Sungai Berdarah dalam Pembantaian Rawagede
Para ahli waris korban pembantaian Rawagede membawa plakat dalam upacara peringatan tragedi tersebut, sekaligus permintaan maaf Pemerintah Belanda pada 9 Desember 2011. (BBC)

Bagikan:

JAKARTA - Agresi Militer Belanda I banyak membawa luka. Belanda tak menganggap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. penjajah Belanda justru masih meyakini Indonesia adalah bagian dari mereka. Segala daya upaya dilakukan. Tanpa terkecuali dengan jalur kekerasan. Namun, jalur kekerasan yang ambil Belanda acap kali kelewat batas. Dalam pembantaian Rawagede di antara Karawang-Bekasi, misalnya. Seisi kampung Rawagede dibantai Belanda. Karenanya, aliran Sungai Rawagede berwarna merah darah.

Keinginan Belanda untuk terus menjajah Indonesia telah mendarah daging. Proklamasi kemerdekaan yang menjadi legitimasi Indonesia lepas dari belenggu penjajahan tak dipedulikan. Belanda terus memberikan tekanan kepada Indonesia. Sebuah negara yang baru seumur jagung.

Negeri Kincir Angin lewat Netherland Indies Civil Administration (NICA) pun bersiasat. Mereka membonceng Sekutu (Inggris) ke Indonesia. Tujuannya jelas. NICA ingin menegakkan kembali kekuasaannya di bumi Nusantara. Apalagi, Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Alasan itu buat NICA merasa Indonesia sebagai negeri yang tak bertuan dan butuh direbut kembali.

Tentara NICA dalam Agresi Militer Belanda II 1947. (Wikimedia Commons) 

Kedatangan NICA di Nusantara pun diikuti oleh kedatangan banyak militer Belanda. kekuatan militer sengaja dilibatkan untuk memberikan narasi teror. Teror itu dianggap ampuh untuk memukul mundur pejuang kemerdekaan.

Jauh panggang dari api. Nyatanya ajian itu meleset. Pejuang negeri justru makin bersemangat melakukan perlawanan. Pun hanya ada dua opsi dalam pikiran para pejuang kemerdekaan waktu itu: merdeka atau mati. Sebab, kaum bumiputra sudah muak dengan penjajahan yang berlarut-larut, dari Belanda ke Jepang, Belanda pun tak mau kalah. Mereka menurunkan pasukan berskala besar. Agresi Militer Belanda I, namanya.   

“Secara umum, Belanda merasionalkan keputusan mereka untuk menggunakan kekuatan militer dengan alasan bahwa pemerintah Republik tidak cukup mengawasi unsur-unsur ekstremis yang tersebar dalam wilayah Republik sehingga menghalangi implementasi Pejanjian Lingarjati yang sudah dibuat. Meskipun Republik memang belum mampu mengawasi secara menyeluruh semua daerah organisasi-organisasi bersenjata tidak tetap, pengawasan terus ditingkatkan.”

“Ketika Belanda melancarkan agresinya, lingkup maupun efektivitas pengawasan Republik atas wilayahnya sendiri jauh lebih besar daripada sebelumnya. Disiplin dan integrasi dari organisasi-organisasi bersenjata juga lebih besar daripada sebelumnya. Sungguh ironis bahwa demi menahan agresi Belanda secara efektif, maka organisasi militer Republik disebar dan komando satuan bersenjata perlu diberi kekuasaan otonom kembali,” ungkap George McTurnan Kahin dalam buku Nasionalisme & Revolusi Indonesia (2013).

Sungai Berdarah

Alih-alih menyerah, pejuang kemerdekaan justru memilih angkat sejata. Mereka pun menjadikan banyak desa sebagai basis gerilya. Desa Rawagede (kini: Desa Balongsari) di antara Karawang-Bekasi, misalnya. Pasukan NICA pun mengetahui hal itu. Mata-mata pun kerap diturunkan. Namun, tiada yang mampu menembus masuk di antara pejuang kemerdekaan.

Adapun yang berhasil masuk, maka dengan segera identitas penyamarannya terbongkar. Belanda mulai kelimpungan. Sebab, pejuang kemerdekaan Kapten Kustaryo dan kawan-kawan yang bertahan di Rawagede sulit ditaklukkan.

Belanda frustrasi. Di tengah itulah muncul ide untuk melakukan genosida di Desa Rawagede. Siasat pun dijalankan. Pada 9 Desember 1947, Belanda segera mengepung Desa Rawagede subuh-subuh.

Pasukan Belanda kala itu berjumlah 300 orang. Jumlah yang cukup untuk menyebarkan benih teror. Semua orang yang berada di desa diminta untuk keluar rumah. Namun, cuma laki-laki yang diminta berbaris. Sedang wanita dan anak-anak dapat terbebas.

Mereka ditanya seputar pejuang kemerdekaan yang sering berada di wilayah mereka. Namun, warga Rawagede enggan membuka suara. Semua laki-laki langsung diterjang peluru sebagai imbasnya. Mayat dan darah bergelimpangan di tengah lapangan.

Tentara NICA dalam Agresi Militer Belanda II tahun 1947. (Wikimedia Commons)

Belanda lalu menerjang sisa laki-laki yang mencoba meloloskan diri dengan cara terjun ke sungai. Tanpa belas kasih Belanda menembak seluruhnya. Karenanya, sungai di sekitar rawagede dipenuhi mayat dan darah penduduk desa.

“Namun, karena patroli pasukan Belanda menggunakan anjing pelacak, keberadaan mereka akhirnya diketahui. Setiap rumpun eceng gondok di sungai tersebut kemudian diberondong peluru. Akibatnya, dalam sekejap mayat-mayat bergelimpangan.

"Jeritan kesakitan terdengar di mana-mana. Hal itu malah mengakibatkan berondongan peluru yang makin membabi buta. Dalam waktu yang bersamaan, sungai kecil yang merupakan saluran pembuang itu, airnya seketika berubah warna menjadi merah karena darah,” tutup Her Suganda dalam buku Rengasdengklok: Revolusi dan Peristiwa (2009).

Seorang ahli waris korban pembantaian Rawagede berfoto di depan Monumen Tragedi Rawagede 9 Desember 1947. (Antara/M Ibnu Chazar)

Tragedi memakan korban jiwa sebanyak 431 orang. Mereka yang tewas itu hadir dari ragam kalangan. Dari orang tua, suami, atau sanak famili. Belanda pun tak mengakui genosida dilakukan sebanyak itu korbannya jiwanya. Menurut Belanda korbannya hanya mencapai 150 orang. Tak lebih.   

Segenap rakyat Indonesia pun mengutuk peristiwa pembantaian Rawagede. Penyair Chairil Anwar terutama. Penyair angkatan 45 itu pun mereka peristiwa itu dalam puisinya yag kesohor: Karawang-Bekasi. Berikut penggalannya:

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi,
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
Terbayang kami maju dan mendegap hati?