Seabad Soeharto: Kisah Hidup, Karier Militer, dan Segala Kontroversi Sang Presiden 32 Tahun dalam Sejarah Hari Ini 8 Juni 1921
Mantan Presiden RI Soeharto (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Soeharto lahir 8 Juni 1921 di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Hari ini adalah seratus tahun atau seabad sejak kelahirannya. Seperti apa perjalanan hidup Soeharto? Menjabat 32 tahun, Soeharto catatkan namanya dalam sejumlah momen sejarah penting. Apa saja? Kami himpun beberapa di antaranya.

Orang tua Soeharto bernama Sukirah dan Kertosudira. Soeharto memulai karier militernya di tahun 1942.

Ketika itu ia diterima jadi tentara Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL). Petrik Matanasi dalam buku Pribumi Jadi Letnan KNIL adalah tentara Kerajaan Hindia-Belanda yang dibentuk pemerintah kolonial untuk menghadapi perlawanan lokal.

Ketika Belanda cabut dari Indonesia dan kekuasaan berpindah ke tangan Jepang, Soeharto bergabung bersama satuan militer bentukan Jepang, PETA. Sebelum akhirnya bergabung dengan PETA, Soeharto sempat mengalami periode suram.

Di tahun 1942 Soeharto sempat berjudi. Soeharto yang memang dikenal mahir dalam permainan kartu. Soeharto kerap bermain cemeh dengan kartu Londo.

Cemeh adalah permainan judi dengan kartu kecil, biasanya domino. Dalam cemeh, setiap pemain memegang dua kartu. Sementara, yang dimaksud kartu londo adalah remi.

Selain kemampuan berhitung yang mumpuni Soeharto juga memiliki intuisi yang terasah. Modal penting dalam perjudian.

“Waktu mulai main cemeh itu saya hanya punya uang 1 gulden,” tutur Soeharto dalam otobiografi, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989). 

Dikutip dari Tirto.id, Soeharto setidaknya kala itu menang sampai 50 gulden. Tapi Soeharto tidak menghabiskan uang itu untuk berfoya-foya.

Soeharto menggunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan dasar hariannya dan “Uang itulah yang saya pergunakan bersama Amat Sudono pulang ke kampung,” tutur dia.

Kisah cinta dengan Bu Tien

Soeharto dan Tien (Sumber: Commons Wikimedia)

Kisah menarik lain dari Soeharto muda adalah kisah cintanya dengan Siti Hartinah alias Tien Soeharto alias Ibu Tien. Tien mengisi sebagian besar kehidupan Soeharto. Banyak kisah yang terjalin antara keduanya.

Soeharto dan Tien pertama kali bertemu di Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah kala keduanya masih remaja. Tien dan keluarganya saat itu memang menetap di sana. Sementara, Soeharto baru pindah dari Desa Kemusuk di Yogyakarta untuk bersekolah.

Di Wuryantoro Soeharto tinggal di rumah pamannya, Prawirohardjo. Sebagaimana dipaparkan dalam artikel MEMORI berjudul Pahit Manis Kisah Cinta Pak Harto dan Bu Tien, di sekolah itulah Soeharto melihat Tien, adik kelasnya. Ia dibuat jatuh cinta oleh Tien.

Menurut cerita adik tiri Soeharto, Probosutedjo, seperti dicatat Alberthiene Endah dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto, Soeharto bahkan sempat merasa minder karena perbedaan status sosial.

Tien, kala itu dikenal sebagai remaja putri dari kalangan ningrat Mangkunegaran. Beberapa tahun kemudian, saat perang berkecamuk, Soeharto yang sudah menyandang pangkat letnan kolonel, ditemui bibinya, istri Prawirowihardjo.

Sang bibi ternyata berinisiatif menjodohkan Soeharto dengan Tien. Gayung bersambut. Cinta mereka akhirnya berlabuh dalam sebuah pernikahan yang digelar pada 26 Desember 1947 di Surakarta.

Cinta Soeharto pada Tien dibayar dengan kesetiaan besar. Kesetiaan yang berbalas. Cinta antara keduanya lekang hingga maut memisahkan. Ada sebuah kisah memilukan terjadi ketika Tien meninggal.

Tien meninggal pada 25 April 1996 di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Menurut kabar resminya, wanita berlesung pipit itu meninggal terkena serangan jantung.

Saat itu, tameng kokoh pertahanan jenderal yang terkenal dengan ketegasannya ini roboh. Soeharto bahkan terlihat limbung saat sang belahan jiwa pergi meninggalkannya untuk selamanya.

"Piye to, kok ora bisa ditulung? (bagaimana sih kok tidak bisa ditolong?)" kata Soeharto ketika menghadapi kenyataan baru saja kehilangan istrinya seperti tertulis pada buku Pak Harto: The Untold Stories.

