Misi Satelit NISAR Ditunda Hingga Paruh Kedua Tahun 2024
Ilustrasi satelit NISAR (foto: dok. NASA)

Bagikan:

JAKARTA – Misi NASA-ISRO Synthetic Aperture Radar (NISAR) seharusnya diluncurkan pada awal tahun ini. Namun, NASA mengumumkan bahwa peluncuran misi tersebut akan ditunda hingga paruh kedua tahun ini.

Penundaan ini terjadi karena pekerjaan yang belum selesai, salah satunya adalah pemasangan lapisan khusus pada reflektor antena satelit. Tahapan yang satu ini harus dilakukan untuk melindungi antena satelit melalui pengurangan suhu.

"Pengujian dan analisis mengidentifikasi potensi reflektor mengalami suhu yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya dalam konfigurasi penyimpanannya dalam penerbangan," kata NASA dalam keterangan yang dirilis belum lama ini.

NASA menjelaskan bahwa lambatnya pemasangan lapisan khusus ini terjadi karena reflektor yang dibutuhkan. Ada sedikit kerumitan tentang ukuran dari reflektor sehingga komponen ini harus dikirim langsung dari lokasi perakitan di India.

Setelah tiba di California, tim dari NASA akan menguji kinerja termal dari lapisan reflektor. Jika sudah sesuai dengan kebutuhan satelit, reflektor ini akan dikirim kembali ke India untuk diintegrasikan ke dalam satelit NISAR.

Pihak NASA dan ISRO akan mendiskusikan kembali tanggal peluncuran setelah kinerja termal diverifikasi. Tidak diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memasang lapisan tersebut, tetapi tanggal peluncurannya akan kembali dibahas pada akhir April.

Beberapa waktu lalu, Ketua Organisasi Riset Antariksa India (ISRO), S. Somanath, mengatakan bahwa peluncuran NISAR akan mengalami penundaan. Ia juga mengungkapkan bahwa ada beberapa pengujian yang belum selesai.

"NISAR masih menjalani pengujian. Sepertinya (peluncuran) satelitnya mungkin tertunda,” kata Somanath dalam wawancara bersama Times of India. Pejabat ISRO itu pun memberikan prediksi peluncuran yang sama dengan yang dinyatakan NASA.

Misi NISAR harus segera diluncurkan agar kedua badan antariksa tersebut bisa mengamati permukaan bumi. Satelit ini akan memantau perubahan dari lapisan es dan gletser, lahan basah, hutan, serta daratan di sekitar gunung berapi dan patahan gempa.