Naftali Bennet, PM Baru Israel yang Lebih Keras soal Palestina ketimbang Netanyahu
PM Israel Naftali Bennet (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Minggu, 13 Juni waktu setempat, parlemen Israel ketuk palu menyepakati pembentukan pemerintahan baru. Naftali Bennet ditunjuk sebagai Perdana Menteri (PM) menggantikan Benjamin Netanyahu. Banyak yang memprediksi ini akan lebih gawat bagi Palestina. Kebencian Naftali Bennet pada Palestina telah masyhur.

Penunjukkan Bennet sekaligus menandai berhentinya 12 tahun kekuasaan Netanyahu. Politikus sayap kanan itu dilantik untuk memimpin "pemerintahan perubahan." Kesepakatan ini diraih dengan hasil pemungutan suara yang terpaut tipis, 60-59. Bennet akan memimpin koalisi partai yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebagai bagian kesepakatan bagi kuasa, Bennet akan memimpin pemerintahan baru selama dua tahun, tepatnya September 2023. Setelah itu Bennet akan menyerahkan kursi perdana menteri kepada Yair Lapid, pemimpin sentris Yesh Atid. Dilaporkan AFP, Netanyahu sendiri berjalan ke arah Bennet dan menjabat tangannya usai pemungutan suara.

Meski begitu, selama sesi debat parlemen yang dikenal dengan istilah Knesset, Netanyahu mengatakan, "Kami akan kembali." Netanyahu sendiri akan tetap menjadi kepala partai sayap kanan, Likud dan memimpin barisan oposisi. Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden juga telah mengucap selamat. Biden berharap dapat segera bekerja sama dengan Bennet.

Siapa Naftali Bennet dan seberapa keras ia pada Palestina?

Dikutip dari berbagai sumber, Naftali Bennet sejatinya memiliki kedekatan dengan Benjamin Netanyahu. Pria 49 tahun bahkan sempat dikenal sebagai 'murid didikan' Netanyahu. Bennet pernah menjadi kepala staf sang mantan PM dalam periode 2006 hingga 2008, sebelum hubungan keduanya retak.

Bennett meninggalkan Partai Likud pimpinan Netanyahu. Setelah itu Bennet bergabung dengan partai sayap kanan Rumah Yahudi. Bersama partai keagamaan itu Bennet meraih sukses dalam Pemilu 2013 dan menjadi anggota parlemen. Dari situ Bennet menjabat posisi menteri ekonomi dan menteri pendidikan dalam setiap pemerintahan koalisi.

Naftali Bennet bersama Benjamin Netanyahu (Sumber: Commons Wikimedia)

Bennet baru copot dari posisi-posisi prestis itu pada 2019. Pada tahun itu aliansi Kanan Baru bentukannya gagal meraih kursi dalam pemilihan. Sebelas bulan kemudian Bennet kembali ke parlemen sebagai Ketua Partai Yamina. Bersama partai barunya Bennet mengarungi lembah politik Israel.

Ketokohannya menghasilkan. Bennet yang lama memendam ambisi menjadi perdana meteri berhasil mewujudkan mimpinya meski Partai Yamina hanya punya tujuh kursi di parlemen. Ketokohan Bennet bergaung lewat dinas kemiliteran dan dunia bisnis yang ia geluti. Bennet sempat menjadi anggota pasukan khusus Angkatan Darat Israel.

Pensiun dari militer, Bennet kemudian berbisnis. Ia menciptakan dan menjual perusahaan hi-tech. Dari sinilah Bennet mendapat kekayaan besar hingga mengangkat dirinya menjadi miliarder. Karier politik Bennet dimulai dari titik itu. Di politik, Bennet kerap disebut ultra-nasionalis. Bahkan Bennet mengklaim lebih kanan daripada Netanyahu.

Bennet juga dikenal lebih terang-terangan dalam sikap-sikap berlawanan terhadap Palestina. Bennet pernah mengatakan: Tidak pernah ada negara Palestina.

