Bagikan:

JAKARTA – Sejarah hari ini, 227 tahun yang lalu, 28 September 1795, Maskapai dagang Belanda VOC membangun Pemakaman Kebon Jahe Kober (Kini: Museum Taman Prasasti). Pembangunan makam yang terletak di kawasan Tanah Abang itu dilakukan secara terburu-buru.

Tingginya angka kematian di Batavia (kini: Jakarta) jadi muasalnya. Sedang makam yang lain sudah penuh. Sebelumnya, Batavia dilanda wabah penyakit malaria dan kolera. Keduanya penyakit itu jadi pembunuh nomor satu di Batavia.

VOC memang lihai dalam memonopoli perdagangan rempah di Nusantara. Namun, mereka justru tak hebat dalam menjaga lingkungan hidup di Batavia. Padahal, Batavia adalah pusat pemerintahannya. Kota yang dulunya dibangun menyerupai tata kota di Belanda mulai kehilangan keindahan.

Litografi (gambar cetakan batu) karya Rappard yang menggambarkan sebuah monumen untuk Pater Henrikus van der Grinten di Kebonjahe Kober, Tanah Abang, kini Museum Taman Prasasti. (Wikimedia Commons)

Pembangunan yang serampangan, pembukaan lahan skala besar, dan munculnya pabrik adalah biang keladi. Aktivitas itu harus dibayar mahal dengan rusaknya lingkungan hidup. Air tercemar dan penyakit pun datang.

Malaria dan kolera adalah yang paling mematikan. Orang Belanda banyak jadi korban. Rumah sakit di Batavia kewalahan. Alih-alih dapat sembuh, yang masuk rumah sakit justru banyak yang meninggal dunia. Saban hari pun berita duka selalu ada.

Pemakaman acap kali ramai. Bahkan, hampir seluruh kuburan di Oud Batavia (Kini: Kawasan Kota Tua) tak kuasa menampung banyaknya korban. Pemerintah melakukan upaya pencegahan. Namun, berujung kegagalan.

“Tiba-tiba sebagian besar penghuni dua permukiman Indonesia dekat kanal baru itu jatuh sakit, dan dari situ penyakit itu menyebar ke Batavia. Angka kematian naik sampai ke tingkat yang mengerikan, dan tetap tinggi sampai abad berikut. Pengunjung asing yang datang ke Batavia dan menjalin pertemanan di sana, sering kali tidak menemukan satu pun dari temannya masih hidup ketika mereka datang lagi setengah tahun kemudian setelah menjelajah Nusantara.”

Pemakaman Kebon Jahe Kober yang dibangun pada masa VOC dan resmi digunakan pada 28 September 1795. (Wikimedia Commons)

“Dari gejala penyakit tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa wabah itu adalah malaria, tapi tidak bisa dijelaskan mengapa penyakit itu muncul begitu tiba-tiba atau, paling tidak, mengapa penyakit itu menyebar luas begitu mendadak setelah 1731 dan apakah penggalian kanal baru itu berhubungan dengan hal itu. Dokter masa itu gagal menemukan penyebabnya,” ungkap Bernard H.M. Vlekke dalam buku Nusantara (2008).

Jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar membuat pemakaman yang ada hampir penuh. Apalagi korbannya terus bertambah. VOC pun paham benar masalah itu. Upaya menanggulangi perihal pemakaman dilakukan. VOC lebih memilih membangun pemakaman baru dibanding meningkatkan perlawanan terhadap wabah.

Pemakaman baru itu diberi nama Pemakaman Kebon Jahe Kober. Pemakaman yang dibangun pada 28 September 1795 memiliki luas 5,5 hektare. Orang Belanda yang dikubur di sini dari berbagai macam kalangan. Dari pengusaha hingga tokoh agama. Orang-orang pun menjuluki pemakaman tersebut sebagai Graaf der Hollander: Kuburan Orang Belanda.

Pemakaman Kebon Jahe Kober dijadikan Museum Taman Prasasti pada 9 Juli 1977, yang merupakan museum terbuka dengan koleksi makam, batu nisan, dan prasasti mencapai 1.372 buah. (Wikimedia Commons)

“Pemakaman Tanah Abang terletak jauh dari luar kota Batavia waktu itu. Demi pertimbangan-pertimbangan kesehatan dan karena semua kuburan Kristen telah penuh, pemerintah menganggap perlu untuk membuka sebuah pekuburan baru. Kuburan baru itu mulai dipergunakan pada tahun 1795 di atas tanah yang dihibahkan oleh Van Riemsdijk.”

“Letaknya begitu jauh dari pusat pemukiman sehingga jenazah-jenazah harus diangkut dengan perahu lewat Kali Krukut. Tidak terlalu mengherankan bahwa orang segan menguburkan keluarganya di tempat itu. walaupun dalam tahun 1799 semua kuburan Kristen di dalam kota Batavia (yang batas sebelah selatan terletak di sekitar Glodok sekarang) dinyatakan tertutup alias tidak boleh menerima penghuni baru,” tertulis dalam buku Batavia: Kisah Jakarta Tempo Doeloe (1988).

Pembangungan Pemakanan Kebon Jahe Kober, Tanah Abang pada 28 September 1795 menjadi catatan sejarah hari ini di Indonesia.