Bagikan:

JAKARTA - Kepolisian menangkap delapan remaja konvoi bersenjata tajam (sajam) diduga hendak melakukan tawuran setelah aksi mereka viral di media sosial (medsos) dan meresahkan masyarakat.

Penindakan ini dilakukan setelah aparat menelusuri aktivitas para pelaku yang diketahui menggunakan medsos untuk mencari kelompok lain untuk diajak tawuran, sehingga memicu potensi gangguan keamanan di ruang publik.

Plh Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Timbul RK Siregar mengatakan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari patroli siber yang dilakukan jajarannya terhadap konten yang beredar luas.

“Modus mereka mencari kelompok yang mau diajak tawuran melalui media sosial,” ujarnya saat menggelar konferensi pers di Mapolresta Banjarmasin, Rabu, disitat Antara.

Dia mengatakan, penangkapan dilakukan oleh jajaran Polresta Banjarmasin bersama Polsek Banjarmasin Timur dibantu Tim Macan Kalsel di sejumlah lokasi, termasuk mengamankan pelaku di rumah masing-masing.

Mereka yang ditangkap di antaranya masih berusia antara 15-17 tahun, yang menunjukkan keterlibatan dominan anak di bawah umur dalam aksi kekerasan jalanan.

Polisi juga menyita empat senjata tajam, termasuk satu bilah mandau, yang diduga akan digunakan dalam aksi tawuran yang telah direncanakan melalui komunikasi di media sosial.

Menurut Timbul, pihaknya masih mengembangkan kasus tersebut untuk mengungkap kemungkinan adanya kelompok lain yang terlibat dalam jaringan tawuran remaja berbasis digital.

Selain itu, dia menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi aktivitas anak guna mencegah keterlibatan dalam tindakan kriminal.

Peran orang tua sangat penting untuk melakukan pengawasan terhadap anak saat mereka mau keluar malam dan harus ditanya mau ke mana.

Selain itu, kepolisian meningkatkan patroli di sejumlah titik rawan guna mencegah kejadian serupa terulang dan menjaga stabilitas keamanan lingkungan.

Langkah Polresta Banjarmasin ini menjadi bagian dari upaya merespons fenomena nasional terkait maraknya tawuran remaja yang dipicu media sosial, sehingga memerlukan penanganan terpadu dari berbagai pihak.