Kontroversi karier militer dan politik

Mantan Presiden RI Soeharto (Sumber: Commons Wikimedia)

Pembantaian 1965-1966

Perkembangan karier militer Soeharto mulai menemukan titik signifikan selepas Indonesia merdeka, tepatnya di tengah gejolak politik tahun 1965. Sejarah-sejarah nan kontroversial tercatat di masa-masa itu. Soeharto, yang kala itu berpangkat Mayor Jenderal disebut mengkoordinir operasi pembantaian pada periode 1965-1966.

Hal itu terungkap melalui sejumlah dokumen yang dituangkan ke dalam buku berjudul The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder yang disusun Jess Melvin, sejarawan dari Sydney Southeast Asia Centre.

Menurut dia, merujuk dokumen itu, dapat diketahui bagaimana "militer mengaktifkan rantai komando militer yang telah dibentuk sebelum tanggal 1 Oktober (1965) untuk melakukan apa yang digambarkan sebagai operasi pembasmian."

"Keadaan darurat militer diterapkan di Sumatra, di mana komando ini beroperasi. Tanggal 4 Oktober, sekarang kita mengetahui militer melangkah lebih jauh, memerintahkan warga sipil untuk bergabung."

"Pada tanggal 14 Oktober, dibuat Ruang Yudha untuk mengoordinasikan operasi penumpasan ini," tertulis dalam buku tersebut.

Operasi pembasmian ini dijalankan lewat berbagai rantai komando, baik secara teritorial maupun struktural, mulai dari Kodam, KOTI, RPKAD dan Kostrad. "Segalanya dikoordinir langsung oleh Soeharto di pusat," Jess memaparkan.

Gulingkan Soekarno lewat Supersemar

Masih di periode itu juga, sejarah besar lain dicatat Soeharto: kelahiran Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966. Keberhasilan Soeharto mengatasi Gerakan 30 September 1965 atau biasa disebut G30S/PKI membuatnya diserahi tugas sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib).

Soeharto lalu dilantik sebagai Panglima TNI AD. Pada Jumat 11 Maret 1966, Presiden Soekarno memimpin sidang Kabinet Dwikora yang Disempurnakan (Kabinet 100 Menteri) di Istana Merdeka, Jakarta. Namun Presiden Soekarno meninggalkan sidang lebih awal dan diungsikan ke Istana Bogor dengan helikopter.

Sebagaimana dipaparkan dalam artikel MEMORI berjudul Supersemar Dikeluarkan, Soekarno Digulingkan, Sang Proklamator terbang bersama Wakil Perdana Menteri I Soebandrio dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh. Sidang pelantikan lalu ditutup oleh Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena yang kemudian menyusul ke Bogor.

Istana Bogor (Sumber: Commons Wikimedia)

Diketahui penyebab diungsikannya Soekarno adalah karena tersiar kabar bahwa selain demo mahasiswa, ada sekelompok pasukan tak dikenal di sekitar Monas. Keadaan tersebut lalu dilaporkan kepada Letjen Soeharto yang tidak hadir dalam sidang yang mengaku sedang sakit. Tidak adanya Soeharto mengakibatkan tidak terhalaunya pasukan tersebut.

Mengutip Supersemar: Sejarah dalam Balutan Kekuasaan oleh Hendra Kurniawan yang diterbitkan di Bernas Jogja, ketiga jenderal, yaitu Basuki Rachmat, Amir Machmud, dan M. Jusuf berhasil berada di Istana Kepresidenan. Mereka meyakinkan Soekarno untuk mengeluarkan suatu surat perintah kepada Letjen Soeharto untuk mengamankan situasi atau surat ini dikenal Supersemar.

Surat itu lalu ditandatangani, kemudian diterima oleh Letjen Soeharto. Sejak itu, jalan politik Indonesia berubah. Alih-alih menertibkan keadaan, Soeharto mengandalkan Supersemar untuk hal lain. Tidak membutuhkan 24 jam setelah ditandatanganinya surat tersebut, Soeharto membubarkan PKI dan menangkap 15 orang menteri. Soeharto juga diketahui menyingkirkan orang-orang pendukung Soekarno dari lingkaran kekuasaan.

Soeharto perlahan mempreteli kekuasaan Soekarno. Hingga akhirnya berhasil menjadi Presiden Kedua Republik Indonesia dan memerintah selama 32 tahun.

Digulingkannya Soeharto

Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun menjabat Presiden RI (Sumber: Commons Wikimedia)

Tanggal 21 Mei 1998, tepatnya pukul 09.00 WIB adalah titik balik bagi masyarakat Indonesia. Setelah memimpin selama 32 tahun, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.

Sebelum mengundurkan diri, banyak aksi dan peristiwa yang mendesak Soeharto untuk menanggalkan jabatannya. Pada 12 Mei terdapat Tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa dalam aksi demonstrasi.

Lalu, ada aksi pada 18 Mei 1998, di mana massa dari kalangan mahasiswa yang berhasil menguasai kompleks gedung MPR/DPR. Rentetan tekanan itu mendesak leher kekuasaan Soeharto.

*Baca Informasi lain soal SOEHARTO atau baca tulisan menarik lain dari Detha Arya TifadaPutri Ainur Islam juga Yudhistira Mahabharata.

 

 

SEJARAH HARI INI Lainnya