Intelijen Temukan Kemungkinan Campur Tangan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam Pemilu AS
Presiden Joe Biden bersama Presiden Vladimir Putin (WIkimedia Commons: Official White House Photo/David Lienemann)

Bagikan:

JAKARTA - Intelijen Amerika Serikat (AS) menemukan kemungkinan campur tangan Presiden Rusia Vladimir Putin, untuk memengaruhi hasil Pemilu AS 2020 dan memenangkan Donald Trump, dalam laporan yang dikeluarkan Selasa 16 Maret waktu setempat.

Dalam laporan setebal 15 halaman yang dikeluarkan oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional, sejumlah orang dekat Trump 'bermain' dengan Moskow untuk memperkuat klaim yang dibuat terhadap calon Joe Biden oleh tokoh-tokoh Ukraina yang terkait dengan Rusia di menjelang pemilihan 3 November.

Selain itu, disebutkan pula temuan baru terkait Vladimir Putin yang mengawasi atau setidaknya menyetujui, untuk ikut campur tangan dalam Pemilu AS dan memenangkan Trump.   

"Washington diperkirakan akan menjatuhkan sanksi ke Moskow secepatnya minggu depan karena tuduhan tersebut," kata tiga sumber yang enggan disebut namanya, melansir Reuters

Temuan tentang peran Putin kemungkinan akan mendapat perhatian khusus Amerika Serikat, mengingat kesimpulan laporan itu bahwa tokoh-tokoh yang didukung Rusia seperti anggota parlemen Ukraina Andriy Derkach, mendaftarkan tokoh politik AS yang tidak disebutkan namanya dalam kampanye mereka untuk mencoreng Biden dan putranya Hunter.

Laporan tersebut menyebut Derkach, yang bertemu dengan pengacara Trump Rudy Giuliani pada 2019, sebagai seseorang yang pergerakannya dilacak, jika tidak diarahkan, oleh Putin.

"Putin memiliki kewenangan atas aktivitas Andriy Derkach," kata laporan itu. 

"Pejabat senior lainnya juga berpartisipasi dalam upaya mempengaruh Pemilu Rusia - termasuk pejabat senior keamanan dan intelijen nasional yang kami nilai tidak akan bertindak tanpa menerima setidaknya persetujuan diam-diam dari Vladimir Putin," lanjut laporan tersebut.

Laporan intelijen tersebut menilai dengan keyakinan tinggi, para pemimpin Rusia lebih suka mantan Presiden Trump memenangkan pemilihan kembali meskipun menganggap beberapa kebijakan pemerintahannya sebagai anti-Rusia.

Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Wikimedia Commons: World Economic Forum/Remy Steinegger)

Menariknya, laporan tersebut juga menyoroti Konstansi Kilimnik yang disebut berhubungan dengan intelijen Rusia. Kilimnik dan Derkach disebut bertemu dan memberikan materi kepada orang-orang yang terkait dengan Trump untuk mendorong penyelidikan formal. 

Sementara, Derkach merilis empat rekaman audio yang berusaha untuk menyarankan Joe Biden mencoba melindungi putranya Hunter dari penyelidikan korupsi di Ukraina. Giuliani termasuk di antara mereka yang mempromosikan klaim tersebut.

Kilimnik adalah rekan Paul Manafort, yang menjabat sebagai ketua kampanye Trump tahun 2016. Trump mengampuni Manafort tahun lalu atas tuduhan kriminal yang berasal dari penyelidikan Mueller.

Kemungkinan Sanksi

Laporan intelijen AS juga menemukan upaya asing lainnya untuk mempengaruhi pemilih Amerika pada tahun 2020, termasuk oleh Iran untuk melemahkan Donald Trump

Sebagai presiden, Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir multilateral dengan Iran dan menjatuhkan sanksi baru.

Tak berhenti di situ, laporan tersebut juga menyampaikan kontra narasi yang didorong oleh sukutu Trump, bahwa China ikut campur dalam Pemilu AS atas nama Biden. Laporan menyimpulkan Beijing tidak mengerahkan upaya gangguan. 

"China mencari stabilitas dalam hubungannya dengan Amerika Serikat, tidak melihat hasil Pemilihan sebagai cukup menguntungkan bagi China untuk mengambil risiko pukulan balik jika tertangkap," terang laporan itu.

"Para pejabat AS mengatakan mereka juga melihat upaya Kuba, Venezuela, dan kelompok militan Lebanon Hizbullah untuk memengaruhi pemilu, meskipun secara umum, kami menilai bahwa skalanya lebih kecil daripada yang dilakukan oleh Rusia dan Iran," lanjut laporan itu. 

Agen Rusia juga mencoba meretas anak perusahaan perusahaan energi Ukraina, Burisma, "kemungkinan dalam upaya untuk mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan keluarga Presiden Biden," katanya. Hunter Biden pernah bertugas di dewan Burisma.

Kedutaan Besar Rusia, China, dan Kuba di Washington tidak segera membalas pesan yang meminta komentar. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Kementerian Informasi Venezuela juga tidak segera menanggapi permintaan komentar. Moskow, Beijing, dan Teheran secara rutin menyangkal tuduhan spionase dunia maya dan campur tangan pemilu.

Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar tentang apakah sanksi akan dijatuhkan pada Rusia pada awal minggu depan, yang pertama kali dilaporkan oleh CNN.

Dua sumber mengatakan kepada Reuters, sanksi tersebut dapat mengatasi peretasan dunia maya yang dituduhkan pada Rusia yang menggunakan perusahaan AS SolarWinds Corp untuk menembus jaringan pemerintah AS. Serta laporan bahwa Rusia menawarkan hadiah kepada militan yang terkait dengan Taliban untuk membunuh pasukan koalisi di Afghanistan. Moskow membantah terlibat dalam peretasan dan menepis tuduhan hadiah.