Pengaruh 12 Kapal Selam "Whiskey" Indonesia Merebut Irian Barat dari Belanda
Kapal Selam Whiskey (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Di Asia Tenggara, Indonesia adalah pionir dalam mengoperasikan kapal selam. Tak main-main. Indonesia memiliki 12 kapal selam kelas “Whiskey.” Dukungan kapal selam itu buat armada laut Indonesia begitu kuat.

Pada 1962, Belanda bahkan pernah ciut nyalinya melawan Indonesia dalam perebutan Irian Barat. Kehadiran kapal selam buatan Uni Soviet itu –sesuai analisis Amerika Serikat (AS)-- digadang-gadang akan mempermalukan bangsa Belanda. Itulah mengapa armada laut Indonesia Orde Lama dikenal menakutkan.

Selepas merdeka, Indonesia dan Belanda pernah terlibat konflik cukup panas terkait perebutan Irian Barat (Papua). Kala itu, wilayah kekuasaan Belanda di Nusantara hanya sebatas Irian Barat. Sebab, seluruh wilayah lainnya sudah diserahkan kepada Indonesia lewan ragam jalur diplomasi hingga menyisahkan Irian Barat.

Indonesia jelas tak mau Irian Barat berada di tangan Belanda. Bagi Soekarno, Indonesia takkan lengkap tanpa Irian barat. Persoalan ini menjadi masalah personal. Perebutannya bahkan sampai forum PBB pada 1954, 1955, 1957, dan 1960. Hasilnya nihil.

Senapas dengan itu, Belanda malah ngotot untuk segera membentuk negara Papua. Dalam melanggengkan aksinya, Belanda memberangkatkan armada laut milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda (The Royal Nederlands Navy) dari Amerika Serikat (AS) pada Maret 1960. Tujuannya, untuk berjaga-jaga di perairan Papua. Armada itu terdiri dari kapal Induk HNLMS Karel Doorman, tiga kapal perusak, dan dua kapal selam.

Kapal selam Whiskey (Sumber: Commons Wikimedia)

“Seperti umumnya, dalam beroperasi, kapal induk tidak pernah sendirian. HNLMS Karel Doorman ditemani tiga kapal penghancur, yakni HNLMS Evertsen, HNLMS Kortenaer, dan HNLMS Utrecht, juga sebuah kapal tanker,” ujar Achmad Taufiqoerrochman dalam buku Kepemimpinan Maritim: Sebuah Memoar (2019).

Bung Karno pun habis kesabaran. Imbasnya, Bung Karno mencanangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di Alun-alun Utara, Yogyakarta pada 19 Desember 1961.

Trikora digelorakan oleh Bung Karno untuk membakar semangat rakyat Indonesia merebut kembali Irian Barat. Orang nomor satu Indonesia itu mengamanatkan upaya menggagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda, Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, dan mempertahankan keutuhan Tanah Air.

“Sekarang saya tanya kepada saudara-saudara, kepada dunia internasional, mengapa pihak Belanda menjadikan Irian Barat sebagai boneka Papua. Belanda menghasut rakyat Irian barat menjalankan satu politik memecah belah kedaulatan RI dengan mendirikan Negara Papua, mengibarkan bendera Papua, menciptakan lagu kebangsaan zoogenamde,” penggalan isi pidato Trikora Soekarno kala itu.

Kekuatan kapal selam “Whiskey”

Setelah mengumandangkan Trikora, Soekarno menempuh aksi militer untuk merebut Irian Barat dari Belanda. Pelaksana operasi itu adalah Komando Mandala Pembebasan Irian Barat, komando tempur lintas angkatan, di bawah pimpinan Mayjen Soeharto.

Oleh Soeharto angkatan laut diminta mengerahkan kapal selam Whiskey untuk melakukan tugas pengintaian. Tujuannya, supaya Indonesia dapat mengetahui medan dan kekuatan dari pihak lawan. Indonesia kala itu tercatat memiliki 12 kapal selam Whiskey.

“Kedatangan 12 kapal selam Whiskey tidak lepas dari meningkatnya ketegangan dengan Belanda soal status Papua. Pada 7 September 1959 dua kapal selam tiba di Surabaya dari Polandia yang kemudian diberi nama RI Cakra (401) dan RI Nanggala (402). Nama Cakra diambil dari senjata sakti milik Prabu Kresna, sedangkan Nanggala adalah senjata tanpa tanding milik Prabu Baladewa yang juga kakak Kresna,” tulis Darmawan dalam buku Menyibak Gelombang Menuju Negara Maritim (2018).

Setelahnya, empat kapal selam lagi baru datang pada Desember 1961. Masing-masing diberi nama RI Nagabanda (403), RI Trisula (404), RI Nagarangsang (405), RI Tjandrasa (406). Sisa Enam kapal selam kemudian datang pada Desember 1962. Yakni, RI Alugoro (407), RI Tjundamani (408), RI Widjajadanu (409), RI Pasopati (410), RI Hendradjala (411), dan RI Bramastra (412). Selain 12 kapal selam itu, ikut dibeli pula dua kapal selam yang khusus untuk latihan personel.

Kapal selam Whiskey (Sumber: Commons Wikimedia)

Spesifikasi dari kapal selam Whiskey sendiri tak kalah menarik. Kapal selam ini memiliki panjang 76,6 meter, lebar 6,3 meter, kecepatan 18,3 knots (di atas air), dan 13,5 knots (di bawah air). Berat penuhnya 1.300 ton dan berat kosongnya 1.050 ton, jarak jelajah 8.500 mil laut, dengan bahan bakar solar dan 224 buah baterai.

Kapal Selam Whiskey diawaki oleh 63 orang. lengkap dengan persenjataan torpedo steam 12 buah sepanjang 7 meter, memiliki 6 peluncur torpedo atau petor (4 di haluan, 2 di buritan), 4 petor di depan diisi topedo konvensional biasa sedangkan 2 petor buritan diisi SAET-50.  Maka dari itu, keberadaan Torpedo SAET-50 inilah yang dpaat membuat lawan ciut nyali lawan. Lantaran senjata ini menjadi salah satu torpedo tercanggih di masanya.

Senjata itu diramalkan akan makin menciutkan nyali Belanda yang terkenal berkepala batu. Dikutip dari G. Moedjanto dalam buku Indonesia Abad ke-20 Jilid 2 (1988), sikap Belanda yang demikian ini menyebabkan Indonesia menyiapkan operasi besar-besaran baik melalui laut –termasuk menggerakan 12 kapal selam-- maupun udara. Operasi itu terkenal sebagai operasi Jayawijaya. Tanggal 14 Agustus 1962 ditetapkan sebagai hari penyerbuan.

“Idealnya Indonesia memiliki lebih dari 10 kapal selam yang dapat melakukan patroli pengawasan dan pendeteksian dini di halaman sendiri hingga ke halaman tetangga. Era tahun 1960an (operasi Trikora Irian Barat) Indonesia memiliki 12 kapal selam kelas whiskey ciptaan Uni Soviet (Russia) yang tergolong canggih dimasanya, menjadikan Indonesia jawara dengan kekuatan armada tempur bawah laut terbanyak dan terkuat di belahan bumi selatan, itu pula yang membuat Belanda memilih jalan diplomasi dan angkat kaki dari Irian Barat setelah sebelumnya di peringati oleh Amerika tentang kekuatan senyap TNI AL kala itu,” tutup Haryanto Kadir dalam buku Dinamika Kelautan Nasional (2017).

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.

 

MEMORI Lainnya