Ilmuwan Pecahkan Rahasia Air di Bumi Berasal dari Matahari, Benarkah?
Bumi tertutup air dengan lebih dari 70 persen permukaannya terdiri dari lautan. (foto: Nathan Dumalo / Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa air di Bumi mungkin berasal dari Matahari. Sejak lama para ilmuwan telah lama berjuang untuk mengetahui dari mana semua itu berasal.

Salah satu faktornya dimulainya penelitian ini karena Bumi tertutup air dengan lebih dari 70 persen permukaannya terdiri dari lautan. Planet ini jauh lebih kaya air daripada planet lain di Tata Surya.

Menurut para ilmuwan, berdasarkan teori yang ada bahwa air dibawa ke Bumi di tahap akhir pembentukannya pada asteroid tipe C. Namun pengujian sebelumnya dari sidik jari isotop asteroid tipe C ini menemukan bahwa mereka rata-rata, tidak cocok dengan air yang ditemukan di Bumi. Itu artinya terdapat satu sumber lain yang belum ditemukan.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa angin Matahari menciptakan air di permukaan butiran debu kecil dan air yang secara isotop lebih ringan ini kemungkinan menyediakan sisa air di Bumi," ungkap salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian tersebut, dan profesor di Universitas Curtin, Phil Bland.

Dilansir dari The Independent, Selasa, 30 November, diketahui penelitian yang berjudul Solar Wind Contributions to the Earth's Oceans ini telah diterbitkan di jurnal Nature Astronomy.

“Teori angin Matahari baru ini didasarkan pada analisis atom-demi-atom dari fragmen sangat kecil pada asteroid dekat-Bumi tipe S, dikenal sebagai Itokawa. Ini merupakan sampel asteroid yang dikumpulkan oleh wahana antariksa Jepang Hayabusa dan kembali ke Bumi pada tahun 2010," imbuhnya.

Bland menjelaskan, sistem tomografi probe atom kelas dunia yang berada di Universitas Curtin memungkinkan ilmuwan untuk melihat dengan sangat detail di dalam 50 nanometer pertama atau lebih dari permukaan butiran debu asteroid Itokawa.

"Yang kami temukan mengandung cukup air yang jika ditingkatkan akan berjumlah menjadi sekitar 20 liter untuk setiap meter kubik batu," ujar Bland.

Penelitian ini tidak hanya terbukti bermanfaat dalam menceritakan kisah Bumi, tetapi juga membantu manusia meninggalkannya. Di masa depan, kemungkinan teknik yang sama bisa digunakan dalam misi luar angkasa.

“Bagaimana astronot akan mendapatkan air yang cukup, tanpa membawa persediaan, adalah salah satu hambatan eksplorasi ruang angkasa di masa depan,” kata ilmuwan lain yang juga mengerjakan penelitian tersebut, Luke Daly.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa proses pelapukan ruang angkasa yang sama yang menciptakan air di Itokawa kemungkinan terjadi di planet minim sumber daya alam lainnya, yang berarti astronot mungkin dapat memproses pasokan air segar langsung dari debu di permukaan planet, seperti Bulan," tambah Daly.