Industri Bir di Zaman Ali Sadikin
Ali Sadikin (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Ali sadikin adalah sosok fenomenal. Di tangan Ali Sadikin, Ibu Kota Jakarta berubah sekaligus bergegas. Sesuai yang dimimpikan Soekarno, Ali Sadikin menjadikan Jakarta sebagai kota yang dikagumi dunia. Kerja keras dan keberanian Ali Sadikin jadi senjata utamanya sebagai Gubernur Jakarta (1966-1977). Selain melegalkan perjudian dan membangun lokalikasi, Ali Sadikin jadi otak utama pemerintah Jakarta terjun dalam bisnis bir. Perusahaan itu kini dikenal dengan nama PT. Delta Jakarta. Bisnis bir itu kemudian menjadi ajian utama Jakarta dalam mempercantik diri.

Dalam membangun Jakarta, Ali Sadikin tak pernah setengah-setengah. Segala macam daya upaya dilakukannya, seperti mencari pemasukan lewat perjudian dan lokalikasi. Dari keuntungan itu, Ali Sadikin membangun ragam fasilitas umum seperti jalanan, puskesmas, maupun gedung sekolah. Akan tetapi, ketika masa arus deras modal dalam negeri dan asing mengalir cepat di Jakarta pada 1970-an, Ali sadikin melihat itu sebagai peluang. Modal yang sebagaian besar mengalir ke industri pariwisata mulai dipelajari Ali Sadikin dengan seksama.

Kesempatan itu diambilnya dengan untuk membangun banyak sarana hiburan dan rekreasi. Setelahnya, Ali sadikin mengembangkan sarana hiburan yang sudah ada. Utamanya, tempat yang bersifat ekslusif seperti klub malam. Untuk itu, Ali turut memberikan kesempatan, perlindungan, dan perangsang dalam bentuk insentif bagi anggota masyarakat untuk mengembangkan sektor ini. Sekalipun di kalangan alim ulama banyak meributkan langkahnya karena dianggap banyak mudarat, ketimbang manfaat.

“Bagi Gubernur Jakarta Raya Ali Sadikin mungkin pada mulanya juga adalah berani. Tapi rupanya bukan cuma itu. Disamping berani bagi sang Gubernur adalah menambah atribut yang dianggapnya harus ada bagi sebuah kota metropolitan, setuju atau tidak setuju. Maka sejak Ali Sadikin memproklamirkan hal itu. klub-klub malam pun bertumbuhan bagaikan bibit bagus yang direka oleh petani yang bagus.” tulis laporan Majalah tempo berjudul Malam Bayangan dan Kenyataan Night Club Antara Terang & Gelap (1971).

Ilustrasi foto (Sumber: Commons Wikimedia)

Kala dulu Jakarta hanya mengenal klub populer seperti Yacht Club, Dharman Nirmala atau Transaera. Nama-nama itu kemudian tenggelam dengan cepat. Penyebabnya adalah kemunculan klub hiburan baru. Semua klub itu berlomba-lomba memberikan pendapatan tambahan ke kas pemerintah DKI Jakarta. Tercatat, pada tahun 1971, sudah hadir lebih dari 21 klub malam di Jakarta. Di tambah dengan terdapatnya sekitar 25 bars dan restoran.

"Saya ingin Jakarta hidup 24 jam," kata Ali Sadikin.

Semua itu untuk mewujudkan mimpi Jakarta dikagumi oleh dunia. Peranan pariwisata, kata Ali Sadikin bukan semata-mata sebagai objek rekreasi belaka. Melainkan, juga turut memberikan posisi ekonomi dan kesempatan bekerja bagi banyak orang. Oleh sebab itu, Ali sadikin berusaha keras dalam mengembangkan dan membina kepariwisataan di wilayah DKI Jakarta. Ali Sadikin yang dijuluki Gubernur Maksiat itu pun berkelakar: Dengan adanya night club yang menghidupi 5 ribu orang, belum termasuk keluarganya, saya kira saya mendapat pahala. Pahala itu saya kira lebih tinggi dari maksiat.

