Mahmoud Ahmadinejad, Pemimpin Iran yang Hidup dengan Gaji Kecil Sebagai Dosen
Mahmoud Ahmadinejad yang pernah menjabat sebagai Presiden Iran era 2005-2012. (Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Citra Mahmoud Ahmadinejad sebagai pemimpin teladan Iran tiada dua. Laku hidupnya di dunia politik menganggumkan. Seisi Teheran kagum dengan kinerjanya sebagai Wali Kota Ibu Kota Negara (IKN). Ia menjelma jadi defenisi sempurna pejabat yang bekerja untuk rakyat.

Narasi itu bukan pepesan kosong belaka. Ia tak ingin diistimewakan sebagai pejabat publik dengan segala fasilitas mentereng. Gaji sebagai pejabat tak diambil. Satu-satunya pemasukan Ahmadinejad adalah gaji kecilnya sebagai seorang dosen.

Kemiskinan kerap jadi pelajaran penting kehidupan. Itulah yang dialami oleh Mahmoud Ahmadinejad. Pria kelahiran Aradan, Iran, 28 Oktober 1956 itu bukan terlahir dari keluarga kaya raya. Ayahnya hanya berprofesi sebagai tukang besi.

Suatu profesi yang diandalkan untuk menghidupi Ahmadinejad dan enam saudaranya. Nyatanya, keterbatasan itu bukan halangan. Keterbatasan itu membuat ayahnya semangat bekerja dan mengadu nasib dari Aradan ke Teheran.

Mahmoud Ahmadinejad bersama pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khameini. (Iranian Media)

Kehidupan mereka sedikit lebih baik. Alih-alih ayahnya hanya mengedepankan pendidikan agama, Ahmadinejad pun diarahkan untuk menempuh pendidikan umum. Kiprahnya menempuh pendidikan berlangsung mulus.

Ahmadinejad bahkan dapat mengakses perguruan tinggi. Ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan teknik pembangunan di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST). Masa-masanya sebagai mahasiswa dimanfaatkan benar oleh Ahmadinejad.

Ia mulai mengasah kepekaannya terhadap lingkungan sekitar. Ahmadinejad melihat rakyat Iran banyak nelangsa di bawah kuasa monarki. Ia pun bergerak sebagai aktivis mahasiswa yang mendukung perubahan.

Ia mendukung penuh pemimpin besar Iran, Ayatollah Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini mengambil alih kuasa dan berhasil. Ahmadinejad bahkan ikut jadi ambil bagian sebagai pejuang dalam Perang Irak-Iran. Pendidikan pun tak dilupakannya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menyambut Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad (kiri) saat menghadiri Bali Democracy Forum (BDF) V di Nusa Dua, Bali, Kamis (8/11/2012). (Antara/Nyoman Budhiana)

Ia terus menuntut ilmu hingga meraih gelar doktor di IUST. Pendidikan tinggi itu tak membuatnya risau. Ia memilih dua karier sekaligus. Sebagai pejabat publik dan dosen di almamaternya. Puncaknya, ia terpilih sebagai Wali Kota Teheran.

“Setelah dua tahun menjadi gubernur distrik Maku, pada tahun 1982 Ahmadinejad dipindahkan ke Khoy, sebuah wilayah di Azerbaijan Barat. Ahmadinejad mengikuti kewajiban militer yang ditetapkan negara setelah menyelesaikan kuliah dengan mengikuti operasi Kirkuk pada tahun 1986-1988. Ahmadinejad bekerja bersama pasukan Pengawal Revolusi selama dua tahun sebagai anggota korps zeni.”

