Berubahnya Wajah Batavia Akibat Malaria
Upaya mengendalikan tempat-tempat kembang biak nyamuk (Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Pelaut sekaligus penyair VOC Jan De Marre begitu jatuh cinta pada Batavia. Bahkan, sebuah puisi tercipta di kali pertama ia menginjakkan kaki di Batavia pada awal abad ke-18.

Berubahnya Wajah Batavia Akibat Malaria

O, Batavia yang indah, yang telah menyihirku.

Disana alun-alun kota dengan area bangunan yang megah menyibak keagunganmu!

Betapa sempurnanya kau!

Kanal-kanalmu yang luas, dengan air jernih yang mengalir,

Tak ada kota tandinganmu di Belanda

Lewat bait-bait puisi berjudul Batavia, Jan ingin mengenalkan sebuah kota berjuluk Koningen van het Oosten (Ratu dari Timur) kepada dunia. Sayangnya, julukan tersebut tak bertahan lama. Kehadiran Anopheles Sundaicus --nyamuk penyebab malairia-- datang mengubah segalanya.

Bagaimana tidak, seabad setelah Jan Pieterszoon Coen membangun kota Batavia pada tahun 1622, kondisi Batavia semakin tak terkontrol dan jauh dari kata terawat. Oleh sebab itu, malapetaka yang berasal dari gigitan nyamuk, mampu menimbulkan wabah malaria yang banyak meminta korban.

Seperti yang dituturkan oleh Sejarawan JJ Rizal dalam Tulisannya pada Majalah Tempo dengan judul Nyamuk dan Kota yang Ambruk (2007). Rizal menggungkap akibat kehadiran nyamuk Anopheles Sundaicus, gelar Sang Ratu dari Timur pun ikut-ikutan berubah.

“Batavia tak berdaya. Pasien membanjiri rumah sakit yang telah ada di Batavia sejak 1622. Tapi kematian terus melaju. Penduduk menjuluki rumah sakit De Moordkuil atau lubang kubur, sebab yang datang berobat bukan sembuh, malah mati. Angka kematian yang ekstrem itu membuat Batavia pada abad ke-18 dinobatkan menjadi kota yang paling tak sehat di dunia,” tulis Rizal.

Alhasil, korban paling banyak dari wabah malaria saat itu, tak lain adalah orang Eropa yang notabene sebagian besar bekerja sebagai pegawai baru VOC. Gambaran akan hal itu bisa didapat dari Robert Bwire, penulis buku Bugs in Armor: A Tale of Malaria and Soldiering (2000). Robert sempat menulis, sebelum tahun 1733, orang Eropa yang tewas hanya tercatat lima sampai sepuluh persen. Tapi, setelah tahun 1733, angka ini meningkat hingga 40 sampai 50 persen.

“Pada tahun 1775, kematian orang Eropa yang baru datang ke Batavia sangat mengkhawatirkan. Saking mengkhawatirkannya, dalam dua kelompok yang tiba di Batavia, satu kelompok terdiri dari atas 370 tentara. Dalam kurun waktu setelah dua tahun berada di Batavia, 80 persen diantaranya telah meninggal akibat malaria.”

Sebelumnya, catatan akan bahaya malaria di kota Batavia sempat terabadikan oleh penjelajah terkenal bernama Kapten James Cook, yang kebetulan pernah berlabuh di Pulau Onrust, akibat kapalnya mengalami kerusakan.

Caption

 

Kala itu, Kapten Cook dan awak kapalnya menjadikan Batavia sebagai rumah sementara selama dua bulan, sembari menanti perbaikan kapal. Beruntung, kapalnya dapat diperbaiki, tetapi tidak bagi ketujuh krunya yang meninggal akibat terkena malaria. 

“Lebih banyak orang Eropa meninggal karena udara yang tidak sehat di Batavia daripada di tempat-tempat lain di dunia...,” tulis Kapten Cook dalam Captain Cook’s Journal 1768–1771 (1968).

