JAKARTA - Kementerian Luar Negeri RI bersama dengan UN Women secara resmi meluncurkan chatbot dengan kecerdasan buatan (AI) SARI atau Sahabat Artifisial Migran Indonesia pada Hari Senin, yang dilengkapi dengan berbagai bahasa daerah guna menyesuaikan kebutuhan para pekerja migran Indonesia di mancanegara.
"Peluncuran SARI bagi kami di Kementerian Luar Negeri ini merupakan sebuah pencapaian, selama kurang lebih sejak 2018 kita sudah memiliki dua aplikasi berbasis digital, pertama Portal Peduli WNI, yang kedua Safe Travel," jelas Plt. Dirjen Protokol dan Konsuler Kemlu RI Andy Rachmianto di sela-sela peluncuran SARI di Jakarta, Senin 21 April.
"Dengan adanya SARI ini, maka lebih lengkaplah aplikasi digital yang kita miliki untuk tidak lain dan tidak bukan, negara hadir memberikan pelayanan dan pelindungan yang prima bagi WNI di luar negeri utamanya yang mayoritas pekerja migran," tambahnya.
Sementara itu, Head of Program UN Women Indonesia Dwi Yuliawati mengatakan, SARI dibuat tidak seperti AI yang lain hanya mesin saja, tapi juga mempertimbangkan tantangan-tantangan tersediri yang dihadapi perempuan pekerja migran Indonesia,
"Bahasanya sederhana, juga ada bahasa lokal yang bisa diakses. Kami mendengarkan suara-suara pekerja migran perempuan ketika menyusun SARI, isinya lebih real, sesuai kondisi di lapangan. Lebih punya empati dari sekadar mesin, mengerti rasa manusia," jelasnya.
"SARI memiliki empati ketika pekerja migran perempuan menghadapi kekerasan, menunjukan informasi terlengkap yang rinci yang bisa diakses di mana pun mereka berada," lanjutnya.
Ia menambahkan, ada proses konsultasi sekitar enam bulan dengan pekerja migran di beberapa negara untuk mengetahui kendala mereka.
Mengenai keberadaan fitur bahasa daerah, ini menjadi pertimbangan guna menyesuaikan dengan kebutuhan pekerja migran Indonesia di luar negeri.
"Ada banyak bahasa daerah dari (wilayah) kantong-kantong pekerja migran Indonesia," jelas Andy.
"Banyak pekerja migran kita yang berasal dari daerah-daerah tertentu, karena itulah kita tambahkan fitur layanan bahasa daerah," tambahnya.
"Bahasa Indonesia yang baku dan formal itu tidak begitu kena buat banyak sekali teman-teman pekerja migran perempuan. Makanya kemudian ada fitur bahasa daerah," kata Dwi.
Mengenai sosialisasi SARI, selain dilakukan di dalam negeri, juga akan dilakukan di luar negeri oleh perwakilan RI.
"Peluncuran ini direlay oleh perwakilan-perwakilan RI di luar negeri. Jadi, nanti perwakilan RI juga akan mendiseminasikan SARI kepada komunitas Indonesia di luar negeri," jelas Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Judha Nugraha.
Sebelum diluncurkan hari ini, Judha Februari lalu mengatakan, SARI ang akan disematkan pada aplikasi Safe Travel ini telah menjalani pengujian usai dikembangkan. Judha mengatakan, SARI dihadirkan untuk memberikan layanan yang humanis.
"Kalau chatbot biasa tidak bisa mendeteksi bahasa, (SARI) bahkan pakai Bahasa Jawa pun bisa merespons, bisa memberikan empati. Sudah kita latih untuk bisa memberikan empati dan juga merespons kebutuhan-kebutuhan ketika mendapatkan masalah," jelas Judha.
BACA JUGA:
Diketahui, Portal Peduli WNI merupakan web base. Sedangkan Safe Travel merupakan mobile application yang bisa diunduh di App Store maupun PlayStore.
Peduli WNI diperuntukan bagi WNI yang menetap di luar negeri. Sedangkan Safe Travel, lanjut Judha, didedikasikan untuk WNI yang melakukan perjalanan singkat ke luar negeri, meski juga bisa digunakan WNI yang menetap di luar negeri.
Judha mengatakan, keberadaan Peduli WNI, Safe Travel dan SARI merupakan "bentuk komitmen Kemlu RI melakukan transformasi digital untuk memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan dan pelindungan WNI".