Sejarah Hari Ini 12 Juli 1998, Prancis Juara Piala Dunia 1998 dengan Menyisakan Cerita Miring
Zinedine Zidane mencium trofi Piala Dunia didampingi Marcel Desailly (kanan) dan Bixente Lizarazu, usai menang 3-0 atas Brasil dalam final Piala Dunia 1998 di Paris pada 12 Juli. (Four Four Two)

Bagikan:

JAKARTA – Hari ini 24 tahun lalu, tepatnya 12 Juli 1998, Prancis untuk kali pertama menjadi juara Piala Dunia FIFA. Dalam partai final yang digelar di Stade de France, Saint-Denis di pinggiran Paris, tuan rumah Prancis menghancurkan Tim Samba, Brasil dengan skor 3-0.

Piala Dunia 1998 yang digelar di Prancis juga tercatat dalam sejarah sebagai Piala Dunia pertama yang menyertakan 32 tim. Sebanyak 32 tim tersebut dibagi dalam delapan grup. Format 32 tim ini terus dipakai hingga Piala Dunia 2022 yang akan digelar di Qatar pada 21 November hingga 18 Desember mendatang.

Prancis yang untuk kali pertama menjadi tuan rumah, namun sudah 10 kali masuk putaran final Piala Dunia saat itu diperkuat sejumlah talenta hebat. Mulai dari kipper berkepala pelontos, Fabien Barthez, bek Laurent Blanc, gelandang Zinedine Zidane, hingga penyerang Thierry Henry. Semua talenta hebat itu diramu menjadi kekuatan superior oleh pelatih Aime Jacquet.

Timnas Prancis di Piala Dunia 1998. (90min.com)

Sebagai tuan rumah, Prancis jelas diunggulkan. Mereka lolos dari grup C dengan mulus, menang terus tanpa kalah. Masing-masing 3-0 atas Afrika Selatan, 4-0 atas Arab Saudi, dan 2-1 atas Denmark.

Di babak 16 besar Prancis menyingkirkan Paraguay 2-1, lantas menang adu penalti 4-3 atas Italia di perempat final. Melangkah ke semifinal, Prancis juga masih perkasa dengan menundukkan Kroasia 2-1.

Duel Final Lawan Brasil

Sebaliknya, Brasil sebagai lawan di final sempat tak mulus di pertandingan awal. Meskipun diperkuat salah satu pesepak bola paling hebat di dunia, The Phenomenom Ronaldo Luis Nazario de Lima, Brasil sempat terseok di penyisihan grup karena kalah 1-2 dari Norwegia.

Meskipun begitu, Tim Samba masih berhasil memimpin grup A dan lolos ke babak gugur. Di 16 besar Chile ditaklukkan 4-1. Lolos ke perempat final, giliran Denmark dikalahkan 3-2. Pertarungan klasik di semifinal melawan Tim Oranye Belanda dimenangi Brasil 4-2 lewat adu penalti.

Tibalah duel melawan tuan rumah Prancis di partai final. Stadion penuh, disesaki 75 ribu penonton. Cuaca cerah dengan suhu nyaman, 23 derajat Celcius. Pertandingan puncak tersebut dipimpin wasit asal Maroko, Said Belqola.

Gelandang serang keturunan Aljazair yang saat itu berusia 25 tahun, Zinedine Zidane menjadi pusat perhatian. Zidane yang ketika itu bermain untuk klub legendaris Italia, Juventus, sebenarnya tampil tidak mencolok di babak-babak penyisihan. Namun di final, dia menjelma menjadi penentu segalanya.

Dua gol dia cetak ke gawang Brasil yang dikawal Claudio Taffarel. Masing-masing lewat sundulan kepala pada menit ke-27 memanfaatkan tendangan sudut dari Emmanuel Petit, dan menit ke 45+1 yang juga dia lakukan dengan memanfaatkan sepak pojok. Petit, pemain berambut dikuncir yang memperkuat Arsenal, mencetak gol terakhir pada menit 90+3.

Keracunan dan Kecurangan

Setelah pesta kemenangan berakhir, giliran cerita miring yang tersisa dari final Piala Dunia 1998 itu mengemuka. Banyak teori yang mengiringi kekalahan Brasil dari Prancis. Salah satunya tentang kondisi Ronaldo yang tidak fit menjelang final.

Pemain yang saat itu berusia 21 tahun dan membela Inter Milan dikabarkan terus menerus menelan pil pereda nyeri, sejak pertandingan penyisihan grup A melawan Maroko pada 16 Juni. Ronaldo mengalami cedera lutut dalam laga tersebut.

“Kami terus mengawasinya karena dia menderita cedera dan terus menerus mengeluhkan rasa sakit. Maka dalam setiap pertandingan, kami memberinya tablet,” kata Joaqui Da Mata, salah satu dokter Tim Brasil saat itu kepada The Independent pada 6 Agustus 1998.

Roberto Carlos, bek Brasil yang tinggal sekamar dengan Ronaldo saat Piala Dunia Prancis 1998 menceritakan dalam wawancara dengan BBC, bahwa The Phenomenom begitu tertekan setelah kekalahan di partai final.

Ronaldo tertunduk lesu setalah Brasil dikalahkan Prancis 0-3 di final Piala Dunia 1998. (Four Four Two)

“Ronaldo sangat ketakutan soal masa depannya setelah kekalahan itu. Dia sangat tertekan dan tidak berhenti menangis. Pada pukul empat sore dia mulai kelihatan sakit. Tubuhnya kejang dan mulutnya berbusa,” ujar Carlos, dalam wawancara dengan BBC pada 2 April 2002.

Banyak spekulasi setelah itu. Ada yang menyebut Ronaldo diracun sehingga tidak mampu tampil maksimal. Ada juga yang mengatakan dia sedang mempunyai masalah pribadi dengan kekasihnya, sampai mengganggu konsentrasinya.

Hingga 72 menit sebelum kick off final Piala Dunia 1998, nama Ronaldo belum masuk dalam daftar pemain yang disusun pelatih Mario Zagalo. Namun kemudian namanya dimasukkan di menit-menit terakhir menjelang daftar pemain diserahkan.

Cerita miring dari kubu Prancis pun ada. Cerita itu malah datang dari mantan bintang sepak bola Prancis yang lantas menjadi Presiden UEFA, Michel Platini.

Michel Platini, mengakui ada sedikit kecurangan dalam pengaturan jadwal Piala Dunia 1998. ([email protected])

“Menjadi juara Piala Dunia adalah impian semua orang. Kami melakukan sedikit tipuan dengan mengatur jadwal pertandingan. Jadi kami melakukannya agar jika Prancis dan Brasil menjadi unggulan pertama, tidak akan bertemu sebelum partai final. Kami bermain di kandang, sehingga harus memanfaatkan banyak hal,” kata Platini dalam wawancara dengan ESPN pada 18 Mei 2018.

“Mustahil jika kami selama enam tahun mempersiapkan Piala Dunia tidak berpikir untuk sedikit curang. Apakah Anda pikir negara tuan rumah lain tidak melakukan hal yang sama?” ujar Platini lagi.

Platini saat itu mengorganisasi Piala Dunia 1998 bersama mantan Presiden Sepak Bola Prancis, mendiang Fernand Sastre. Prancis memang sukses besar menjadi juara, namun menyisakan kisah miring. Itulah salah satu catatan sejarah hari ini, 12 Juli 1998 di olahraga dunia.