Naftali Bennet (Sumber: Commons Wikimedia)

Hal itu diungkap Bennet ketika merespons sikap kontra terhadap pendudukan Israel di Tepi Barat. Menurut Bennet Israel tak pernah menduduki Tepi Barat karena Palestina bahkan tak pernah ada. Pernyataan Bennet sesuai dengan sepak terjangnya. Bennet dikenal sebagai sosok yang gencar membela Israel sebagai negaranya bangsa Yahudi.

"Ketika Anda masih berayun di pohon-pohon, kami sudah punya negara Israel di sini," kata Bennet.

Meski sempat berkomentar bahwa Israel tidak punya klaim atas Gaza pada penarikan pasukan tahun 2005, Bennet dikenal keras berpegang pada klaim sejarah dan keagamaan Yahudi terhadap Tepi Barat, Jerusalem Timur, bahkan Dataran Tinggi Golan di Suriah. Wilayah-wilayah itu adalah kawasan yang diduduki Israel sejak Perang Arab 1967.

[MEMORI: Perang Enam Hari Israel-Arab yang Landasi Pendudukan atas Palestina]

Bennet dikenal sebagai sosok yang aktif mengadvokasi hak permukiman Yahudi di Tepi Barat. Bennet pernah menjadi Ketua Dewan Yesha, sebuah kelompok perwakilan politik untuk para pemukim Yahudi.

Bagi Bennet, urusan permukiman Yahudi adalah isu paling penting. Bennet bahkan beberapa kali menunjukkan sikap tak percayanya pada sang mantan PM. Bennet yang keturunan Amerika Serikat (AS) adalah sosok yang lihai dalam urusan media dan propaganda. Ia sering tampil di jaringan televisi asing untuk membela aksi-aksi Israel.

Dalam pernyataan lain Bennet juga menyebut konflik Palestina tidak bisa diselesaikan namun justru harus dilanggengkan. Bennet menolak tegas "solusi dua negara" atau ide pendirian negara berdampingan Israel-Palestina. "Selama saya punya kekuasaan dan kendali, saya tidak akan menyerahkan tanah Israel satu sentimeter pun. Titik," Bennet.

Serangan Israel ke Palestina (Sumber: Reuters via Antara)

Lebih dari itu, Bennet juga keras terhadap keberadaan kelompok-kelompok perlawanan di Palestina. Bennet, pada tahun 2013 menyebut kelompok-kelompok itu sebagai teroris. Ia bahkan mengatakan kelompok itu "seharusnya dibunuh. Bukan dibebaskan." Hal itu sempat jadi sikap paling kontroversial, mengingat Israel tak menerapkan hukuman mati.

Satu-satunya hukuman mati yang pernah diterapkan di Israel adalah ketika negara itu mengeksekusi Adolf Eichmann. Kala itu, 1961, Eichmann yang merupakan perancang Holokos divonis bersalah. Ia digantung di tahun berikutnya.

[MEMORI: Jejak Migrasi Yahudi ke Batavia dan Bagaimana Mereka Membaur]

Kembali ke Bennet. Tak ada perdamaian baginya. Ia bahkan menolak gencatan senjata dengan para pemimpin Hamas di Gaza. Keadaan itu membuat meningkatnya pertikaian dua negara pada 2018. Bennet juga menuding Hamas membunuh puluhan warga Palestina sendiri alih-alih tewas karena serangan udara Israel pada konflik Mei 2021 lalu.

Pada 2014, Bennet juga sempat menghebohkan media dengan tampil dalam video parodi. Video itu berisi pesan ejekan untuk kalangan Israel yang kerap menyatakan maaf. Bennet anti hal-hal semacam itu. Yang keluar dari mulutnya, secara konsisten adalah kebanggaan sebagai Yahudi dan kemandirian mereka sebagai bangsa.

Dalam video itu Bennet yang menyamar sebagai hipster berkali-kali mengucapkan maaf karena sebuah hal. Video itu ditutup dengan Bennet yang menyingkap penyamarannya sembari menuturkan pesan agar bangsa Israel berhenti meminta maaf.

*Baca Informasi lain soal ISRAEL-PALESTINA atau baca tulisan menarik lain dari Ahmad Fauzi Iyabu dan Yudhistira Mahabharata.

 

BERNAS Lainnya