Banjir di NTT Kali Ini Terparah Sejak 10 Tahun Terakhir
Banjir di kawasan Rumah Sakit Bhayangkara Titus Uly Kupang Sabtu, 3 April (Foto via ANTARA)

Bagikan:

AKARTA - Kapusdatinkom Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati menyebut bencana banjir di 11 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur adalah yang paling parah sejak 10 tahun terakhir.

Raditya mengatakan, 10 tahun lalu pernah terjadi banjir besar di NTT, yakni pada 3 November 2020 dan 11 April 2011.

"Dalam 10 tahun terakhir memang pernah terjadi banjir, dan terdampak pada beberapa korban jiwa juga termasuk infrastruktur dan rumah rusak," kata Raditya dalam tayangan Youtube BNPB Indonesia, Senin, 5 April.

Dia memaparkan, banjir pada 3 November 2010 melanda Kabupaten Timor Tengah Selatan. Akibatnya 31 orang meninggal dunia, 7 orang hilang, 27 luka-luka, dan 159 rumah rusak.

Kemudian pada 11 April 2011 banjir terjadi di Kabupaten Belu yang mengakibatkan 3.277 rumah dan 14 fasilitas umum rusak.Pada Minggu, 4 April 2021, tercatat ada 10 kabupaten dan 1 kota yang terdampak banjir yang juga cukup parah. Saat ini, tercatat telah ada 68 warga yang menjadi korban meninggal dunia.

Daerah tersebut adalah Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Malaka Tengah, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Ende.

Data ini dihimpun BNPB setelah petugas melakukan evakuasi hingga Senin, 5 April pukul 14.00 WIB.

"Data meninggal dunia masih dalam proses pendataan dan masih dinamin, yang kami himpun dari semua wilayah terdampak ada 68 orang meninggal dunia," kata Raditya.

Rinciannya, korban meninggal dunia terbanyak di Kabupaten Flores Timur sebanyak 44 jiwa, lalu korban meninggal dunia di Kabupaten Lembata 11 jiwa, di Kabupaten Alor 11 jiwa, dan di Kabupaten Ende 2 jiwa.

"Ini masih dinamis, masih ada orang yang masih hilang sekitar 70 orang dengan rincian 26 di Flores Timur, 16 di Lembata, dan 28 di Alor)," ujar dia.

Ada pun kerugian materiil berupa 25 unit rumah rusak berat, 114 unit rumah rusak sedang, 17 unit rumah hanyut, 60 unit rumah terendam, 743 unit rumah terdampak, 40 titik akses jalan tertutup pohon tumbang, 5 jembatan putus, 1 fasilitas umum terdampak, san 1 kapal tenggelam.

"Selain itu, tercatat ada 15 orang luka-luka dan 938 kepala keluarga atau 2.655 jiwa yang terdampak banjir," tuturnya.