“Pada tahun 1993 Ahmadinejad menjadi kepala menteri pendidikan tinggi dan kebudayaan sebelum menjadi gubernur jenderal provinsi Ardabil, wilayah perbatasan Azerbaijan dan laut Kaspia yang baru menjadi daerah administratif. Pada tanggal 3 Mei 2003 Ahmadinejad diangkat menjadi Wali Kota Teheran,” terang Menik Lestari dan Tri Yuniyanto dalam tulisannya di Jurnal Candi berjudul Mahmoud Ahmadinejad: Studi Pemikiran dan Dampak Pemikiran Politik 2005-2012 (2013).

Hidup dengan Gaji Kecil Dosen

Langkah Ahmadinejad sebagai Wali Kota Teheran dan dosen di IUST berjalan lancar. Ahmadinejad berhasil mengimbangi antara jadi pelayan rakyat dan pendidik. Prestasinya sebagai Wali Kota Teheran pun tak kalah mentereng.

Ahmadinejad mampu membangun Teheran dengan baik. Infrastruktur banyak dibangun. Demikian pula dengan sumber daya manusianya. Kepopuleran Ahmadinejad pun meningkat seiring dirinya berdiri menjadi pembela utama kaum miskin kota dan Islam.

Ia berpihak kepada mereka yang tak berpunya, dibanding mereka yang bermodal. Sosok itu mampu menggerakan kekayaan yang dimiliki negara untuk digunakan sepenuh-penuhnya untuk kesejahteraan rakyat. Ia bahkan dijuluki Robin Hood Islam.

Laku hidup membela rakyat itu tak hanya berbentuk ajian politik belaka, Ahmadinejad mengaplikasikan gaya hidup sederhana ke kehidupannya pribadi. Ia lebih suka menyebut dirinya pelayan masyarakat. Gajinya yang besar sebagai Wali Kota Taheran tak pernah diambil.

Geliat pendukung Mahmoud Ahmadinejad dalam suatu aksi. (Wikimedia Commons)

Ia tak mau menyentuh fasilitas mentereng sebagai seorang pejabat publik. Ahmadinejad memilih dirinya berbaur dengan masyarakat Teheran. Satu-satunya gaji yang diambil oleh Ahmadinejad adalah gajinya sebagai dosen di IUST.

Gaji itu terlampau kecil untuk menghidupi keluarganya. Jumlahnya saja jika dalam kurs rupiah hanya mencapai angka Rp2,5-3,5 juta. Kesederhanaan itu disambut dengan gegap gempita. Semua perjuangan Ahmadinejad membela rakyat akhirnya terbalas kala ia ikut kontestasi politik tingkat tinggi: Pilpres Iran 2005.

Ia mampu menang dan melejit sebagai Presiden Iran yang baru. Citra kesederhanaan Ahmadinejad pun banyak dikagumi pesohor dunia. Konon, citra kesederhanaan yang jadi gaya hidup Ahmadinejad juga diaplikasikan Joko Widodo (Jokowi) dalam mengikuti kontestasi politik Pilpres 2014 dan menang.

“Dua tahun kemudian, ketika terpilih sebagai Presiden Iran, perilaku Nejad tak berubah. Sesaat setelah dilantik, hal penting yang kali pertama dilakukannya adalah mengumumkan harta kekayaannya. Terdiri dari sebuah sedan Peugeot 504 keluaran 1977, sebuah rumah warisan ayahnya di pinggiran Teheran, dan rekening bank yang bersaldo minimum. Tak ada surat berharga dan emas berlian, apalagi yang dipesan dan diukir dari toko langganan.”

“Satu-satunya penghasilan yang masuk ke rekeningnya hanya gaji bulanan sebagai dosen sebesar p2,5 juta. Nejad menyebut seluruh kekayaannya adalah milik negara dan dia hanya bertugas menjaganya. Lalu, setiap kali berangkat ke kantor kepresidenan dari rumah pribadinya yang lusuh, dia juga hanya membawa beberapa tangkup roti tawar buatan istrinya untuk sarapan atau makan siang. Tidurnya di karpet, di dekat meja kerjanya,” ungkap Rusdi Mathari dalam buku Aleppo (2020).