Bagikan:

JAKARTA - Pengusaha yang tergabung dalam Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menyambut baik rencana impor 1,5 juta sapi oleh Prabowo Subianto.

Hal itu sebagai upaya menambah populasi sapi perah, meskipun impor sapi bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Apalagi, jika kebutuhannya sangat besar.

Anggota Dewan Penasehat PPSKI Teguh Boediyana mengatakan bahwa untuk meningkatkan produksi susu sapi segar dalam negeri, maka harus menambah jumlah populasi sapi perah yang ada saat ini.

Sementara, sambung Teguh, meningkatkan jumlah populasi tidak lah mudah. Mengingat, sapi membutuhkan waktu yang relatif lebih panjang untuk berkembang biak.

Karena itu, lanjut Teguh, peningkatan populasi sapi perah dengan upaya impor menjadi sesuatu yang realistis. Meskipun, diakui Teguh, melakukan impor pun tidak lah mudah.

“Kita setuju peningkatan populasi dengan impor karena itu pilihan yang realistis. Cuma tidak mudah mendapatkan bibit dari sapi perah ini. Tidak mudah, kita butuhnya akan sangat besar kalau kita mau swasembada,” katanya saat dihubungi VOI, di Jakarta, Rabu, 28 Februari.

Saat ini, sambung Teguh, populasi sapi perah di Indonesia hanya berkisar 600.000 ekor. Dimana, hanya 300.000 ekor betina yang dapat diambil susunya. Jumlah tersebut, hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan susu segar nasional. Sedangkan pasokan tersebut sudah terserap oleh industri pengolahan susu.

Sementara, lanjut Teguh, 80 persen kebutuhan susu segar dalam negeri dipenuhi melalui impor. Dengan adanya program makan siang dan susu gratis, maka otomatis akan meningkatkan konsumsi susu secara nasional.

Karena itu, menurut Teguh, mau tidak mau impor sapi menjadi solusi yang realistis untuk dilakukan demi menggenjot produksi susu segar dalam negeri.

“Cara menggenjotnya ya kita harus salah satunya mengimpor sapi-sapi bibit untuk sapi perah. Itu enggak ada pilihan lain selain meningkatkan produktivitas sapi perah yang ada,” jelasnya.

Sebelumnya, Calon Presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto berencana mengimpor sapi perah sebanyak 1,5 juta ekor untuk memenuhi kebutuhan susu sapi dalam program susu gratis.

Prabowo bilang, sapi-sapi ini akan menjadi bibit dan nantinya jumlah sapi akan bertambah banyak. Dengan begitu, kebutuhan susu dapat dipenuhi dari produksi di dalam negeri.

“Jadi kita mungkin harus impor satu juta atau 1,5 juta sapi dalam 3 tahun. Dia akan melahirkan kita akan punya tiga juta. Kira-kira begitu strategi kita. Ini tidak instan, tetapi (bisa terwujud jika ada will-nya, ada kehendak,” tegasnya.