JAKARTA – Memori hari ini, tujuh tahun yang lalu, 29 Agustus 2018, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan (Zulhas) protes Ma’ruf Amin yang tak mundur dari jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Protes itu karena Ma’ruf telah jadi cawapres Joko Widodo (Jokowi).
Zulhas menyampaikan protesnya langsung ke Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin. Sebelumnya, mundurnya Sandiaga Uno dari Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta dipuji banyak pihak. Kondisi itu membuat orang-orang membandingkannya dengan sikap Ma’ruf yang ogah mundur.
Etika kerap jadi pedoman penting dalam dunia politik. Politikus yang menjunjung tinggi etika dapat membuat dunia politik Indonesia lebih beradab. Masa depan bangsa dipandang akan cerah. Kondisi itu coba diperlihatkan oleh Sandiaga Uno.
Wagub DKI Jakarta akhirnya dipinang Prabowo Subianto sebagai cawapres pada 9 Agustus 2018. Posisi itu membuat Sandi berpikir panjang. Kesempatan ikut Pilpres 2019 membuatnya tak bisa fokus memimpin Jakarta karena harus cuti.
Hari-hari Sandi akan terisi dengan kampanye. Sandi tak mau pula dianggap memanfaatkan posisi Wagub untuk mendukung ambisi politiknya. Alhasil, Sandi memilih mengirimkan surat pengunduran dirinya pada 10 Agustus 2018.
Sandi memang memahami ada aturan menegaskan pejabat negara tak harus mengundurkan diri. Mereka tetap bisa ikut Pilpres hanya dengan cuti seizin Presiden Jokowi saja. Namun, Sandi punya pandangan berbeda. Ia menganggap membangun Jakarta butuh fokus tinggi.
Sandi tak ingin mengganggu Anies Baswedan memimpin Jakarta. Ia ingin supaya Wagub baru segera ditentukan. Alasan lain juga turut diungkap Sandi dalam sidang paripurna di DPRD Jakarta pada 27 Agustus 2018. Ia mengungkap pengunduran dirinya karena takut terjadi konflik kepentingan.
"Mempertimbangkan betapa besar tugas seorang Wakil Gubernur. Betapa berat kerja di Jakarta dan menghindari risiko politisasi jabatan, menjauhkan dari mudarat pejabat yang mengintervensi dan menyalahgunakan birokrasi, anggaran, dan fasilitas.”
“Maka saya memilih ikhlas berkorban untuk tidak mengambil cuti, dan mendahulukan kepentingan warga Jakarta juga aspirasi rakyat Indonesia di atas kepentingan diri ataupun golongan. Dalam kaitan ini, pilihan saya mengambil sikap menyatakan berhenti secara resmi sebagai Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta masa bakti 2017-2022," ujar Sandiaga sebagaimana dikutip laman detik.com, 27 Agustus 2018.
Keputusan Sandi mundur dari jabatan Wagub DKI Jakarta diapresiasi banyak pihak. Kondisi itu jauh berbeda dengan Jokowi memilih Ketua MUI, Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Kehadiran Ma’ruf dikritik karena sosok tokoh agama tersebut tak mau melepaskan jabatannya sebagai Ketua MUI.
BACA JUGA:
Protes terus berdatangan ke MUI. Mereka meminta MUI segera menentukan nasib Ma’ruf Amin, selain hanya nonaktifkan Ma’ruf sebagai Ketua Umum MUI. MUI pun memberikan jawaban kalau Ma’ruf akan mengundurkan diri jika menang Pilpres 2019.
Ketua PAN, Zulhas angkat bicara. Ia mengutarakan protesnya secara langsung kepada Ketua Dewan Pertimabangan MUI, Din Syamsuddin pada 29 Agustus 2018. Zulhas meminta Ma’ruf segera mundur supaya tidak ada konflik kepentingan pada Pilpres 2019.
Zulhas mencontohkan Sandi saja langsung mundur. Ma’ruf yang seorang tokoh agama harusnya bisa melakukan yang sama demi jadi contoh dan menjaga etika politik yang baik. Din pun memberikan jawaban yang sama. Ma'ruf hanya bersiap mundur jika menang saja.
"Ya harus mundurlah, masa kalah sama Bang Sandiaga mundur dari Wagub DKI," ujar Zulhas ke Din di Universitas Muhammadiyah Jakarta sebagaimana dikutip laman detik.com, 29 Agustus 2018.