Hasil Penelitian Terbaru, Teknologi mRNA Juga Ampuh untuk Menyembuhkan Malaria
Penyebaran penyakit malaria (Microbiomepost)

Bagikan:

Selama masa pandemi COVID-19, tenaga kesehatan dan peneliti menjelma bak pahlawan. Setiap langkah dan temuan bisa berdampak besar pada proses penyelesaian pandemi.

Kurang dari setahun, peneliti sudah mengembangkan beberapa vaksin yang dinilai ampuh untuk menghentikan laju penyebaran virus COVID-19. Dalam hal ini, kita patut mengucapkan terima kasih pada teknologi berbasis mRNA. 

Melalui teknologi mRNA, alih-alih menyuntikkan virus dalam kondisi sekarat ke dalam tubuh pasien, kita bisa ‘mengakali’ tubuh agar membuat imun sendiri dengan memicunya untuk memproduksi fragmen protein.

Hasilnya, proses pengembangan vaksin bisa berjalan lebih cepat. Tak ayal, banyak ahli immunologi menganggap teknologi mRNA sebagai terobosan penting dari bidang tersebut.

Dan seiring tingkat vaksinasi untuk pandemi mulai meningkat, komunitas medis mulai mencari pandangan lain. Banyak dari ahli imunologi dan virologi yang ingin mengujicoba senjata genom ini melawan jenis penyakit mematikan lainnya.

Hasilnya, peneliti asal University of Oxford pun sukses menciptakan vaksin malaria. Dalam temuan yang diterbutkan Preprints with The Lancet, peneliti menyatakan bahwa vaksin bikinannya memiliki tingkat efficacy mencapai 75 persen. Jumlah yang sesuai dengan goal yang dicanangkan oleh World Health Organization’s Malaria Vaccine Technology Roadmap.

“Area vaksin akhirnya berubah dan terus berkembang berkat COVID-19,” ungkap Dr. Dan Barouch, direktur Center for Virology and Vaccine Research di Harvard Medical School kepada AAMC.

Penyakit yang Tak Kalah Mematikan

Temuan Mayo Clinic, sebanyak 290 juta manusia terinfeksi malaria setiap tahun. 400 ribu di antaranya meninggal akibat penyakit ini. Sebagian besar pasien yang tidak bisa diselamatkan adalah anak-anak, orang tua, serta mereka yang memiliki tubuh lemah.

Tak ayal, malaria pun menjadi salah satu penyakit parasit yang paling menyebar di dunia. Gejala dari ‘serangan’ malaria terdiri dari tubuh menggigil, digantikan demam, menggigil lagi, kemudian demam lagi dengan suhu yang semakin tinggi.

“Vaksin yang aman, efektif, dan terjangkau berperan penting untuk dalam penyembuhan malaria,” ungkap Direktur Global Malaria Program dari WHO, Dr Robert Newman, pada tahun 2013.

Dr Robert melanjutkan, terlepas dari kemajuan negara yang sudah dicapai, serta inovasi penting dalam hal diagnostik, obat-obatan, serta pengendalian vektor, beban global terhadap malaria tetaplah sangat tinggi.  

Maka dari itu, temuan ini tentu saja diharapkan mampu membawa manusia keluar dari mimpi buruk akan malaria. Pasalnya, peneliti terus mengembang vaksin dengan target tingkat efficacy di atas 75 persen sejak pertama kali menemukan malaria pada tahun 1897.