Mungkinkah Megawati-Prabowo Reuni di Pilpres 2024?
Swafoto Megawati, Puan Maharani dan Prabowo Subianto saat pelantikan Menteri Pertahanan (Foto: Instagram @puanmaharaniri)

Bagikan:

JAKARTA - Muncul isu Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto kembali maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Belakangan, keduanya menunjukkan "kemesraan" seperti saat peresmian patung Bung Karno di Kantor Kementerian Pertahanan.

Kemudian, "kemesraan" juga tampak saat Megawati mendapat gelar Profesor Kehormatan di Universitas Pertahanan (Unhan) RI. Di mana, dalam orasi ilmiahnya, Presiden ke-5 RI ini juga sempat menyebut Prabowo Subianto sebagai sahabatnya.

Lalu, jika Ketua Umum PDIP dan Ketua Umum Gerindra itu kembali berpasangan dalam kontestasi politik di 2024, apa masih laku? Menurut pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin, Mega-Prabowo sudah basi.

"Kalau keduanya berpasangan. Itu pasangan basi, out of date, tak akan laku, dan kemungkinan tak akan menang. Karena di 2024 pemilih akan didominasi oleh pemilih muda," kata Ujang kepada VOI, Minggu, 13 Juni.

Menurut Ujang, Megawati dan Prabowo sendiri sebenarnya sudah menyadari potensi kekalahan kalau keduanya maju sebagai capres-cawapres. Karenanya, kedekatan yang dibangun juga sebagai lobi-lobi untuk segala skenario politik ke depan.

Kedua pihak, kata Ujang, masih meraba. Jika kepentingannya sama, PDIP dan Gerindra akan bergandengan seperti tahun 2009. Jika nanti kepentinganya beda, maka mereka bersebrangan seperti Pilpres 2014 dan 2019.

"Mungkin skenario yang memungkinkan dari kedekatan keduanya, bisa saja skenario Prabowo-Puan. Atau bisa juga skenario lain, namun bukan skenario Mega-Prabowo. Selain karena Prabowo dua kali nyapres kalah terus, masa iya mau turun jadi cawapres," tutur dia.

Kedekatan Megawati dan Prabowo memang belakangan ini sering kali terlihat. Bahkan, dalam acara ini, Megawati sempat menyapa mantan capres pesaing Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019 itu yang kemudian disambut dengan sikap hormat.

Megawati dan Prabowo juga sempat berswafoto ketika Prabowo dilantik jadi Menteri Pertahanan Oktober 2019.

Menanggapi hal tersebut, Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto ogah bicara panjang. Dia hanya mengatakan, tak ada yang aneh dari keakraban antar dua tokoh tersebut dan PDI Perjuangan selalu berusaha menunjukkan politik persahabatan.

"Apalagi Pak Prabowo tadi dalam kapsitas beliau sebagai Menteri Pertahanan yang punya komitmen yang sama bagaimana kekuatan pertahanan negara dibangun dengan sebaik-baiknya yang menyatu dengan kekuatan rakyat itu," kata Hasto kepada wartawan di Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Sentul, Bogor, Jumat, 11 Juni.

Di sisi lain, Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menilai anggapan itu sebagai hal wajar dalam politik. "Dalam hal politik orang boleh menganalisa siapa saja dan sah-sah saja," ujar Dasco.

Dasco itu kembali menyatakan, hingga saat ini partainya belum memutuskan mengenai koalisi Pilpres 2024. Soal pencapresan, kata dia, biasanya bakal diputuskan dalam forum khusus internal partai.

"Kalau di Gerindra sendiri soal koalisi belum diputuskan dan kebiasaan kami ada forum yang khusus untuk itu dan biasanya juga tidak di awal-awal," ungkapnya.

Pasangan Mega-Prabowo pernah terwujud di Pemilu 2009. Mereka melawan pasangan SBY-Boediono dengan nomor urut 2 dan JK-Wiranto dengan nomor urut 3.

Pasangan Mega-Prabowo diusung oleh PDIP dan Partai Gerindra, serta didukung oleh Partai Kedaulatan, Partai Karya Perjuangan, PNI Marhaenisme, Partai Buruh, Partai Sarikat Indonesia, dan Partai Merdeka.

Pasangan nomor urut 1 ini kalah dari Pasangan SBY-Boediono. Mega-Prabowo mendapatkan 26,79 persen suara; SBY-Boediono mendapatkan 60,80 persen suara; dan JK-Wiranto mendapatkan 12,41 persen suara.