NATO Sebut China Sebagai Tantangan Sistemik, Stoltenberg: Kami Harus Siap
Para pemimpin NATO usai KTT 2021. (Twitter/@jensstoltenberg)

Bagikan:

JAKARTA - Para pemimpin negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyebut China menghadirkan tantangan sistemik, serta perlu sikap tegas guna menghadapinya, dalam pernyataan bersama usai KTT Brussesl, Belgia Senin 14 Juni kemarin. 

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden juga mendesak rekan-rekan NATO-nya untuk melawan otoritarianisme China dengan kekuatan militernya yang terus meningkat. Ini menandakan perubahan fokus aliansi yang sebelumnya mengarah ke Uni Soviet/Rusia. 

Pernyataan ini semakin menyoroti China, setelah sebelumnya negara Kelompok Tujuh (G7) mengeluarkan pernyataan tentar hak asasi manusia di China dan Taiwan. 

"Ambisi dan perilaku tegas China menghadirkan tantangan sistemik terhadap tatanan internasional berbasis aturan dan area yang relevan dengan keamanan aliansi," sebut pernyataan bersama para Pemimpin NATO seperti melansir Reuters Selasa 15 Juni. 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan, kehadiran militer China yang berkembang dari Baltik ke Afrika, membuat NATO harus bersiap.  .

"China semakin dekat dengan kami. Kami melihat mereka di dunia maya, kami melihat China di Afrika, tetapi kami juga melihat China berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur penting kami sendiri," tukasnya, merujuk pada pelabuhan dan jaringan telekomunikasi.

Stoltenberg juga mengatakan, para pemimpin NATO telah sepakat untuk meningkatkan kontribusi mereka pada anggaran bersama aliansi. Sebagian besar pengeluaran militer di NATO ditangani secara terpisah oleh negara-negara anggota.

“Dengan menyetujui agenda NATO 2030, para pemimpin telah mengambil keputusan untuk menjadikan aliansi itu lebih kuat untuk masa depan,” terang Jens Stoltenberg saat konferensi pers di akhir KTT, seperti mengutip VOA.

Kendati menyepakati respon terhadap kebangkitan China, dengan investasi di pelabuhan-pelabuhan Eropa hingga rencana membangun pangkalan militer di Afrika, para pemimpin NATO menyadari akan banyak dampak terkait China. 

Untuk diketahui, NATO memperhatikan hubungan ekonomi mereka dengan China. Misalnya, total perdagangan Jerman dengan China pada tahun 2020 lebih dari 212 miliar euro (257 miliar dolar AS), menurut data pemerintah Jerman. Sementara, total kepemilikan China di AS Treasuries pada Maret 2021 mencapai 1,1 triliun doalr AS dan total AS perdagangan dengan China pada tahun 2020 mencapai 559 miliar dolar AS.