Bagikan:

JAKARTA - Kongres Pemuda II adalah peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kelahiran ikrar Sumpah Pemuda ada di baliknya. Kaum muda berjanji untuk bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu: Indonesia.

Ikrar tersebut dilengkapi dengan kehadiran lagu Indonesia Raya. Lagu gubahan Wage Rudolf (W.R) Soepratman itu jadi 'amunisi' penting melawan penjajah. Semangat Kaum bumiputra mampu terbakar karenanya. Alhasil, Indonesia Raya menjelma sebagai penanda penting perjuangan bangsa.

Era 1920an jadi momen penting perjuangan kaum bumiputra. Pejuang kemerdekaan mulai terang-terangan mengemukakan konsep kemerdekaan kaum bumiputra di Hindia Belanda (kini: Indonesia).

Nyali itu ditunjukkan dengan kehadiran ragam gerakan kaum muda. Keberanian itu terekam jelas dalam momentum Kongres Pemuda I. Kemudian, Kongres Pemuda II. Keduanya menjadi tonggak sejarah penting. Kesadaran nasional, utamanya.

Kaum muda merasa mereka harus bersatu untuk mengubah nasib kaumnya. Ikrar sumpah pemuda pun digelorakan pada Kongres Pemuda II di Batavia (kini: Jakarta), pada 28 Oktober 1928. Ikrar Sumpah Pemuda itu meresap dalam tiap sanubari kaum bumiputra.

Pengibaran bendera Merah Putih saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada 17 Agustus 1945. (Wikimedia Commons)

Apalagi dalam komitmennya, kaum muda dengan lantang berucap bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu: Indonesia. Kejadian bersejarah itu ditutup dengan kehadiran pejuang kemerdekaan cum musisi, W.R. Soepratman.

Alih-alih hanya menyatakan dukungan kepada kaum muda, ia justru menyumbangkan sebuah lagu untuk mengiringi perjuangan kaum bumiputra. Indonesia Raya, namanya. Pun lagu Indonesia Raya yang pertama kali didengarkan di muka umum langsung disambut dengan gegap gempita.

“Sejenak ia tegap berdiri menanti hilangnya suara tepuk tangan. Setelah suasana hening, mulailah ia memperlihatkan kebolehannya dalam bermain biola membawakan lagu ciptaannya. Selama kurang lebih lima menit alunan irama biolanya dengan penuh pesona memukau perhatian para hadirin.”

“Lalu sambil senyum ia membungkuk memberi hormat kepada publik yang menyambutnya dengan tepuk tangan gemuruh. Sebagian ada yang méngiringi dengan suitan, sebagian lagi mengiringi dengan pekikan yang meminta agar diulang. Dengan penuh rasa haru karena telah diberi kehormatan untuk memperdengarkan lagu ciptaan yang diharapkan akan dapat menjadi lagu kebangsaan pada saat yang bersejarah,” tulis Bambang Sularto dalam buku Wage Rudolf Soepratman (2012).

Indonesia Raya dalam Momen Penting

Debut lagu Indonesia Raya pada Kongres Pemuda II mendapatkan respons yang positif. Segenap pejuang kemerdekaan lalu menggunakan lagu Indonesia Raya untuk mengiringi sederet agenda perjuangan. Dari rapat hingga sidang partai kaum bumiputra.

Kaum bumiputra menganggap lagu Indonesia Raya bak memiliki kekuatan magis. Sebab, acap kali lagu itu barhasil membuat pejuang kemerdekaan Indonesia bangkit bersatu melawan Belanda. Pun lagu Indonesia Raya tak kehilangan panggungnya kala kekuasaan Belanda diambil alih oleh Jepang.

Lagu Indonesia Raya sempat diizinkan hadir mengiringi masa penjajahan Jepang. Sekalipun sempat dilarang untuk beberapa waktu. Keluwesan itu membuat lagu Indonesia Raya dikenal di seantero negeri. Pejuang kemerdekaan memiliki tanggung jawab moral untuk mengenalkan lagu Indonesia Raya kepada segala macam elemen masyarakat. Bung Karno, contohnya. Ia aktif mengajarkan anak-anak muda di pengasingan --Ende dan Bengkulu-- untuk menyanyikan Indonesia Raya. 

Alhasil, semangat lagu Indonesia Raya buat seisi Nusantara menjadikan penjajah sebagai musuh bersama. Rapat-rapat pejuang kemerdekaan golongan muda dan tua tak luput mendaulat lagu Indonesia Raya sebagai pembuka atau penutup hajatan. Dalam  gelaran rapat yang dihadirkan oleh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), misalnya.

Partitur lagu Indonesia Raya. (Wikimedia Commons) 

Lebih lagi, lagu ciptaan W.R. Soepratman bahkan ikut mengiringi kenaikan Bendera Merah Putih kala Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Hadirin yang datang ke Jalan Pegangsaan Timur 56 bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya sekalipun tanpa adanya musik.

“Yang agak mencolok adalah bahwa sejak penerimaan lagu Indonesia Raya oleh kongres Pemuda Indonesia, lagu Indonesia Raya itu biasanya lalu dinyanyikan sebelum sidang partai politik dimulai. Pihak Belanda tidak senang akan kebiasaan itu. Oleh karena itu, pemerintah lalu mengeluarkan larangan kepada semua pegawai negeri yang menghadiri rapat partai politik untuk berdiri tegak sebagai tanda penghormatan selama diperdengarkan lagu Indonesia Raya.”

“Biasanya, hadirin dipersilakan berdiri sebelum lagu Indonesia Raya itu dinyanyikan. Para pegawai yang hadir mencari akal untuk mengindari pelanggaran terhadap larangan tersebut. Mereka tetap berdiri sebelum dipersilakan. Dengan jalan demikian, mereka tidak melanggar larangan pemerintah menghormati lagu Indonesia Raya sebagaimana semestinya,” ujar Slamet Muljana dalam buku Kesadaran Nasional: dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008).