakukan masturbasi demi memuaskan diri sendiri. Ada juga laki-laki yang melakukan percintaan sesama jenis.

Homoseksual di Sukamiskin

Bung Karno pernah berbicara dengan seorang tahanan Belanda yang seorang homoseksual. Sekalipun tak disebutkan namanya, Bung Karno mendeskripsikan narapidana itu sebagai seorang Belanda berparas tampan dengan dada bidang dan berambut keriting.

Narapidana itu sering keluar-masuk penjara karena persoalan praktik homoseksual kepada laki-laki pribumi. Karena itu pula ia kembali masuk penjara dengan vonis empat tahun penjara. Padahal, pria Belanda itu belum lama menghirup udara bebas. Orientasi seksual itu membuatnya tak pernah berhenti mencari mangsa, sekalipun dibui menjadi hukumannya.

“Bung Karno juga menyatakan bahwa sebelum dikirim kembali ke penjara, lelaki homoseksual tersebut ditangkap polisi Belanda karena baru saja mencabuli sejumlah lelaki pribumi sekaligus. Pada saat lelaki tersebut dikirim kembali ke penjara, sama sekali tidak ada ekspresi penyesalan di raut wajahnya,” ujar Adimitra Nursalim dalam buku The Remarkable Story of Soekarno (2020).

Tak disangka, orang kulit putih itu lalu dimasukkan ke dalam sel di bawah Soekarno. Tabiat pria Belanda sebagai homoseksual, satu waktu diutarakan langsung kepada Bung Karno. Ketika itu, di sekeliling Bung Karno tak ada orang. Bung Karno kemudian menanyakan maksudnya secara langsung.

"Kenapa?" tanya Bung Karno.

"Kenapa? Engkau mau bercinta denganku?" Bung Karno mengulanginya.

Dan ia menjawab, "Karena di sini tidak ada perempuan."

"Memang benar. Aku sendiri juga menginginkan kawan perempuan. Tapi bagaimana bisa?” ungkap Bung Karno.

Pria Belanda itu menambahkan, "Yah, apalah perempuan itu kalau dibandingkan dengan lelaki?"

"Ooooh," kata Bung Karno terengah.

"Kau sakit," Bung Karno melanjutkan.

“Sudah tidak ragu lagi bahwa kehidupan dalam kurungan menghancurkan, merobek‐robek kehendak yang normal daripada daging. Ya, bahkan Kitab Injil menjatakan, bahwa seorang Laki‐laki akan melekat pada isterinya. Aku senang berada dalam usia yang masih muda dan berkembang dalam kehidupan ini; seorang yang kuat dan perasa ketika pintu besi menutup dibelakangku. Badanku ditawan. tapi semangatku menjerit‐jerit didalam,” cerita Bung Karno dikutip Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

“Urat syarafku berteriak‐teriak oleh siksaan di kesunyian malam. Keinginan biasa untuk memuaskan diri yang dimiliki oleh laki‐laki atas karunia Tuhan Yang Maha Pemurah, tidak padam‐padamnya, hanya disebabkan oleh karena seorang hakim memukulkan palu dan berkata: Perkara ditutup," tambah Bung Besar.

*Baca Informasi lain soal SOEKARNO atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya