Bagikan:

JAKARTA - Upaya Jakarta mengejar status sebagai kota metropolitan tak mudah. Ali Sadikin merasakannya. Dana dan ruang gerak pemerintah DKI Jakarta yang terbatas jadi musababnya. Namun, Ali Sadikin tak lantas menyerah.

Ide nyeleneh nan kontroversial dilakukan. Pria yang akrab disapa Bang Ali Sadikin itu mencoba melanggengkan perjudian. Hasilnya gemilang. Pembangunan Jakarta berjalan lancar. Seluruh jalanan Jakarta mampu diaspal rata. Sekalipun kemudian langkah Ali Sadikin dapat kritikan sana-sini.

Ali Sadikin diangkat Bung Karno di tengah ekonomi Indonesia yang morat-marit. Bung Besar menganggap Ali adalah sosok yang tepat dalam mengubah wajah Jakarta yang mulai kumuh. Apalagi, Ali Sadikin adalah sosok yang diyakininya keras kepala dapat menguatkan narasi Jakarta sebagai mercusuar perjuangan bangsa.

Ali Sadikin pun merasa tertantang. Sebagian besar waktunya digunakan untuk belajar terkait permasalahan Jakarta. Ia kerap melakukan kunjungan rahasia (incognito) seorang diri. Kadang kala juga bersama ajudannya.

Ia masuk ke terminal hingga kampung untuk melihat segenap permasalahan yang hadir di Jakarta. Alhasil, masalah Jakarta segera dipetakan. Namun, Ali Sadikin mendapatkan kesulitan lain. Dana yang tersedia untuk membangun Jakarta tak banyak –jikalau tak mau dibilang terbatas.

Ali Sadikin yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dari 1966 hingga 1977. (Perpusnas)

Ali Sadikin putar otak. Ia mencoba mencari cara supaya Jakarta tak melulu mengandalkan dana dari pemerintah pusat. Ide liar pun tak sengaja bersarang di sanubarinya. Legalkan perjudian, salah satunya. Keinginan itu coba dicari celah oleh Ali Sadikin supaya tak melanggar hukum.

Nyatanya, Ali Sadikin menemukan bahwa wewenang penyelenggaraan perjudian sudah ada ketentuannya sejak zaman Belanda. Pun hal itu belum dicabut. Ali Sadikin kemudian bergerak, dan mengabaikan protes banyak pihak dan melegalkan perjudian di Jakarta. Kemudian, ia bergerak melarang segala macam perjudian ilegal.

“Bang Ali mendapat ide. Adakan (judi) lotto/hwa-hwe untuk menyekolahkan anak-anak terlantar. Tingkatkan berbagai pajak, seperti pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Pungut pajak judi setelah disahkan tempat perjudian, khusus buat Tionghoa.”

“Dengan dana yang diperoleh, galakkan gerakan penghijauan Jakarta. Juga adakan lokasi tersendiri bagi pelacur atau WTS (Wanita Tuna Susila) di Kramat Tunggak. Lantaran semua itu, Bang Ali dikasih cap sebagai ‘Gubernur Maksiat’ dan Nyonya Nani Ali Sadikin disbeut Madame Hwa-Hwe. Namun, Bang Ali maju terus tak gentar, berbakti kepada nusa dan bangsa,” cerita Rosihan Anwar dalam buku Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia Jilid 3 (2009).

Duit Judi untuk Aspal Jalan

Keuntungan dari legalnya perjudian itu membuat Jakarta dapat membangun banyak hal. Kondisi kampung-kampung Jakarta yang kumuh mampu disulap Ali Sadikin jadi tertata dengan rangkaian kebijakan dan pembangunan.

Ali Sadikin mencoba berdiri di atas semua golongan. Alhasil, pembangunan ala Ali Sadikin dengan uang perjudian merambah ke pembangunan jalan seluruh Jakarta. Ia ingin seluruh wilayah di Jakarta jalanannya di aspal rata.

Pun jalan yang diaspal oleh Ali Sadikin juga termasuk jalanan kampung yang sebelumnya tempantau dengan kondisi buruk. Kehadiran pembangunan jalan itu begitu memudahkan aktivitas segenap warga Jakarta. Buahnya, Ali Sadikin jadi percaya diri ketika pemimpin dunia berkunjung ke Jakarta.

Mereka tak melihat lagi jalanan yang laksana kubangan kerbau. Segenap warga Jakarta pun mengapresiasi langkah Ali Sadikin membangun jalanan Jakarta dengan aspal rata. Mereka jadi banyak terbantu. Namun, tak sedikit pula yang marah-marah kalau melihat jalanan yang dibangun Ali Sadikin justru berasal dari uang hasil kegiatan judi.

Gubernur DKI Jakarta 1966-1977, Ali Sadikin sempat melegalkan perjudian di Ibu Kota dengan dalih untuk mendapatkan dana pembangunan lewat pajak. (Perpusnas)

Ali Sadikin pun tak ambil pusing. Ia menganggap kritikan angin lalu semata. Sekalipun di protes sana-sini. Ia hanya berkelakar kepada mereka yang mempermasalahkan jalanan untuk segera membeli helikopter. Sebab, semua itu karena sebagian besar jalan aspal di Jakarta dibangun dengan duit haram.

“Setiap orang yang memakai jalan-jalan yang baru diaspal rata di Jakarta dengan gembira berkata: Ah, barulah kita dapat gubernur seperti Ali Sadikin yang bekerja untuk rakyat. Pengunjung-pengunjung asing yang datang kembali di Jakarta dan pernah melihat Ibu Kota RI ini sebagai kota kubangan kerbau menyatakan penghargaan dan kekaguman mereka.”

“Rakyat Ibu Kota merasakan adanya pimpinan di tampuk pemerintahan DKI Jakarta Raya ini. Sebaliknya, tidak kurang banyaknya suara-suara yang dilontarkan menyerang Ali Sadikin. Orang yang memakai jalan aspal yang rata, yang merasa senang, lalu marah jika teringat bahwa dana-dana yang dipergunakan Ali Sadikin datang dari pajak-pajak meja judi atau pertunjukan striptis. Hendak ke mana ini Jakarta dibawa, tanya mereka, dengan diizinkannya perbuatan-perbuatan maksiat serupa ini?” terang Mochtar Lubis dalam buku Tajuk-Tajuk Mochtar Lubis di Harian Indonesia Raya Jilid 3 (2022).