Bagikan:

JAKARTA - Menteri Pertahanan Sergei Shoigu mengatakan Rusia akan membangun pasukan di perbatasan barat wilayah mereka, menyusul aksesi Finlandia ke dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) serta potensi bergabungnya Swedia di masa mendatang.

Dalam sambutan pembukaan kepada Kolegium Kementerian Pertahanan, Menhan Shoigu mengatakan anggota NATO Polandia telah mengumumkan rencana untuk memperkuat militernya. Ia juga memprediksi pasukan dan persenjataan NATO yang signifikan akan dikerahkan di Finlandia, yang pencantumannya hampir dua kali lipat dari panjang perbatasan darat Rusia dengan NATO.

"Kolektivitas Barat mengobarkan perang proksi melawan Rusia," ujar Menhan Shoigu menurut kementeriannya, dilansir dari Reuters 10 Agustus.

Itu merujuk pada "dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya" untuk Ukraina dalam memasok persenjataan senilai puluhan miliar dolar untuk membantu Kyiv mengusir pasukan Rusia.

Lebih jauh Menhan Shoigu menyebut masuknya Finlandia ke NATO dan masuknya Swedia di masa depan sebagai "faktor destabilisasi yang serius". Kedua negara Nordik itu meninggalkan generasi netralitas yang telah berlangsung selama Perang Dingin, untuk mencari keanggotaan NATO setelah invasi Rusia ke Ukraina awal tahun lalu.

"Di wilayah Finlandia, kemungkinan kontingen militer tambahan dan senjata serang NATO akan dikerahkan, yang mampu mengenai sasaran kritis di barat laut Rusia pada kedalaman yang cukup," terang Menhan Shoigu.

"Hari ini, pada pertemuan Dewan, kami akan mempertimbangkan masalah yang berkaitan dengan pembentukan distrik militer Leningrad dan Moskow, dengan penguatan simultan pengelompokan pasukan Angkatan Bersenjata Federasi Rusia di perbatasan barat kami," paparnya.

Dijelaskan olehnya, Polandia telah mengumumkan niatnya untuk membangun tentara paling kuat di benua itu, menjadi "instrumen utama kebijakan anti-Rusia Amerika Serikat".

Shoigu menambahkan, jumlah unit militer NATO dari luar kawasan yang ditempatkan di Eropa timur telah meningkat dua setengah kali lipat sejak Februari tahun lalu, dengan total mereka sekarang berjumlah 30.000 orang.

"Ancaman terhadap keamanan militer Rusia ini membutuhkan tanggapan yang tepat waktu dan memadai. Kami akan membahas langkah-langkah yang diperlukan untuk menetralisirnya pada pertemuan tersebut dan membuat keputusan yang tepat," pungkasnya.