Soal Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Stafsus Erick Thohir Arya Sinulingga Sebut Pernyataan Faisal Basri Subjektif dan Konyol
Staf Khusus Kementerian BUMN, Arya Sinulingga. (Foto: Dok. Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga merespons pernyataan ekonomi senior Faisal Basri yang menyebut bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) tidak akan untung. Menurut dia, pernyataan tersebut salah total.

"Ini kita menyayangkan omongan Faisal Basri, Faisal Basri tuh salah total. Yang mengatakan sampai kapanpun pasti rugi, enggak mungkin itu. Ya mana ada investor mau masuk dengan kondisi nanti rugi. Itukan konyol. Faisal Basri konyol betul itu," katanya kepada wartawan, Kamis, 14 Oktober.

Arya juga menyayangkan pernyataan Faisal tidak berbasis data. Menurut Arya, apa yang disampaikan Faisal hanya bersifat subjektif sehingga tidak memiliki angka-angka pasti.

"Dan kelihatan beliau itu tidak pakai angka, tidak pakai analisa hanya subjektifnya aja yang muncul. Jadi itu kesalahan besar. Sayang sekali Faisal Basri itu ngomong seperti itu. Itu enggak benar," tuturnya.

Menurut Arya, belum ada angka pasti perihal pembengkakan biaya atau cost overrun pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Saat ini, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) tengah melakukan audit atas perkara cost overrun tersebut.

Padahal, manajemen PT Kereta Api (Persero) sudah membeberkan pembengkakan KCJB mencapai 3,8 miliar hingga 4,9 miliar dolar AS atau setara Rp54 triliun hingga Rp69 triliun.

"Ini perlu saya sampaikan bahwa memang kita masih menghitung. Tunggu dulu nih. Cost overrun itu muncul berapa angka yang sebenarnya. Setelah diaudit oleh BPKP baru kita bisa tahu angka yang sebenarnya," katanya.

Sebelumnya, Ekonom senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengkritik sejumlah proyek infrastruktur transportasi yang dibangun pemerintah. Menurut Faisal, proyek-proyek infrastruktur tersebut merupakan pemborosan. Adapun proyek yang dimaksud yakni bandar udara (bandara), pelabuhan hingga kereta cepat.

Faisal mengatakan proyek-proyek infrastruktur tersebut dianggap mubazir karena tidak akan menguntungkan namun investasinya sangat besar. Karena itu, ia menilai, pemerintahan saat ini sangat boros, bahkan dapat menyebabkan kebangkrutan negara.

"Dibangun proyek yang enggak karu-karuan proyek kereta cepat lah yang tadinya business to business sebentar lagi mau disuntik pakai APBN. Kertajati lebih baik barangkali jadi gudang ternak saja, pelabuhan Kuala Tanjung dibangun dekat Belawan, LRT Palembang, sekadar beberapa saja yang saya sampaikan jadi ini menurut saya kesimpulannya sudah salah pucuk pimpinan," katanya dalam diskusi virtual, Rabu, 14 Oktober.

Lebih lanjut, Faisal juga menyinggung bahwa sebentar lagi rakyatlah yang akan membiayai proyek tersebut.

"Bentar lagi rakyat membayar Kereta Api Cepat yang barangkali ongkosnya Rp400 ribu sekali jalan dan diperkirakan sampai kiamat pun tidak balik modal," tuturnya.