Islam Memandang Anjing, Publik Melihat Yahya Waloni
Ustaz Yahya Waloni (Sumber: Tangkap layar YouTube)

Bagikan:

JAKARTA - Seorang penceramah, Ustaz Yahya Waloni menyatakan pengakuan tentang dirinya yang pernah dengan sengaja menabrak anjing. Yahya Waloni dihujat habis-habisan. Banyak yang menganggap sikapnya justru mendiskreditkan Islam. Seperti apa pandangan publik terhadap sikap Yahya Waloni? Bagaimana juga sebenarnya Islam melihat anjing?

Pengakuan Yahya Waloni itu disiarkan akun YouTube Hadits TV pada Sabtu, 13 Februari. Ia tampak sedang berceramah, ketika ia tiba-tiba bercerita pernah dengan sengaja menabrak anjing di Kecamatan Kemuning, yang letaknya berada di perbatasan antara Riau dan Jambi.

Kekejaman itu terjadi saat Yahya Waloni berangkat ke lokasi ceramah. Ia yang menyetir kendaraannya sendiri tiba-tiba melihat seekor anjing, yang langsung ia tabrak hingga pincang. Yahya Waloni beralasan, anjing itu ia tabrak karena mengandung najis.

"Kutabrak juga seekor anjing, enggak tahu punya siapa. Dia lari pincang kakinya. Kalau kambing masih saya rem. Tapi kulihat anjing, najis, kutembak satu yang paling depan," tuturnya.

Yahya Waloni di mata publik

Publik menghujat Yahya Waloni dan kekejamannya. Deddy Corbuzier, misalnya, yang mengunggah komentar satire lewat akun Twitternya.

Unggahan Deddy direspons warganet dengan eksperimen. Mereka mengetik "anjing" di mesin pencarian dan ramai-ramai mengunggah hasilnya. Ternyata, seperti yang dikatakan Deddy, hasil pencarian kata "anjing" mengacu ke Yahya Waloni.

Figur publik lain, Diaz Hendropriyono turut dalam gelombang kritik. Diaz menyinggung rasa cinta antarsesama makhluk hidup yang tak dicerminkan Yahya Waloni. "Seperti kata AC/DC, 'you are on the highway to hell,'" tulis Diaz.

Lebih luas, banyak publik lain yang turut mengungkap pandangannya. "Jadi yg anjing yg di tabrak atau nabrak om?" tulis akun @titiksabit dalam unggahan Deddy Corbuzier.

Warganet lain melihat apa yang dilakukan Yahya Waloni justru dapat mendiskreditkan Islam. Mereka melempar berbagai riwayat Islam yang menggambarkan bagaimana ajaran Islam yang justru mengandung banyak cinta terhadap sesama makhluk hidup.

Islam melihat anjing

Ada beragam pandangan soal bagaimana Islam melihat anjing. Jika melihat alasan najis yang membuat Yahya Waloni menabrak anjing, maka kita dalami lewat sisi ini.

Dikutip dari NU Online, Rabu, 17 Februari, mayoritas ulama berpandangan bahwa semua bagian dari anjing, baik tubuhnya --jika basah-- dan liurnya adalah najis. Di sisi lain, ada mazhab-mazhab yang memberi pandangan lebih beragam.

Mazhab Hanafi, misalnya, yang hanya melihat liur anjing sebagai najis. Tubuhnya tidak. Mazhab Maliki lain lagi. Mazhab ini bahkan berpandangan bahwa semua bagian dari anjing adalah suci.

Dan soal bagaimana masyarakat Muslim melihat anjing, hal itu turut dipengaruhi oleh mazhab fikih yang dianut ulama di sebuah negara. Di Maroko, Sudan, Tunisia, di mana para ulamanya mayoritas menganut mazhab Maliki, maka akan banyak kita temukan orang Muslim memelihara anjing.

Di Indonesia, banyak ulama yang menganut mazhab Syafii. Hal itu yang memengaruhi tabu, termasuk ketika ada masyarakat Muslim memelihara anjing. Perihal tabu itu biasanya dikecualikan ketika orang Muslim memelihara anjing untuk penjaga rumah, gembala, atau penjaga lahan. Di ranah-ranah itu anjing dilihat sebagai perkara makruh.

Ilustrasi foto (Jason Jarrach/Unsplash)

 

Penulis buku Meluruskan Pemahaman Hadis Jihadis, Ibnu Kharish alias Ustaz Ahong menjelaskan ilustrasi mengenai karakter baik anjing yang didapat dari Syekh Nawawi Banten dalam Kasyifatus Saja. Dalam kitab syariah itu dijelaskan karakter anjing yang selalu lapar. Sifat ini mencerminkan orang-orang saleh.

Kedua, sifat anjing yang tidur sebentar di malam hari. Perilaku ini mencerminkan para Muslim yang gemar tahajud. Selanjutnya, "... jika anjing mati, itu tak meninggalkan barang berharga untuk anak-anaknya, dan ini termasuk karakter terpuji orang-orang yang zuhud."

"Kelima, anjing itu selalu menerima berada di tempat rendah, dan ini termasuk karakter orang-orang yang rida (pada takdir Allah)," tulis Ibnu Kharish, dikutip VOI dari akun Twitternya, @ustadz_ahong, Rabu, 17 Februari.

Ilustrasi foto (Sasha Sashina/Unsplash)

Karakter baik lain dari anjing adalah ia selalu menatap orang-orang yang memandanginya hingga orang itu memberi sekepal makanan. "Inilah akhlak orang-orang miskin," lanjut Ibnu Kharish.

Lainnya, "... jika dilempari pasir, anjing tak pernah marah dan dengki pada pelakunya. Inilah karakter orang-orang yang rindu pada Allah."

"Kesembilan, ketika diberi sekepal makanan, anjing itu memakannya dan cukup untuk semalaman. Inilah karakter orang-orang yang qanaah (rela penuh syukur) ... Kesepuluh, ketika pergi ke suatu tempat, anjing itu tak berbekal. Dan inilah karakter orang-orang tawakal."

Terkait karakter baik anjing selanjutnya, dijelaskan bahwa anjing memiliki sifat mengalah. Anjing juga menyimpan karakter loyal di dalam dirinya. "Selain itu, dalam hadis shahih, ada juga kisah tunasusila yang masuk surga gegara menolong seekor anjing yang sedang kehausan."

Lalu, bagaimana dengan Hadis Riwayat Bukhari yang terkenal, yang menyebut bahwa malaikat tak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjingnya. Ibnu Kharish menjelaskan, "Menurut sebagian ulama, malaikat yang dimaksud di sini adalah malaikat pembawa wahyu, yaitu Jibril."

"Sementara, sekarang wahyu sudah terputus karena Nabi Muhammad sudah wafat. Artinya, untuk saat ini malaikat tetap bisa masuk rumah siapapun yang di dalamnya ada anjing. Apapun jenis anjingnya, anjing peliharaan, anjing pelacak, anjing penjaga lahan, dsb."

 

BERNAS Lainnya