Gagal SNMPTN Tak Apa, Sebab Kampus Bukan Faktor Tunggal Penentu Kesuksesan
Situs Pengumuman SNMPTN (Sumber: pengumuman-snmptn.ltmpt.ac.id)

Bagikan:

JAKARTA - Banyak siswa SMA yang mendapat kabar gembira karena lolos ujian seleksi masuk nasional perguruan tinggi negeri (SNMPTN) kemarin. Di sisi lain, mereka yang gagal SNMPTN jumlahnya tentu lebih banyak lagi. Tapi tenang saja, untuk urusan karir, kampus favorit tak menjadi faktor tunggal kesuksesan. Bahkan mereka yang tak punya gelar sekali pun masih sangat mungkin punya karir mentereng.

Kemarin mungkin menjadi hari yang paling mendebarkan bagi 854.599 murid SMA mendaftar SNMPTN. Dari jumlah tersebut hanya 110.459 orang yang dinyatakan lolos, sisanya gugur. 

Ada lima Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang paling banyak diminati pada SNMPTN. Seperti dirangkum laman Instagram @masuk.snmptn, Universitas Padjajaran (Unpad) menduduki peringkat pertama dengan 42.034 pendaftar. 

Beradasarkan data seleksi 2019, jurusan paling favorit prodi saintek Unpad yakni ilmu peternakan dengan peminat mencapai 1.654. Sementara daya tampugnya hanya 160. Sedangkan di rumpun sosial humaniora yakni jurusan ilmu hukum dengan peminat mencapai 1.766 dengan daya tampung 160.

Setelah Unpad, disusul Universitas Brawijaya sebagai runner up. Orang yang mendaftar di kampus itu mencapai 41.716 orang. 

Seperti diketahui jurusan paling favorit di rumpun saintek Universitas Brawijaya adalah agroekoteknologi dengan 2.202 peminat. Sementara daya tampungnya hanya 367. Di rumpun soshum, ada ilmu hukum sebanyak 2.584 peminat dengan daya tampung 222. 

Kemudian peringkat ketiga kampus favorit berdasarkan paling banyak pendaftar SNMPTN adalah Universitas Pendidikan Indonesia. Kampus yang terletak di bandung ini didaftar oleh 41.716 orang. 

Sedangkan jurusan favorit di UPI pada rumpun saintek peminat tertinggi yaitu ilmu komputer sebanyak 1.011 peminat. Sementara untuk jurusan bidang soshum peminat tertinggi yakni manajemen dengan 1.765 peminat. 

Ketatnya persaingan pada seleksi PTN tentu tak ayal membuat banyak siswa tak lolos seleksi. Kendati demikian para siswa ada baiknya tak perlu khawatir. Sebab tidak masuk perguruan tinggi favorit bukanlah akhir dari segalanya. Dari perspektif karir misalnya, almamater bukan jadi faktor tunggal yang mementukan kesuksesan seseorang di masa depan. 

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Bukan kunci tunggal

Ir Dadang Danusiri yang pernah menjabat sebagai komisaris utama PT. KHI Pipe Industries pada 2018 mengatakan almamater tak terlalu berpengaruh untuk kesuksesan karir pekerjaan. Menurutnya pengaruh almamater terhadap kesuksesan diterima kerja mungkin hanya sekitar 50 persen saja.

“Banyak perusahaan memang sering open recruitment di kampus terkenal, karena mereka yakin SDM-nya di sana baik. Tapi pengaruh almamater tidak begitu dominan. Almamater mungkin hanya sekitar 50 persen,” ungkapnya ketika mengisi kuliah umum di Universitas Negeri Solo (UNS) tiga tahun lalu.

Dadang memang tak mengebiri peran almamater dalam proses perekrutan. Namun hal itu menurutnya hanya terjadi apabila banyak pemegang keputusan dalam perusahaan yang berasal dari almamater yang sama dengan si pelamar. 

Selebihnya, kata Dadang para pelamar akan dinilai dari aspek hard skill dann soft skill. Bahkan menurutnya di dunia kerja, kecerdasan bukanlah faktor penentu utama seseorang meraih kesuksesan. 

"Menurut penelitian, IQ menempati urutan ke-21 dalam daftar penentu kesuksesan seseorang. Sementara IPK atau nilai berada di posisi ke-30,” tutur Dadang seperti dikutip VOI dari laman resmi UNS.

Ia lantas menekankan betapa pentingnya para lulusan perguruan tinggi untuk memiliki keterampilan mengelola diri dan orang lain. Karena hal tersebut adalah penentu kesuksesan seseorang yang paling teratas.

