Sejarah Hari Ini, 14 Maret 1998: Kabinet Pembangunan VII yang Hanya Berumur Dua Bulan Diumumkan Presiden Soeharto
Presiden Soeharto dan Kabinet Pembangunan VII berpose setelah dilantik pada 16 Maret 1998. Kabinet ini bubar 21 Mei 1998 berbarengan dengan pengunduran diri Soeharto sebagai Presiden. (Foto: Wikipedia)

Bagikan:

JAKARTA - Hari ini 24 tahun yang lalu, 14 Maret 1998, Presiden Soeharto mengumumkan susunan kabinet baru. Kabinet Pembangunan VII, namanya. Kabinet ini sengaja dibentuk Soeharto untuk mengakhiri dampak dari krisis ekonomi 1997-1998. Soeharto ingin supaya penderitaan rakyat segera berakhir. Hasilnya, sebaliknya. Golongan menengah ke atas –termasuk kroni Soeharto-- tak tampak memperlihatkan simpatinya kepada rakyat kecil. Rakyat pun berang. Soeharto lengser karenanya.

Resesi ekonomi era 1997-1998 adalah periode terberat dalam sejarah bangsa. Rupiah yang jadi cerminan harga diri bangsa jatuh dalam level terendah. Satu dolar AS, yang awalnya bernilai Rp2.000 menjadi Rp15.000. Kondisi itu makin berat karena Indonesia masih bergantung pada sederet produk impor.

Beberapa barang impor, seperti pangan, buah-buahan, bahan bakar, mesin, sepeda, hingga komputer. Sederet produk itu mengalami kenaikan signifikan. Ambil contoh komputer, yang sebelum resesi berharga Rp1 juta naik sepuluh kali lipat.

Spekulasi soal penyebab resesi bermunculan. Tiap ahli bahkan mengungkap pandangan masing-masing. Garis besar ragam argumen itu menyimpulkan resesi tak terjadi mendadak. Resesi muncul dari pergeseran kekuasaan politik dan sosial yang terjadi di Indonesia sejak 1980-an. Persoalan itu memicu utang tinggi dan mengubah haluan sistem perbankan jadi lebih liberal.

Presiden Soeharto dan putri sulungnya, Siti Hardijanti Rukmana yang diangkat sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Pembangunan VII. (Foto: Wikimedia Commons)

 

Segala sektor jadi terkena imbasnya. Sederet perusahaan dan pabrik kemudian berlomba-lomba mengurangi pekerjanya. Bahkan, tak jarang sederet perusahaan itu ikut gulung tikar. Kerugian yang terus-menerus jadi muaranya. Apalagi kebanyakkan materialnya tergantung dengan impor luar negeri. Segenap rakyat pun merasakan merananya diterpa badai resesi.

“Betapa buruknya kondisi perekonomian Indonesia bagaikan sebuah pesawat terbang yang sedang mengalami super stall (menukik tajam karena kehilangan daya angkat). Saya harus sekuat tenaga menggunakan instrumen agar pesawat bisa memutar cepat untuk mencegahnya menghunjam ke bumi (dalam wujud hiperinflasi).”

“Kini pesawat yang nyaris menghunjam ke bumi itu sudah terbang dalam posisi mendatar. Maka jangan tendang-tendang kursi pilot. Jangan paksa orang lain mengambil. Don’t do that, karena pilot sudah bertindak benar. Saya butuh tiga tahun untuk menerbangkan pesawat ke ketinggian. Tapi saya tidak mau jual kecap,” ungkap Bacharuddin Jusuf Habibie menggambarkan dampak resesi sebagaimana dikutip A. Makmur Makka dalam buku The True Life of Habibie (2008).

Kondisi perokonomian yang buruk itu membuat Presiden Soeharto ambil kendali. Ia segera bersiasat. Ia menjadikan pembentukan kabinet baru sebagai solusi. Kabinet Pembangunan VII, namanya. Kabinet ini didominasi oleh orang-orang baru. Sekalipun banyak nama-nama lama yang bertahan. Seperti Menteri Luar Negeri, Ali Alatas yang telah menjabat untuk ketiga kalinya.

Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran diri sekaligus pembubaran Kabinet Pembangunan VII pada 21 Mei 1998. (Foto: Wikimedia Commons)

Di mata pemerintah, Kabinet Pembangunan VII adalah sebuah solusi. Namun, tidak bagi segenap rakyat Indonesia. Kabinet itu justru dianggap tak mencerminkan niat serius Soeharto melakukan reformasi. Kabinet Pembangunan VII takkan mampu menghadapi masalah besar: krisis ekonomi. Ramalan itu benarnya adanya. Tak lama setelah Kabinet Pembangunan dibangun, Soeharto lengser pada 21 Mei 1998.

“Kabinet Pembangunan VII yang dibentuk Soeharto tanggal 14 Maret dinilai tidak mencerminkan niat serius Presiden Soeharto melakukan reformasi. Terdapat sejumlah wajah baru dalam kabinet itu, tetapi wajah-wajah baru itu justru memperberat ciri KKN yang sudah amat serius sejak kabinet sebelumnya.”

“Masyarakat percaya bahwa susunan Kabinet Pembangunan VII demikian tidak bakal dapat mengatasi masalah besar yang dihadapi, yaitu krisis ekonomi. Susunan kabinet baru justru meyakinkan masyarakal bahwa Soeharto sama sekali tidak mendengarkan aspirasi mahasiswa dan masyarakat luas tentang reformasi ekonomi, politik dan hukum,” tutup Muhamad Hisyam dalam buku Krisis Masa Kini dan Orde Baru (2003).

 

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya Tifada.