JAKARTA - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Presiden AS Donald Trump sepakat dengannya tentang negosiasi yang dijalankan AS-Iran tanpa keterlibatan langsung Israel harus mencangkup pelucutan bahaya nuklir.
Netanyahu mengaku baru saja berkomunikasi dengan Trump lewat sambungan telepon tadi malam.
"Itu berarti membongkar situs pengayaan nuklir Iran dan memindahkan material nuklir yang telah diperkaya dari wilayahnya," kata Netanyahu lewat akun X-nya, Minggu 24 Mei.
Israel terus berusaha meluncuti program nuklir Iran yang sejauh ini menurut lembaga pengawas nuklir PBB (IAEA) masih dalam batas untuk kepentingan sipil.
Di satu sisi, Israel merupakan satu-satunya kekuatan nuklir nyata di Timur Tengah yang tidak dilarang dalam pemanfaatannya untuk senjata militer.
"Kebijakan saya, seperti Presiden Trump, tetap tidak berubah: Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," tambah Netanyahu.
I spoke last night with President @realDonaldTrump about the memorandum of understanding to reopen the Straits of Hormuz and the upcoming negotiations toward a final agreement on Iran’s nuclear program.
I expressed my deep appreciation to President Trump for his unwavering…
— Benjamin Netanyahu - בנימין נתניהו (@netanyahu) May 24, 2026
Petinggi negara yang terus mengkampanyekan politik sayap kanan ekstrem ini kembali menghembuskan nafsunya untuk menguasai Lebanon selatan dengan dalih membela diri.
Lebanon selatan telah menjadi pusat konflik bersenjata baru setelah kehancuran Gaza dan perluasan pendudukan di Tepi Barat oleh militer Israel alias IDF.
Israel terus melakukan serangan ke Lebanon selatan meski ada kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh AS dan diumumkan pada pertengahan April.
Meski serangannya menyebabkan banyak korban sipil berjatuhan, alih-alih menghentikan operasinya, Israel justru terus melakukan serangan udara dan darat hingga mengokupasi sebagian wilayah Lebanon selatan dengan alasan sebagai 'yellow line'.
"Presiden Trump juga menegaskan kembali hak Israel untuk membela diri terhadap ancaman di setiap lini, termasuk Lebanon," klaim Netanyahu.