Bagikan:

JAKARTA - Memori hari ini, 10 tahun yang lalu, 15 Mei 2014, Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama meresmikan Museum Peringatan 9/11 atau Tragedi 11 September. Museum itu dianggap sebagai tempat penyembuhan dan harapan. Obama ingin generasi AS yang akan datang tak melupakan Peristiwa 11 September 2001 (9/11).

Sebelumnya, Peristiwa 9/11 dianggap sebagai serangan teroris terbesar dalam sejarah AS. Dua pesawat yang dibajak teroris menghantam menara kembar World Trade Center (WTC) di New York pada 11 September 2001. Serangan itu membuat korban jiwa berjatuhan.

Peristiwa 9/11 membawa kedukaan yang mendalam bagi segenap rakyat AS, kemudian dunia. Duka itu muncul setelah dua pesawat yang dibajak oleh teroris menghantam menara kembar WTC. Penabrakan pesawat itu telah direncanakan matang.

Para teroris sepertinya memahami bahwa dua bangunan itu dipandang sebagai simbol kedigdayaan AS. Digdaya dalam hal ekonomi, politik, dan militer. Mereka yang berada di dalam dan luar gedung jadi korban.

Museum Peringatan 9/11 difoto dari udara. (Wikimedia Commons)

Dua jam setelahnya, dua bangunan itu runtuh seketika. Kehancuran dua bangunan itu membuat seisi Kota New York mencekam. Serangan itu diyakini sebagai serangan teroris terbesar dan terburuk sepanjang sejarah AS. Ucapan belasungkawa pun muncul dari berbagai dunia.

Masalah muncul. Alih-alih hanya rasa belasungkawa saja, jaringan teroris, Al-Qaeda justru menyatakan bertanggung jawab di balik serangan tersebut. Kehadiran klaim Al-Qaeda kian memperkeruh suasana. Kepanikan muncul di mana-mana.

Citra AS yang selalu digembar-gemborkan dapat menjaga warga negaranya jadi runtuh. Apalagi, korban yang jatuh karena Peristiwa 9/11 tak sedikit. Kondisi itu membuat AS naik pitam. Mereka mulai mengajak banyak negara untuk perang melawan terorisme.

Jika perlawanan itu tidak dilakukan, maka aksi terorisme akan merajalela. AS ingin dunia tak boleh melupakan Peristiwa 9/11.

“Sebuah pesawat Boeing 767 menabrak tingkat 80 menara utara World Trade Center yang menjulang ke langit. Delapan belas menit kemudian, satu pesawat lagi menggebrakkan diri ke menara yang selatan. Tower Kembar itu akhirnya runtuh.”

“Ribuan orang yang pagi itu di sana tewas. Apa yang tak pernah dibayangkan jadi peristiwa besar di siang-bolong New York terhenyak, bingung, cemas. Subway berhenti total, juga bus kota, juga taksi. Semua orang-saya di antaranya-berjalan kaki dari bagian kota yang satu ke bagian kota yang lain. Seakan-akan dalam keterhenyakan massal itu, mereka saling cari teman,” ungkap Goenawan Mohamad dalam tulisannya di majalah Tempo berjudul Batas (2021).

Keinginan AS supaya dunia tak boleh melupakan Peristiwa 9/11 ditanggapi serius. Pemerintahan Barack Obama bahkan menyiapkan Museum Peringatan 9/11 di New York, AS. Alias museum dibangun di bekas lokasi peristiwa 9/11 terjadi. Museum itu nantinya akan memutar rekaman pembacaan nama 2.983 pria, wanita, dan anak-anak yang tewas dalam Peristiwa 9/11.

Pucuk dicinta ulam tiba. Museum itu pun rangkum. Presiden Barack Obama pun meresmikan Museum Peringatan 9/11 pada 15 Mei 2014. Obama ingin supaya museum itu jadi tempat kesembuhan dan harapan untuk AS lebih baik.

Menara kembar World Trade Center di New York terbakar setelah ditabrak dua pesawat Boeing 737 pada 11 September 2001. (Wikimedia Commons)

“Di sini, di peringatan ini, di museum ini, kita berkumpul bersama. Kita berdiri di jejak dua menara besar, disemarakkan oleh derasnya air abadi. Kami melihat wajah hampir 3.000 jiwa tak berdosa -- pria dan wanita serta anak-anak dari setiap ras, setiap keyakinan, dan setiap sudut dunia.”

“Kita dapat menyentuh nama mereka dan mendengar suara mereka serta melihat sekilas hal-hal kecil yang mengungkapkan keindahan hidup mereka. Cincin kawin. Helm yang berdebu. Lencana yang bersinar,” ungkap Obama sebagaimana dikutip laman obamawhitehouse.gov, 15 Mei 2014.