Dimulainya investasi bir

Iklan bir (Sumber: Commons Wikimedia)

Seiring bertumbuhnya klub malam, diskotek, dan pub di Jakarta, industri hiburan malam Jakarta mencapai puncak kejayaan. Seperti di analisis oleh Ali Sadikin, tempat-tempat itu, tak hanya menjual suasana dan musik belaka. Sebab, ada minuman keras (miras) berupa bir yang dijadikan sebagai pelumas obrolan. Ali pun melirik potensi pendapatan dari kehadiran bir di industri hiburan malam. Alhasil, Ali Sadikin mulai mengambil manfaat pajak bir, hingga kemudian mulai berinvestasi pada bir.

“Untuk merealisasikan target penerimaan sebagaimana yang direncanakan dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanda daerah, sejak tahun anggaran waktu itu dilakukan langkah-langkah agresif. Beberapa pajak tertentu, seperti Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Sumbangan Wajib Pemeliharaan Pembangunan Prasarana Daerah (SWP3D), Pajak Pembangunan I, Pajak Tontonan, Pajak atas kendaraan tidak bermotor, Pajak Reklame, Pajak Minuman Keras, dan Pajak Bangsa Asing dilakukan secara intensif,” cerita Ali Sadikin dikutip Ramadhan K.H. dalam buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1992).

Pabrik bir (Sumber: Commons Wikimedia)

Sedang untuk memulai investasi pada bir, Ali Sadikin melihat celah banyak perusahaan penyuplai bir di Jakarta yang masih sedikit. jumlah itu berbanding terbalik dengan pasar bir yang terus terbuka lebar sedari zaman belanda. Lantaran dulu kala orang Belanda dan orang China yang melanggengkan kebiasaan minum miras. Kebiasaan itu minum miras berkembang hingga dekade 1970-an. Ali Sadikin merasa investasi pada perusahaan bir akan sangat menguntungkan pemerintah DKI Jakarta.

Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah DKI Jakarta melirik perusahaan bir terkenal di Jakarta bernama PT. Budjana Djaja-Pabrik Bir Jakarta. Perusahaan bir ini langgeng dengan produk andalan merek Anker. Yang mana, perusahaan itu sering kali berganti pemilik sejak 1932. Tercatat, perusahaan itu awalnya dimiliki oleh orang Eropa dengan panji perusahaan bernama NV Archipel Brouwerig Compagnie. Pernah pula dipegang oleh orang Jerman dan bersalin nama menjadi De Orange Brouwerij. Sampai akhirnya di nasionalisasikan. Setelahnya, ditawari oleh Ali Sadikin untuk joint venture dengan pemerintah DKI Jakarta.

Joint Venture adalah satu dari dua konsep pengembangan perusahaan daerah ala Ali Sadikin. Dikutip dari Ali Sadikin sendiri dalam bukunya Gita Jaya (1977), upaya itu untuk menyiasati aturan dalam UU No. 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah. Sebuah aturan yang mengharuskan pemerintah daerah untuk membentuk Perusahaan Daerah (PD), bila mana ingin berkerja sama komersial dengan swasta.

Lantas, Joint Venture yang digelorakan Ali dapat meleburkan seluruh sistem perusahaan dengan modal swasta asing. Lebih lagi, Ali menambahkan konsep lain berupa Joint Operation/ Joint Production, yakni penggabungan kegiatan operasi perusahaan dengan modal swasta nasional. Puncaknya, dua konsep itu membuat perusahaan swasta tak sepenuhnya menjadi PD. Lantaran perusahaan itu tetap berbentuk Perseroan Terbatas (PT).

Di bawah panji kepemimpinan Ali Sadikin inilah bekas NV Archipel Brouwerij Compagnie resmi mengubah nama menjadi PT. Delta Jakarta. Tanpa menunggu lama, Delta Jakarta sudah dapat meraih keuntungan berlipat. Terus meningkat. Kinerjanya cukup bagus dari lini bisnis lainnya milik pemerintah DKI. Pada akhirnya, produk andalannya tak cuma Anker Beer saja. seiring perjalanan waktu, Delta Jakarta juga memegang merek dagang, Carlsberg, San Miguel Pale Pilsen, San Mig Light dan Kuda Putih. Setidaknya, merek dagang itu masih Berjaya hingga hari ini.

 

MEMORI Lainnya