Mengenal PPSU: Pasukan Oranye Penjaga Kebersihan Jakarta yang Mentereng Era Ahok
Petuga PPSU atau pasukan oranye membersihkan selokan di Jakarta. (Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Proses Jakarta mempercantik diri membutuhkan banyak tenaga. Petugas Harian Lepas pun direkrut untuk membantu Dinas Kebersihan. Mereka mengerjakan segala macam pekerjaan kasar, dari penyapu jalanan hingga petugas gerobak sampah.

Hajat hidup Petugas Harian Lepas yang kemudian dikenal sebagai petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) kian meningkat. Ada peran Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dibaliknya. Karenanya, petugas yang dijuluki Pasukan Oranye dapat berkerja secara efektif dan maksimal.

Istimewanya Jakarta sudah terkenal sedari dulu kala. Jakarta bak dibangun sebagai mercusuar peradaban bangsa. Narasi itu karena Jakarta mampu menjadi penanda kemajuan zaman. Segala macam bangunan monumental hadir lebih dulu di Jakarta.

Demikian pula dengan segala macam transportasi umum modern. Gelora itu membuat posisi Jakarta dianggap spesial. Barang siapa yang jadi pemimpin DKI Jakarta akan ditugasi untuk mempercantik Jakarta.

Alih-alih hanya mempercantik Jakarta dengan pembangunan belaka, kepala daerah justru diminta ikut menjaga keindahan Jakarta. Tenaga Harian Lepas pun banyak direkrut pada era 1960-an. Mereka yang diperkerjakan di bawah panji Dinas Kebersihan. Mereka memiliki tugas menjaga kebersihan Jakarta.

Petugas PPSU atau pasukan oranye melakukan apel sebelum mulai bekerja. (Antara)

Mereka terbagi dalam beberapa unit sesuai bidang tugasnya. Ada yang menjelma jadi penyapu jalanan. Ada juga yang menjelma jadi sopir truk sampah. Tugas dan wewenang itu kian bertambah tiap tahunnya.

Semua itu mengikuti pembangunan Jakarta yang notabene dikenal sebagai Kota Mertopolitan. Mereka menjelma jadi bagian terpenting yang bertanggung jawab atas keindahan Jakarta. Tanggung jawab itu cukup besar. Sebab, Jakarta adalah Ibu Kota Negara (IKN), alias wajah Indonesia.

Jikalau wajah Ibu Kota Negara saja tak menarik, maka apa kabar dengan daerah lainnya. Jakarta dan Petugas Harian Lepas bak simbiosis mutualisme -- sama-sama untung. Pemerintah DKI Jakarta dapat mengandalkan mereka dalam segala kondisi. Mereka dapat menjaga keindahan Jakarta dari sampah dan lain sebagainya.

"Jadi pasukan oranye itu awalnya (julukan) milik Dinas Kebersihan dari tahun 1960-an. Mereka belajar dari Dinas Kebersihan, termasuk kami kasih contoh standar pakaian dan perlengkapan kerja yang warna oranye," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta Isnawa Aji sebagaimana dikutip laman Kompas.com, 3 Maret 2017.

Pasukan Oranye

Nasib Petugas Harian Lepas tak banyak berubah dari tahun ke tahun. Namun, tidak pada masa pemerintahan Ahok. Kehadiran Petugas Harian Lepas diseriusinya sejak ia menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2013.

Ahok memberikan mandat kepada Biro Tata Pemerintahan untuk membentuk satuan petugas kebersihan dengan ruang lingkup tugas ada di wilayah pemukiman penduduk. Spesipik lagi di tiap kelurahan di Jakarta.

Inisiasi itu dilanjutkan Ahok kala menjadi orang nomor satu Jakarta pada 2015. Petugas harian lepas mulai berganti nama menjadi PPSU. Semuanya tertuang dalam peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 169 Tahun 2015 tentang Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Tingkat Kelurahan.

Kehadiran PPSU begitu membantu. Mereka bekerja di tiap kelurahan dengan 3 sif selama 24 jam. Tiap kelurahan dapat memperkerjakan 40 hingga 70 petugas PPSU.Nama PPSU yang kerap dijuluki Pasukan Oranye (karena kostumnya) terhitung efektif.

Petugas PPSU alias Pasukan Oranye yang menjadi penjaga kebersihan Jakarta. (Antara)

Mereka mampu bekerja dengan giat dan serba bisa. Mereka selalu siap sedia kala ada panggilan tugas dari pemerintah atau warga. Saban hari mereka membersihkan selokan di pemukiman warga. Pun mereka ikut menambal jalan berlubang, memangkas pohon, hingga memperbaiki lampu penerangan.

Efektifitas mereka diakui oleh seisi Jakarta. Apalagi, kala banjir melanda Jakarta. Pasukan Oranye siap membantu warga menangani persoalan banjir hingga surut. Kehebatan itu diapresiasi oleh banyak pihak, termasuk Ahok. Hajat hidup Pasukan Oranye ditingkat.

Mereka pun mendapatkan ragam keistimewaan. Gaji mereka terjamin. Pun Pasukan Oranye dapat prioritas tinggal di rusun dan gratis naik moda transportasi, TransJakarta.

“Upaya lain yang dilakukan BTP adalah pengoptimalan peran dari 15 ribu personil pasukan oranye. Pasukan oranye merupakan sebutan untuk para pekerja PPSU, yang bertugas melakukan pemeliharaan kebersihan dan direkrut oleh kelurahan-kelurahan di Jakarta.”

“Tugasnya adalah memperbaiki dan merawat fasilitas umum. Seperti perbaikan jalan, trotoar, pengecatan kantin, perbaikan saluran air, maupun pemeliharaan taman Jakarta Smart City, tanpa tahun terbit,” terang Rafif Pamenang Imawan dalam buku Sudah Senja di Jakarta (2020).