JAKARTA - Tiada tokoh oposisi Filipina yang paling menonjol selain Benigno ‘Ninoy” Aquino di era pemerintahan Ferdinand Marcos Sr. Ia berani menentang pemerintah yang korup nan otoriter. Ia pasang badan melawan melawan dominasi Marcos.
Kondisi itu buat Marcos berang. Ninoy dibuat masuk bui. Diancam hukuman mati pula. Namun, penjara tak membuat Ninoy jera. Ia terus melawan hingga Marcos kehabisan akal. Opsi pembunuhan Ninoy dilakukan. Nyatanya itu jadi senjata makan tuan. Kematian Ninoy jadi penanda awal berakhirnya kuasa rezim Marcos.
Kepemimpinan Ferdinand Marcos kerap dipandang sebagai fase terkelam dalam sejarah Filipina. Presiden Filipina era 1965-1986 itu hampir memborong semua citra buruk. Ia dikenal sebagai pemimpin yang manipulatif, represif, dan korup.
Empatinya terhadap penderitaan rakyat Filipina kerap dipertanyakan. Marcos dan keluarganya saja mampu berpesta mewah di tengah rakyat Filipina menderita. Kondisi itu memunculkan kecaman dari banyak pihak. Namun, siapa saja yang bergabung dalam kelompok oposisi segera ditumpas.
Marcos tak segan-segan memukul mundur lawan politiknya. Alhasil, tiada yang berani yang melawan Marcos. Semuanya berubah kala Ninoy Aquino masuk gelanggang politik. Pria kelahiran Tarlac, 27 November 1932 itu jadi lawan terberat Marcos.
Ninoy sendiri terlahir dalam keluarga politik. Kondisi itu membuat Ninoy mampu menembus dunia politik Filipina, sebagai Gubernur Tarlac hingga senator. Alih-alih sibuk memperkaya diri sendiri macam Marcos, Ninoy justru memilih menaikkan hajat hidup rakyat Filipina.
Usaha Ninoy yang paling dikenal adalah keberaniannya membagi-bagikan tanah keluarga Aquino kepada petani dan kaum buruh. Aksi itu mendapatkan simpati dari banyak pihak. Rakyat Filipina mulai meramalkan Ninoy sebagai pemimpin masa depan Filipina.
Masalah muncul. Tak semua orang suka dengan narasi yang tersebar. Narasi itu sampai ke telingga Marcos. Empunya kuasa kemudian berencana memukul mundur Ninoy dari panggung politik pada 1972. Rezim Marcos menuduhnya melakukan pembunuhan hingga subversi. Ninoy dibui dan diancam hukuman mati.
“Saya duduk di kamar yang hingar di Fort Bonifacio, menyaksikan mahkamah militer yang mengadilinya. la didakwa memiliki senjata gelap, membunuh, dan melakukan tindak subversi. Meski tampak kurus dan lemah ia kehilangan berat badan 40 pound selama di sel seorang diri sejak 1972.”
“Ia hampir mati melakukan puasa 40 hari. Ia melakukan mogok makan untuk memprotes pengadilan militer yang dikenakan pada perkaranya Ninoy ketika itu tidak kehilangan kelancaran bicara dan daya tariknya yang terkenal – ia hanya konsumsi tablet garam, natrium bikarbonat, asam amino, dan dua gelas air sehari,” tertulis dalam laporan majalah Tempo berjudul Perjalanan untuk Mati (1983).
Kematian Ninoy
Marcos berpikir penjara dapat mengubah Ninoy. Namun, penjara justru membuat Ninoy mantap melawan Marcos. Ia jadi banyak waktu luang membaca buku. Ia mencoba menjelajahi banyak pemikiran tokoh dunia. Nyala api perlawanannya kian bertumbuh.
Belakangan Marcos mulai mengendurkan penjagaannya. Marcos coba mengasingkan Ninoy ke Amerika Serikat (AS). Pengasingan itu dilakukan supaya Ninoy mendapatkan perawatan terbaik untuk penyakit jantungnya pada 1980.
Pembedahan jantung Ninoy pun berlangsung lancar. Kondisi Ninoy yang mulai sehat. Ia memanfaatkan benar kesempatan di AS. Ia mulai belajar di kampus ternama di AS. Ia juga mulai mencari dukungan untuk perjuangan politiknya meruntuhkan rezim Marcos.
Dukungan kepada Ninoy mengalir deras – dari mahasiswa hingga jurnalis internasional. Mereka yang menyumbang dana bejibun. Pendukung dari Ninoy mulai mengharapkan kehadirannya di Filipina. Keinginan yang sama juga dirasakan oleh Ninoy.
BACA JUGA:
Ninoy ingin bikin repot Marcos dalam Pemilu Filipinan 1984. Kondisi itu membuatnya segera pulang ke Filipina. Ia juga menggandeng beberapa wartawan luar negeri ke Filipina pada 21 Agustus 1983. Tujuannya untuk keamanan.
Pemerintah Marcos dianggap takkan berani membunuhnya karena ada wartawan. Pandangan itu nyatanya salah. Kedatangan Ninoy di Bandara Internasional Manila (kini: Bandara Internasional Ninoy Aquino) disambut oleh puluhan petugas berseragam, dan 200 orang berpakaian preman.
Mereka tersebar di berbagai tempat, dari ruang tunggu hingga teras bandara. Beberapa petugas lalu datang dan membawa Ninoy ke tempat yang sepi di bandara. Penembakan pun terjadi. Kondisi itu membuat rakyat Filipina marah besar ke Marcos.
Mereka meyakini Marcos adalah dalang dari kematian Ninoy. Alhasil, gejolak perlawanan terhadap Marcos muncul di mana-mana. Istri dari Ninoy, Corazon Aquino ikut turun tangan memimpin kelompok oposisi menumbangkan Marcos.
Ajian itu kemudian baru berhasil pada 1986. Marcos dan pemerintahan represifnya tumbang. Marcos dan keluarganya kabur ke Hawaii bersama uang hasil korupsinya. Cory pun jadi Presiden Filipina yang baru sedari 1986-1992.
“Ketika Senin siang jenazah dibawa kembali dari Tarlac ke Manila, beberapa wanita pingsan menahan duka. Jalanan antara Tarlac dan Manila macet. Seoran wartawan ABC berkata: saya teringat pada Jakarta 1966 – aksi demonstrasi Tritura (tiga tuntutan rakyat). Tetapi sebuah huru-hara agaknya tidak bakal terjadi.”
“Janda Aquino sendiri, Corazon ‘Cory’ Cojuangoo, putri cantik keluarga paling penting di Provinsi Tarlac itu tidak menginginkan hal ini: dengan menempuh kekerasan, kita mengingkari keinginan Ninoy sendiri. Meski demikian, di Universitas Ramkhamhaeng, para mahasiswa sempat membakar patung Marcos. Mereka sekalian menyelanggarakan diskusi panel dengan tema Krisis Politik di Filipina. Tentara memang disiagakan di seantero kota, terutama di sekitar kampus,” tertulis dalam laman majalah Tempo berjudul Marcos, Mereka mulai Menuduh (1983).