Empat Mahasiswa Trisakti Tewas Tertembak saat Demo dalam Sejarah Hari Ini, 12 Mei 1998
Ilustrasi (Sumber: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Hari ini, 12 Mei 1998, tepat 23 tahun yang lalu empat mahasiswa Trisakti tewas tertembak di dalam kampus tatkala melakukan unjuk rasa menentang pemerintahan Soeharto. Potret kekejaman aparat kepada mahasiswa yang dikenal sebagai Tragedi Trisakti ini jadi sorotan internasional. Tragedi Trisakti menjadi simbol dan penanda perlawanan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Baru (Orba).

Sejak awal Maret 1998, segenap mahasiswa dan elemen pro-demokrasi telah menggelorakan aksi turun ke jalan. Aksi itu bertujuan untuk menuntut reformasi. Penyebabnya, karena pemerintah Orba kerap kali memperlihatkan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Alhasil, rakyat Indonesia jadi korban dari krisis moneter.

Segenap aksi mahasiswa tumpah ke jalan termasuk para civitas akademika Universitas Trisakti. Padahal waktu itu, Trisakti bukan kampus yang diperhitungkan rekam jejaknya dalam peta demonstrasi nasional. Koresponden luar negeri The Times (London), Richard Lloyd Parry mengamani hal itu. Perry beranggapan sedari awal Maret hampir tak ada media-media besar ibu kota yang mencatat kehadiran Trisakti. Apalagi, Trisakti saat itu terkenal kampusnya para borjuis.

“Universitas Trisakti berada di jalan menuju bandara; ini adalah pertama kalinya saya mendengar nama itu, dan sebelumnya tak ada seorang pun di Indonesia yang memberi perhatian besar kepadanya. Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta dan Universitas Indonesia di Jakarta: mereka adalah kampus para aktivis, universitas-universitas yang ‘ngetop’. Trisakti adalah universitas swasta, oleh karenanya mahal, dan sekuler, tanpa fokus identitas religius seperti kampus-kampus Islam,” ungkap Richard Lloyd Parry dalam Zaman Edan: Indonesia di Ambang Kekacauan (2008).

“Mahasiswanya adalah anak-anak pejabat pemerintah, pengusaha, dan pejabat militer yang sadar-gaya, hampir tak ada yang memandang mereka sebagai hero dan martir. Universitas Trisakti adalah tempat bagi para model yang suka bergaya. Tapi, tak ada yang lebih gaya di Indonesia pada masa itu selain protes,” kata Parry.

Kronologi

Boleh jadi mahasiswa Trisakti luput dari pemberitaan. Faktanya, mereka telah berkali-kali melakukan aksi menuntut Soeharto turun, termasuk pada tanggal 12 Mei. Melansir Kompas aksi itu diikuti oleh mahasiswa, dosen, pegawai, dan para alumni Universitas Trisakti sedari pukul 11:00 WIB di halaman parkir kampus. Awalnya aksi itu berlangsung damai dengan agenda aksi mendengar orasi dari Jenderal Besar A.H. Nasition.

Ketidakhadiran A.H. Nasution, menjadikan mimbar aksi diisi oleh orasi dari guru besar, dosen, dan mahasiswa Trisakti dalam berbagai bentuk. Setelah pukul 13:00, peserta aksi keluar dari kampus menuju ke Jalan S Parman, Grogol dan hendak menuju gedung MPR/DPR Senayan. Mereka yang berada paling depan adalah para mahasiswi yang membawa mawar dan membagikannya pada aparat kepolisian. Senafas dengan itu, pimpinan mahasiswa para alumni dan petugas keamanan membuat kesepakatan aksi damai itu hanya bisa bergerak sampai di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Kesempakatan itu membuat para mahasiswa tidak boleh melanjutkan perjalanan. Setelahnya, mahasiswa kemudian menggelar mimbar bebas. Hingga pukul 17:00 WIB, aksi damai berjalan tenang tanpa ketegangan antara mahasiswa dan aparat keamanan. Bahkan, para mahasiswa dan aparat tampak bercanda. Mereka saling membagi air minum. Mereka juga ikut berfoto bersama. Sampai akhirnya aksi sepakat disudahi.

Rombongan mahasiswa lalu mencoba membubarkan diri. Namun, pembubaran itu berjalan lambat karena pintu masuk kampus yang sangat kecil. Kala mahasiswa yang masuk sudah mencapai 70 persen. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar letusan senjata aparat keamanan. Mahasiswa langsung lari ke segala arah. Beberapa yang tak sempat lari dipukuli petugas.

Mahasiswa  tak tinggal diam. Mereka melakukan perlawanan dengan melempari para petugas. Perlawanan itu dibalas oleh aparat keamanan dengan melepaskan gas air mata dan menembaki para mahasiswa yang telah berada di dalam kampung. Atas aksi tersebut empat mahasiswa Trisakti meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

“ Tanggal 12 Mei, terjadi tragedy Trisakti, yang membuat gugur empat mahasiswa pejuang reformasi, yang terhembus oleh peluru-peluru biadab, yang notabene dibayar dengan uang masyarakat,” ujar Amien Rais dalam Sikap Kami (1999).

Tercatat, Tragedi Trisakti menelan empat nyawa yang namanya abadi hingga kini. Mereka antara lain Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur), Hafidhin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil), Hery Hartanto (Fakultas Teknologi Industri), dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi).

Siapa tanggung jawab?

Tragedi “berdarah” Trisakti itu kemudian menjadi salah satu contoh kasus pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Jaminan hak asasi manusia yang dilanggar adalah jaminan hak untuk hidup. Yang mana, jaminan hak asasi tersebut hadir dalam UUD 1945 Pasal 28A. Bunyi pasal tersebut ta lain: Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Mereka yang terlibat antara lain aparat keamanan mulai dari anggota polisi dan militer/ABRI. Mereka disinyalir merenggut hak hidup mahasiswa Trisakti dengan cara menginjak, memukuli, dan menembak mahasiswa secara brutal. Panglima TNI kala itu, WIranto masih menyalahkan “oknum-oknum” tertentu, yaitu orang-orang Prabowo Subianto atau Mayor Jenderal TNI Muchdi Purwoprandjono.

“Peristiwa tersebut telah digunakan untuk melakukan pembersihan internal secara besar besaran, yang resminya disebut ‘konsolidasi internal.’ Namun, ternyata, konsolidasi tersebut hanya menyingkirkan beberapa perwira yang dulu dianggap dekat dengan Prabowo, sedangkan sikap mental prajurit ABRI yang tetap menjabat tidak ikut direformasi. Wiranto, khususnya, tampak tak bisa meninggalkan paradigma lama yang dipelajarinya sebagai ajudan Soeharto,” tulis Marcus Mietzner dalam tulisannya di Majalah Tempo (1998).

 

SEJARAH HARI INI Lainnya