Sejarah Tinju Profesional Berawal dari Inggris
Pementasan pertandingan tinju profesional di Inggris pada tahun 1930. (ENCYCLOPEDIA BRITANNICA)

Bagikan:

JAKARTA- Perebutan gelar juara tinju kelas berat WBC antara Tyson Fury vs Dillian Whyte yang akan digelar di Stadion Wembley, London, Inggris pada Sabtu 23 April 2022 atau Minggu dini hari di Indonesia, mengingatkan publik bahwa sejarah tinju profesional dimulai dari sana. Negeri Ratu Elizabeth II itu memulai segalanya.

Dari semula tinju merupakan aktivitas bela diri yang ditujukan untuk berperang, menjadi aktivitas pertandingan gaya perkelahian jalanan, hingga akhirnya Inggris membuatnya lebih berbudaya. Sederet aturan lantas disematkan untuk membuat tinju lebih manusiawi.

Lukisan tinju tangan kosong di masa awal aktivitas ini diperkenalkan sebagai olahraga profesional di Inggris. (BBC/HULTON ARCHIEVE)

"Ada hipotesis yang gamblang untuk menjelaskan awal munculnya olahraga modern, berhubungan dengan fakta bahwa Inggris pada abad ke-18 adalah negara indrustri pertama di dunia. Dengan kata lain, ada hubungan antara aktivitas olahraga dan revolusi industri,” tulis Eric Dunning, profesor dari Leicester University, Inggris dalam buku Sport Matters: Sociological Studies of Sport, Violence, and Civilization.

Keisengan Bangsawan

Pertandingan tinju profesional yang pertama tercatat dalam sejarah adalah duel yang digelar oleh seorang bangsawan Inggris, Christopher Monck pada 1681. Monck yang punya gelar 2nd Duke Albemarle iseng-iseng mengadu kepala pelayan dan tukang daging di purinya untuk sebuah duel bayaran. Tentunya pertarungan itu tanpa aturan yang dibakukan, alias sesuka yang membayar.

Keisengan Monck itu lantas menular ke bangsawan-bangsawan lainnya. Hingga akhirnya pementasan pertarungan tinju bayaran secara rutin digelar di Royal Theatre of London pada 1698. Pertandingan tinju masa itu dikenal sebagai bare knuckle boxing, atau tinju tangan kosong alias tidak mengenakan sarung tinju.

Petinju yang tampil mendapat bayaran, plus pembagian dari uang taruhan. Tidak ada aturan jumlah ronde, tidak ada pembagian kelas. Memukul boleh, membanting dan memiting pun diizinkan. Mereka bertarung sampai salah satu menyerah, mungkin juga tewas. Sesederhana itu peraturan yang diberlakukan.

John Sholto Douglas atau 9th Marqueess of Queensberry, membuat aturan pertandingan tinju profesional tahun 1867 dan masih dipakai hingga sekarang. (Instagram/@IDavey)

Meskipun aktivitas yang dirintis Monck itu ilegal, namun cepat menjadi populer. Aktivitas itu terus berjalan, hingga menghasilkan salah satu petarung yang paling top bernama James Figg. Saking sering menang dan terkenal, Figg adalah petinju pertama yang menyandang gelar Juara Inggris pada 1719. Gelar itu bertahan selama 15 tahun.

Kehebatan Figg menurun kepada salah satu anak didiknya yang bernama Jack Broughton. Anak didik Figg ini tidak hanya jago berkelahi, namun juga visioner. Broughton melakukan inovasi dengan memperkenalkan sarung tinju.

Dia juga membuat aturan jika ada petinju yang tumbang dan dalam 30 detik tidak bangkit, maka dia dinyatakan kalah. Aturan baru yang sederhana itu diperkenalkan Broughton pada 1743. Pemikiran Broughton yang inovatif itu membuatnya disebut Bapak Tinju Inggris.

Awal Kemunculan Ring

Aturan Broughton itu bertahan hingga 95 tahun, sampai disempurnakan lewat London Prize Ring Rules pada 1838. Peraturan ini mengharuskan sebuah pertandingan tinju diadakan dalam arena terbatas yang disebut ring. Itulah pertama kali ring diperkenalkan. Aturan baru ini juga memperkenalkan sesi istirahat selama 30 detik bagi petinju untuk minum.

Serangan lewat tendangan, bantingan, sikutan, cekikan, cakaran, tandukan, dan serangan ke arah kemaluan adalah terlarang. Petinju hanya diizinkan memukul dengan kepalan tangan, dengan sasaran kepala atau badan. London Prize Ring Rules diperbarui pada 1853, dengan mencantumkan 29 aturan pertarungan.

Tinju profesional modern saat ini berpatokan pada aturan Marquees of Queensberry Rules, yang merupakan penyempurnaan dari London Prize Ring Rules. Diciptakan oleh John Sholto Douglas yang punya gelar 9th Marqueess of Queensberry pada 1867.

Tyson Fury dan Dillian Whyte, pertarungan mereka di Stadion Wembley pada Sabtu 23 April 2022 mengulang sejarah laga sesama petinju Inggris dalam perebutan gelar kelas berat WBC antara Frank Bruno vs Lennox Lewis pada 1 Oktober 1993. (SKY SPORTS)

Selain ukuran ring yang distandarkan 6-7 meter, aturan baru ini memperkenalkan soal ronde dan durasinya. Jumlah ronde belum dibatasi, namun durasi tiap ronde dibatasi 3 menit. Tiap perpindahan ronde diberi jeda 1 menit bagi petinju untuk memulihkan kondisi.

Marqueess of Queensberry Rules juga memperjelas soal kategori knockdown, hanya ada wasit selain dua petinju di dalam ring, penggunaan sarung tinju yang lebih tebal, petinju tidak dibolehkan memakai sepatu bersol tebal, dan banyak lagi. Total ada penambahan 12 butir pada London Prize Ring Rules, yang semula berisi 29 aturan.

Perebutan gelar kelas berat WBC antara dua petinju Inggris Tyson Fury vs Dillian Whyte akhir pekan ini, juga mengulangi sejarah 29 tahun lalu. Pada 1 Oktober 1993, juara kelas berat WBC asal Inggris, Frank Bruno, ditantang sesama petinju Inggris, Lennox Lewis dalam laga di Cardiff, Wales. Bruno kalah TKO ronde 7, namun sabuk juara masih bertahan di Inggris dengan menjadi milik Lewis.

Terkait