Pertama Kalinya Non-Jepang Mendapatkan Peringkat Tertinggi Sumo, dalam Sejarah 25 Januari 1993
Akebono saat pensiun sebagai pegulat sumo. (Foto: Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 25 Januari 1993, atlet sumo asal Amerika Serikat (AS), Chad Rowan, menjadi pegulat sumo non-Jepang pertama yang menjadi yokozuna, peringkat tertinggi olahraga tersebut. Rowan yang berasal dari Hawaii dan berusia 23 tahun saat itu, menjadi orang ke-64 yang memegang peringkat teratas dalam sumo, olahraga nasional Jepang.

Mengutip History, Rowan kemudian menggunakan nama Jepang-nya, Akebono Taro, yang berarti 'Matahari Terbit' atau 'Fajar.' Akebono memiliki tinggi badan 2,03 meter dan berat 233 kg. Di tahun terakhir sekolah menengah, Akebono baru menggeluti bola basket. Dia kemudian berhasil mendapatkan beasiswa bola basket ke Hawaii Pacific University. Namun, ia berhenti basket dan putus kuliah untuk mengejar karier di sumo.

Dengan memanfaatkan tingginya, Akebono Taro kemudian menyempurnakan gaya menyodor, menghasilkan kekuatan yang sangat besar dan cukup membuat lawan terbang keluar dari ring. Setelah melewati peringkat yang lebih rendah dan membuat rekor di sepanjang perjalanannya, Akebono bergabung dengan divisi senior pada 1990.

Pada 1992, Akebono memenangkan dua kejuaraan turnamen. Setelah memenangkan kejuaraan kedua berturut-turut pada awal 1993, ia dipromosikan menjadi yokozuna. Dia kemudian memenangkan empat dari delapan kejuaraan. Namun, pada pertengahan 1994, cedera mulai mengganggunya. Dia terpaksa melewatkan banyak turnamen. Terlepas dari kemunduran itu, dia terus kembali ke dohyƍ (cincin sumo).

“Akebono masih muda dan tidak perlu terburu-buru untuk promosi. Dia seharusnya memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar sumo dan membangun martabat,” kata Gubernur Tokyo Shinichi Suzuki.

Akebono kemudian hanya berkata, “Saya akan melakukan yang terbaik untuk berlatih dengan baik dan memenuhi harapan semua orang.”

Akebono pensiun dari sumo pada 2001. Ia pensiun dalam keadaan memenangkan 11 kejuaraan. Total ada 566 kemenangan, 198 kekalahan di level makuuchi dan 122 rekor sebagai yokozuna. Selain itu, Akebono dianugerahi empat Outstanding Performance dan dua hadiah Fighting Spirit.

Patung Akebono di Hawaii. (Foto: Wikimedia Commons)

Di samping itu semua, Akebono terus menjaga martabatnya sebagai yokozuna dengan tidak secara signifikan mengubah gaya hidupnya, walaupun dia begitu tenar. Akebono juga menghindari keramaian jika memungkinkan. Meskipun ia resmi menjadi warga negara Jepang pada 1996, Akebono tetap menunjukkan identitasnya sebagai orang Amerika.

Setelah pensiun, Akebono mejadi pelatih sumo selama dua tahun. Ia kemudian berpartisipasi dalam kickboxing profesional dan kompetisi seni bela diri campuran. Dia juga sesekali bertanding sebagai pegulat profesional.

Sekilas tentang Sumo

Mengutip Japanistry, Sumo konon berakar pada tarian ritual Shinto di mana orang-orang paling berkuasa menunjukkan kekuatan mereka di depan dewa atau roh sebagai tanda hormat dan terima kasih untuk membawa hasil panen yang baik. Kemudian digunakan sebagai cara untuk membandingkan kekuatan dan menentukan petarung yang paling mahir dalam pertarungan tangan kosong.

Pada periode Edo, pegulat sumo profesional muncul dari barisan amatir dan kompetisi reguler mulai diadakan. Petarung terbaik mulai mendapatkan status seperti selebritas dan popularitas, sumo pun dengan cepat menyebar. Pegulat sumo juga dikenal sebagai rikishi.

Terdapat enam peringkat dalam sumo, yaitu maku-uchi, juri, makushita, sandam, jonidan, dan jonokuchi. Pesumo baru berada dalam peringkat jonokuchi atau peringkat paling bawah.

Peringkat tertinggi dalam sumo adalah yokozuna, biasanya dicapai dengan memenangkan dua honbasho (turnamen besar yang menentukan peringkat) secara berturut-turut. Hingga Juli 2021, terdapat 73 yokozuna yang tercatat dalam sejarah sumo. Hal tersebut membuktikan bahwa peringkat yokozuna tidaklah mudah untuk diraih. 

*Baca Informasi lain soal SEJARAH HARI INI atau baca tulisan menarik lain dari Putri Ainur Islam.

 

SEJARAH HARI INI Lainnya