Mengingat Kembali Larangan Keras AS untuk Huawei yang Tak Kunjung Usai
Hampir dua tahun Huawei dilarang menapakkan kakinya di Amerika Serikat. (foto: dok.pixabay)

Bagikan:

JAKARTA - Sudah hampir dua tahun Huawei dilarang menapakkan kakinya di Amerika Serikat (AS), segala macam bisnisnya ditutup, tak ada jalan keluar. Namun, hingga kini masih banyak yang bertanya-tanya, apa penyebabnya?

Akibat sanksi dan masuk ke dalam daftar hitam alias Daftar Entitas AS, pendapatan Huawei turun drastis 29 persen pada 2021. Sejatinya, merek ponsel asal China ini pernah menjadi nomor satu di dunia. Perusahaan ini menawarkan berbagai ponsel populer, dari model kelas bawah hingga model unggulan.

Banyak perangkat perusahaan menampilkan desain yang modern, dan Huawei juga merupakan pemimpin dalam teknologi 5G. Selain itu, dia memiliki basis penggemar setia yang akan membuat iri banyak perusahaan. Terlepas dari faktor-faktor ini, alasan AS melarang Huawei ada hubungannya dengan China.

Semua perusahaan yang berbasis di China diwajibkan secara hukum untuk mendukung dan memberikan bantuan apapun kepada pemerintah. Termasuk memberikan informasi tentang individu, pelanggan, dan perusahaan, kapan pun diminta.

Terlepas dari situasi itu, Huawei dipandang memiliki hubungan yang lebih dekat dengan militer dan organisasi intelijen China daripada kebanyakan perusahaan lain. Sebagian besar ini disebabkan oleh pendirinya, Ren Zhengfei, yang pernah bertugas di Tentara Pembebasan Rakyat di China, latar belakang yang membantu perusahaan baru tersebut mendapatkan berbagai kontrak.

Melansir Slashgear, Selasa, 18 Januari, Huawei juga menghadapi banyak tuduhan mencuri IP perusahaan lain, salah satu contohnya adalah kasus yang diajukan Cisco pada tahun 2003.

Masalah Huawei memburuk ketika mantan Presiden AS,  Donald Trump,  berkampanye dengan janji menjadi lebih keras terhadap China. Setelah terpilih, Trump memimpin tindakan keras terhadap Huawei sebagai bagian dari perang dagang yang lebih besar antara kedua negara.

Dari sana, pejabat AS mengungkapkan temuan bahwa Huawei telah menggunakan pintu belakang dalam peralatan jaringan yang diproduksinya, pintu belakang yang biasanya disediakan untuk penegakan hukum.

Negara-negara lain juga mengungkapkan tuduhan pelecehan serupa. Seperti Swedia yang juga melarang Huawei dari peran apa pun dalam jaringan 5G-nya, hingga menyalahkan China dan menuduhnya melakukan spionase dunia maya.

Karena masuknya Huawei ke dalam daftar hitam AS, akibatnya, Huawei diblokir agar tidak dapat menyertakan perangkat lunak dan layanan Google dengan ponsel Android-nya melalui Google.

Begitu pula, TSMC yang diblokir agar tidak dapat memasok semikonduktor ke Huawei, melumpuhkan kemampuan perusahaan untuk membangun ponsel baru. Meskipun TSMC adalah perusahaan Taiwan, Daftar Entitas juga dapat mencegah perusahaan mana pun menyediakan teknologi untuk Huawei yang didasarkan pada teknologi AS. TSMC termasuk dalam kategori itu.

Sebagai akibat dari larangan AS, serta tindakan serupa di seluruh dunia, Huawei telah mengambil sejumlah langkah untuk bertahan. Perusahaan bermigrasi ke HarmonyOS, sebuah inovasi dari sistem operasi Android.

Sementara itu, pelanggan AS tidak akan dapat membeli peralatan Huawei di masa mendatang, dan, jika tuduhan mata-mata itu benar, mungkin yang terbaik. Huawei juga beralih ke industri lain, seperti komputasi awan dan kendaraan listrik. Huawei melihat industri ini lebih terisolasi dan terlindungi dari kemungkinan sanksi.