“Berita kematian menjadi hal biasa bagi mereka (di Batavia) karena sangat sering terjadi. Mereka tidak terkejut maupun terpengaruh ketika mengetahui rekan yang kemarin bertemu dengannya, hari iní telah menínggal. Bila mendengar berita bahwa ada kenalannya yang meninggal, biasanya mereka berkata, 'Ya, sudah, dia tidak berutang apa pun pada saya. atau saya harus menagih utangnya dari ahli warisnya."

Lama-kelamaan, karena korban terus berjatuhan akibat malaria, orang-orang yang lahir dan besar di Batavia, nyatanya sering kali memplesetkan julukan Batavia, Koningen van het Oosten dengan menggantinya menjadi Kerkhoven van het Oosten atau Kuburan di Timur.

Penyebab malaria mewabah

Penulis berkebangsaan Skotlandia, John Crawfurd, lewat bukunya Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countrie (1856) mengkambinghitamkan gempa dan letusan gunung yang membuat sungai di Batavia, bahkan tanggul-tanggulnya yang penuh dengan lumpur sabagai alasan utama nyamuk berkembang biak.

Hal Itu bukan satu-satunya alasan. Melainkan, seperti yang diungkap oleh ragam litelatur, perkara penyebab malaria erat hubungannya dengan keserakahan pegawai VOC pada 1680 hingga 1720. Sebab, dengan alasan ingin meraih keuntungan secara besar-besaran lewat investasi perkebunan tebu, mereka kemudian gemar membuka banyak lahan pertanian.

Meski begitu, nafsu yang menggebu-gebu membuka lahan, tak dibarengi oleh nafsu untuk merawat. Dampaknya, baru terasa saat terjadi sebuah krisis ekonomi di Batavia, lahan-lahan perkebunan tebu yang sejatinya menjadi pundi-pundi pendapatan, lalu ditinggalkan begitu saja tak terurus.

Maka, jelas, akumulasi dari hutan yang tandus, air yang tercemar, kebersihan yang tak terjaga menjadikan Batavia memiliki udara busuk serta menjadi sarang nyamuk. Sedihnya lagi, banyak di antara dokter tak begitu paham dengan wabah yang dihadapi.

“Dokter masa itu gagal menemukan penyebabnya. Mereka menyalahkan angin laut, kemudian angin darat. Mereka mengimpor air spa atau seltzer dari Eropa, dan tidak minum dari air sungai yang kotor itu, dan akhirnya mereka bahkan mulai menganggap bahwa keberadaan kanal-kanal kotor itu sendiri tidak menyehatkan,” ujar Bernard H.M Vlekke dalam bukunya berjudul Nusantara (1961).

Susan Abeyasekere membenarkan perihal itu. Dalam bukunya yang sempat dilarang terbit pada zaman Orde Baru, Jakarta: A History (1989), Susan memiliki anggapan, ketidaktahuan masyarakat kala itu terhadap malaria, malah menjadikan udara berbau busuk sebagai penyabab malaria.

“Sebagian besar orang Eropa cenderung menyalahkan pada udara berbau busuk yang memaksa mereka menutup jendela dan menarik tirai di rumah mereka yang pengap.”

Akhirnya, masyarakat Batavia sementara dapat bernapas lega ketika pada akhir abad ke-18, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels yang memerintah pada tahun 1808 hingga 1811, mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Oud Batavia --Batavia lama atau kawasan Kota Tua-- ke kawasan Nieuw Batavia Weltevreden, wilayah sekitar Lapangan Banteng.

Hanya saja, keputusan tersebut harus dibayar mahal dengan kehancuran Oud Batavia sebagai niatan memutus rantai penyebaran penyakit. Akibatnya, Kota Batavia lampau hanya dapat dinikmati lewat lukisan dari Johannes Rach (1720 – 1783), seorang pelukis terkenal di Batavia yang sempat mengabadikan suasana Oud Batavia.