Bagikan:

JAKARTA - Tim SAR terus melakukan operasi penyelamatan besar-besaran pada Minggu 24 Mei setelah ledakan gas tambang batu bara di China utara menewaskan sedikitnya 82 orang.

Mengutip AFP, ledakan di lubang tambang Liushenyu, Provinsi Shanxi, Jumat pekan lalu itu menjadi bencana pertambangan terburuk di China dalam hampir dua dekade, dengan 247 pekerja berada di bawah tanah pada saat insiden.

Ratusan petugas penyelamat dari Tim SAR menuju lokasi setelah adanya laporan kejadian ini. Mereka telah mengevakuasi sebanyak 128 orang ke rumah sakit hingga Sabtu malam 23 Mei.

Pada malam itu juga, polisi memblokir jalan menuju tambang, hanya kendaraan yang berwenang diizinkan masuk.

Menurut laporan Xianhua, petugas penyelamat yang mengenakan helm bergantian turun ke lubang tambang pada Sabtu malam untuk mencari dua pekerja yang hilang, juga mengirimkan robot untuk menyelidiki kondisi tambang.

“Selama masih ada harapan, kami akan melakukan segala upaya,” kata seorang petugas Tim SAR.

Kapal tongkang mengangkut batu bara melintasi Sungai Musi, Palembang, Sumsel, Kamis 3 Januari 2019. (ANTARA-Nova W)a

Pelanggaran Pertambangan

Pihak berwenang China meluncurkan penyelidikan atas ledakan tambang Liushenyu tersebut, menjadi yang terburuk sejak 2009 ketika 108 orang tewas dalam ledakan tambang di Provinsi Heilongjiang.

Temuan awal menunjukkan perusahaan Shanxi Tongzhou Group yang mengoperasikan tambang Liushenyu, diduga melakukan "pelanggaran ilegal serius," kata pihak berwenang dalam konferensi pers yang disiarkan oleh media CCTV milik negara.

"Mereka yang terbukti bertanggung jawab akan dihukum berat sesuai dengan hukum dan peraturan," tambah mereka.

Disebutkan, lebih dari setengah pekerja korban ledakan yang berada di dalam lubang tambang tidak terdaftar.

Para penambang di China biasanya diharuskan menjalani pemeriksaan pengenalan wajah atau mengambil kartu pelacak lokasi sebelum turun kerja ke lokasi tambang.

Seorang petinggi yang "bertanggung jawab atas" perusahaan tambang tersebut telah "ditempatkan di bawah pengawasan sesuai dengan hukum," demikian laporan Xianhua.

Dewan Negara, kabinet China, memerintahkan "penindakan keras terhadap kegiatan ilegal dan melanggar hukum" di seluruh negeri, termasuk pemalsuan data keselamatan, penghitungan jumlah pekerja bawah tanah yang tidak jelas, dan praktik kontrak ilegal.

Korban selamat yang terluka, Wang Yong, mengatakan kepada CCTV bahwa ia tidak mendengar suara apa pun tetapi mencium bau belerang ketika ledakan terjadi.

“Saya sama sekali tidak mendengar suara apa pun, tetapi kemudian muncul kepulan asap,” kata penambang itu.

“Baunya seperti belerang, seperti ketika orang menyalakan petasan. Ketika asap turun, saya berteriak agar orang-orang berlari,” sambungnya.

Alat berat beroperasi di tambang batu bara. (Abdul Basi-Unsplash)

Ia kemudian mengurai ingatannya dengan mengatakan melihat orang-orang tercekik oleh asap sebelum akhirnya pingsan

“Setelah lebih dari satu jam, saya sadar sendiri, dan kemudian saya membangunkan orang di sebelah saya” dan keluar," katanya kepada CCTV.

Insiden ini ditanggapi sejumlah pemimpin dunia dengan menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarganya

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan bahwa ia “berdoa agar sebanyak mungkin orang dapat diselamatkan.”

Sementara Presiden India Narendra Modi menyatakan harapan agar “keluarga yang berduka menemukan kekuatan di saat-saat tragis ini.”

Disusul Presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan “siap memberikan bantuan kemanusiaan.”

Shanxi, salah satu provinsi termiskin di China, adalah pusat industri pertambangan batubara negara itu.

Keselamatan tambang di China telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, tetapi kecelakaan masih terjadi di industri di mana protokol keselamatan seringkali longgar dan peraturan tidak jelas.

Pada 2023, runtuhan di tambang batubara terbuka di wilayah Mongolia Dalam utara menewaskan 53 orang.

China adalah konsumen batubara terbesar di dunia dan penghasil gas rumah kaca terbesar, meskipun memasang kapasitas energi terbarukan dengan kecepatan rekor.