Muhammadiyah: Jelang Akhir Tahun, Mohon Kesadarannya, Kalau Enggak Penting Banget Enggak Usah Liburan
Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) Agus Samsudin. (Foto: Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta masyarakat untuk tetap mengurangi mobilitas yang tak perlu serta menahan keinginan untuk pergi liburan akhir tahun guna mencegah terjadinya lonjakan kasus COVID-19.

"Menjelang akhir tahun, mohon kesadaran kalau enggak penting-penting banget enggak usah pergi, enggak usah liburan dulu, tahan dulu," ujar Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC), Agus Syamsudin saat dihubungi Antara dari Jakarta, Jumat, 5 November.

Agus mengatakan pandemi COVID-19 belum berakhir dan virus masih bermutasi ke berbagai varian. Khawatirnya, muncul varian virus baru yang lebih berbahaya dan cepat menular dari sebelumnya.

Masyarakat juga diminta untuk tidak bereuforia kendati angka kasus penularan mengalami penurunan ketimbang periode Juli hingga September. Justru momentum ini harus terus ditekan hingga pandemi COVID-19 bisa segera usai dan kehidupan berjalan normal.

Selain mengurangi mobilitas dan tak pergi liburan, menjaga protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan menjadi jurus ampuh dalam mencegah penularan.

"Prokes harus tetap dijaga, 3M dan sebagainya dan bagi yang belum divaksinasi untuk segera mendapat vaksin. Prokes harus tetap dijaga karena pandemi belum berakhir," kata dia.



Sebelumnya, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan kenaikan mobilitas saat periode libur Natal dan tahun baru menjadi tantangan mempertahankan penurunan kasus yang tengah berlangsung.

“Kondisi kasus Indonesia yang saat ini sedang berada di titik terendah dan telah menurun selama 15 pekan perlu kita pertahankan agar tidak kembali meningkat pada saat periode Natal dan tahun baru,” ujar Wiku.

Wiku mengatakan libur Natal dan tahun baru memang menjadi salah satu faktor meningkatnya kenaikan kasus. Sebab, terjadi kenaikan mobilitas masyarakat untuk berlibur dari satu tempat ke tempat lain.

Berkaca pada kasus kenaikan pada akhir 2020 dan puncaknya pada Juli 2021, mobilitas yang tinggi disertai munculnya varian virus Delta membuat penularan di masyarakat semakin cepat.