Bagikan:

JAKARTA - Sejarah hari ini, 123 tahun yang lalu, 4 Desember 1900, surat kabar, Bintang Betawi memuat iklan penayangan perdana film di Hindia Belanda. Iklan itu mengajak khalayak beramai-ramai datang Bioskop Kebon Jahe, Tanah Abang, Batavia, untuk jadi saksi masuknya hiburan gambar idoep (film) ke Nusantara.

Sebelumnya, keanekaragaman hiburan bukan barang baru di Nusantara. Hiburan yang hadir masih terbatas kepada pertunjukkan tradisional. Hiburan barat –biliar dan lainnya-- baru tumbuh kala orang Belanda mulai banyak berdatangan dan membangun klub eksklusif.

Setiap orang butuh hiburan. Bahkan, di era penjajahan Belanda. Kaum bumiputra saja mampu mengurangi segala penatnya dengan menikmati ragam hiburan tradisional khas Nusantara. Dari wayang hingga tari.

Hiburan itu mampu mengikis rasa kesedihan hidup di bawah kuasa Belanda. Sebaliknya, orang Belanda. Cara orang Belanda mengakses hiburan beragam. Mereka dapat menikmati hiburan di mana saja. Ajang pergi ke pesta perkawinan hingga pernikahan dapat dilanggengkan sebagai hiburan.

Kondisi itu kian masif kala orang-orang Belanda mulai berdatangan ke pusat kekuasaan Belanda di Batavia (kini: Jakarta). Kehadiran mereka mampu mendatang ragam hiburan baru ke Nusantara. Klub eksklusif sebagai tempat bersenang-senang macam Societeit --Harmonie dan Concordia-- tumbuh subur. Di Batavia, apalagi.

Potret bioskop di Nusantara era penjajahan Belanda. (Wikimedia Commons)

Societeit kemudian menjelma menjadi klub eksklusif yang menyediakan ragam hiburan. Dari main kartu hingga biliar. Namun, tak sembarang orang dapat mengaksesnya. Mereka yang kaya dan sangat kaya saja dapat masuk. Orang Belanda miskin dan kaum bumiputra dilarang masuk.

Namun, bukan berarti mereka tak dapat mencari dan menerima kedatangan hiburan baru. Kedua suku bangsa, kaum bumiputra dan Belanda terus mencari hiburan baru. Alih-alih menolak, mereka menerima setiap hiburan yang masuk dengan suka cita selama tidak menyimpang.

“Hadirnya pelabuhan Tanjung Priok, jaringan kereta api dan telekomunikasi, serta dibukanya Terusan Suez, Batavia kala itu lebih menarik katimbang Singapura, banyak didatangi pendatang bukan saja dari Belanda, tapi juga dari negara-negara Eropa lainnya. Maka dikenalah kawasan Rijswijk (kini JI Juanda) dan Noordwijk (JI Segara) sebagai kawasan elite dengan mayoritas penduduk orang-orang Eropa.”

“Bersamaan dengan era industrialisasi bermunculanlah tempat-tempat hiburan untuk para elite itu. Seperti Harmonie dan Corcordia, yang keduanya sudah almarhum. Yang tinggal dari tempat hiburan tempo doeloe adalah Princen Park, yang sudah berganti nama menjadi Taman Hiburan Rakyat (THR) Lokasari di Mangga Besar, Jakarta Barat. Letaknya dekat pinggiran kawasan Pecinan atau China Town Glodok,” terang Alwi Shahab dalam buku Betawi: Queen of the East (2002).

Keluwesan Seisi Nusantara menerima hiburan sampai ke telingan pengusaha perfilman di Hindia Belanda, De Nederlandshe Bioscope Maatschappij. Perusahaan itu menganggap pemutaran film pertama kali di Hindia Belanda akan membawa sejarah.

Poster Loetoeng Kasaroeng, film buatan lokal pertama di masa Hindia Belanda yang dirilis tahun 1926. (Wikimedia Commons)

Ajian mengiklankan acara menonton film untuk pertama kalinya dilanggengnya. Surat kabar Bintang Betawi ikut memuat iklan yang dipesan orang belanda untuk pemutaran perdana film dokumenter bisu pada 4 Desember 1900. Isinya menerangkan bahwa pemutaran film pertama kali --judulnya tak diketahui-- akan berlangsung di Bioksop Kebon Jahe sehari setelahnya, atau pada 5 Desember 1900.

Kabar itu menyebar ke seantero Nusantara. Tak hanya Batavia. Era itu bahkan digadang-gadang sebagai bagian dari kemajuan zaman. Kemudian, film mampu menjadi salah satu hiburan unggulan di Hindia Belanda. 

"Besok hari Rabu, 5 Desember 1900, pertunjukan yang besar pertama di dalam satu rumah (bioskop) di Tanah Abang, Kebon Jahe mulai pukul tujuh malam. Harta tempat kelas satu 2 gulden, harga tempat kelas dua 1 gulden, dan harga kelas tiga 0,5 gulden,” tertulis dalam iklan surat kabar Bintang Hindia sebagaimana dikutip M. Sarief Arief dalam buku Politik Film di Hindia-Belanda (2009).