“Kunci sukses dari penelitian yang pertama yaitu jujur. Karena kalau tidak jujur, dia tidak akan dipercaya oleh atasan maupun rekan kerjanya. Kemudian disiplin, miliki kemampuan bergaul dengan orang lain, memiliki kepemimpinan yang baik, bekerja lebih keras dari yang lain dan mencintai apa yang dikerjakan,” ujarnya.

Sementara untuk meningkatkan soft-skill Dadang punya kiatnya. Salah satunya yakni dengan giat berorganisasi. Dengan berorganisasi kita terlatih untuk berinteraksi dengan banyak orang, mengambil keputusan penting, kerja sama dan menentukan prioritas. 

Dadang lantas menyarankan para mahasiswa agar melatih kemampuan soft skill mereka sejak duduk di bangku kuliah. Harapannya setelah lulus, mereka bisa langsung mengaplikasikan dalam dunia kerja dan memiliki prospek karir yang kian gemilang.

Ilustrasi (Unsplash/Dom Fou)

Kerja tanpa gelar

Banyak orang mulai dari orang tua, keluarga besar, guru, bahkan teman-teman memuji jalur kuliah dan untuk mendapat pekerjaan di perusahaan sebagai satu-satunya jalan menuju kebahagiaan. Padahal kenyataannya tidak sesempit itu.

Kuliah di universitas apalagi yang punya pamor memang bisa menjadi pengalaman yang luar biasa. Namun memiliki gelar bukan lagi jaminan untuk mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. 

Bagi beberapa sektor seperti hukum dan kedokteran, memiliki gelar sarjana merupakan prasyarat. Tapi, pilihannya sudah pasti tak cuma itu bukan?

Sayangnya, yang harus kita akui adalah tak semua orang punya akses untuk belajar di universitas. Dan persaingan memperebutkan universitas terbaik bukan satu-satunya pilihan. 

Ada satu fakta penting yang perlu diketahui. Menurut Phil Edelston, salah seorang managing director perusahaan Dylan Marketing Recruitment mengatakan, seseorang yang telah menekuni pekerjaannya selama tiga tahun dan dapat menunjukkan keterampilan nyata, menawarkan potensi jauh lebih dapat diperkerjakan "daripada seseorang dengan gelar yang tidak ada kaitannya," kata Edelston dalam tulisannya yang dikutip The Guardian.

Menurutnya, bahkan dalam beberapa pekerjaan, pengalaman di dunia nyata jauh lebih diperhitungkan daripada hanya berkutat di kampus. Menurut Edelston contohnya adalah bidang pemasaran digital dan media sosial yang terus berkembang sepanjang waktu. 

Kata Edelston, seseorang sebetulnya bisa langsung mencari peluang kerja tanpa harus berkuliah. Walaupun ia juga menyebut langkah ini bakal lebih sulit untuk dilalui. Tapi hal ini masih sangat memungkinkan. 

Pada langkah awal hal ini menurut Edelston akan sulit. Namun ketekunan akan membuahkan hasil. Menurutnya, apa yang bisa dilakukan adalah mengirim lamaran ke perusahaan dengan menunjukkan inisiatif, keahlian, dan keterampilan yang dimiliki.

Selain itu, bicaralah dengan konsultan perekrutan, pusat pekerjaan lokal dan pusat kepemudaan untuk mendapatkan arahan dan bisa juga dengan memanfaatkan jaringan teman dan keluarga. Edelston bilang jaringan dari teman itu bisa menjadi orang yang tepat untuk membantu kita menemukan pekerjaan, "jadi tanyakanlah." 

Apalagi saat ini zaman sudah serba mudah dengan adanya LinkedIn dan Twitter. Dengan bantuan media sosial tersebut kita bisa membangun hubungan profesional yang dapat menghubungkan kita ke orang yang tepat. 

Memang bagi banyak orang, kehidupan kampus lebih dari sekadar meraih gelar. Melainkan sebuah kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri, mengembangkan diri dan mendapat kesempatan untuk membelajari bidang apa yang kita sukai. Universitas dapat membentuk diri kita, memberi beberapa pengalaman hidup dan membentuk opini tentang bidang apa yang hendak didalami. 

"Jadi kalau kamu sudah merencanakan untuk berkuliah, selamat! Namun bila tidak, tak perlu cemas. Dunia tidak sesempit itu," pungkas Edelston.

 

BERNAS Lainnya