Hari Koperasi Nasional: Cikal Bakal BRI dan Misi Penyelamatan Rakyat dari Lintah Darat dalam Sejarah Hari Ini, 12 Juli 1947
Salah satu koperasi di Pulau Jawa (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 12 Juli 1947, Kongres Koperasi I digelar. Acara di Tasikmalaya, Jawa Barat mengawali kongres koperasi yang menandai pergerakan koperasi di Indonesia. Kongres hari itu juga menetapkan 12 Juli sebagai Hari Koperasi Nasional.

Dipilihnya Tasikmalaya sebagai tempat kongres adalah karena saat itu Kota Bandung tengah diduduki Belanda. Saat itu Belanda kembali datang ke Indonesia tak lama setelah kemerdekaan. Kongres yang berlangsung dari 11-14 Juli 1947 dihadiri 2.500 orang.

Selain Hari Koperasi Nasional, kongres juga menghasilkan beberapa keputusan, di antaranya pembentukan SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia) dan menunjuk para pengurusnya. Mengutip Warta KUMKM, peran koperasi memang difokuskan untuk memperbaiki kesejahteraan sosial dan ekonomi anggotanya.

Diharapkan anggota koperasi nantinya paham tentang konsep, prinsip, dan praktik berkoperasi yang baik. Selain itu anggota koperasi juga diharapkan memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam kegiatan koperasi, menumbuhkan kemandirian dan kesadaran tentang hak serta kewajiban.

Sejarah dan perkembangan koperasi di Indonesia

Sebuah koperasi di Pulau Jawa (Sumber: Commons Wikimedia)

Perkembangan awal Koperasi di Indonesia berawal dari inisiatif R. Aria Wiriatmaja. Patih dari Purwokerto, Jawa Tengah mendirikan De Purwokertosche Hulp en Spaarbank der InlanderHoofden atau Bank Penolong dan Simpanan bagi para priyayi pada 1895.

Bank tersebut didirikan karena adanya kesulitan ekonomi yang dialami para pegawai pribumi akibat lintah darat. Pendirian bank lalu didukung asisten residen De Wolf Van Westerrode. Bersama dengan R. Wiriatmaja, mereka berdua lalu mengembangkan koperasi simpan pinjam padi untuk petani.

Dengan mengambil model koperasi kredit Raiffeisen dari Jerman, keduanya mendirikan Bank Penolong dan Simpanan. Bank tersebut jadi cikal bakal dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Perkembangan koperasi di Indonesia selanjutnya berjalan bersama pergerakan nasional. Berbagai organisasi kepemudaan dan kebangsaan mendirikan koperasi demi mencapai tujuan ekonomi rakyat yang lebih sejahtera.

Mengutip Kompas, pada 1908, Dr. Soetomo mendirikan Budi Utomo. Budi Utomo didirikan dengan tujuan memanfaatkan sektor koperasi dengan mendirikan koperasi rumah tangga.

Niti Soemantri menyematkan Lencana Emas pada Bung Hatta Kongres Koperasi Indonesia I I947 (ika.ikopin.or.id)

Kemudian, terdapat aturan koperasi yang dicetuskan Pemerintah Hindia Belanda dengan keluarnya Verordening Op De Cooperatiev Vereenigining. Aturan tersebut direvisi 12 tahun kemudian dan digantikan dengan aturan baru, Regeling Inlandsche Cooperatiev. 

Selain Budi Utomo, organisasi lain, Serikat Dagang Islam terbentuk pada 1913. Organisasi ini didirikan dengan tujuan memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusaha pribumi.

Pada 1927, kelompok Studie Club (Persatuan Bangsa Indonesia) juga membangkitkan gerakan koperasi. Pendirian koperasi bertujuan sebagai wahana pendidikan ekonomi rakyat dan nasionalisme kebangsaan.

Perkembangan koperasi mulai terganggu ketika terdapat undang-undang yang mematikan koperasi pada 1933. Penjajahan Jepang ke Indonesia memperparah kondisi itu.

Saat penjajahan Jepang, koperasi berganti nama jadi Syomin Kumiai Tyuo Djimusyo. Jepang menjadikan koperasi sebagai alat pengeruk keuntungannya sendiri.

*Baca Informasi lain soal SEJARAH atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya